Kamis, 01 Desember 2016

Kalibrasi dalam aplikasi pestisida



KALIBRASI DALAM APLIKASI PESTISIDA
 (Praktikum Bioekologi Hama Tumbuhan)







Oleh
nbn
Irvan Saputra
1414121114
Kelompok 10



Description: unila logo


JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015




I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pestisida adalah substansi kimia yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan berbagai hama. Kata pestisida berasal dari kata pest yang berarti hama dan cida berarti pembunuh. Jadi secara sederhana pestisida diartikan sebagai pembunuh hama. Yang dimaksud hama bagi petani sangat luas, yaitu tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi, bakteri dan virus, kemudian nematoda, siput, tikus, burung, dan hewan lainnya yang dianggap mengganggu.
Alat yang digunakan dalam aplikasi pestisida tergantung formulasi yang digunakan. Pestisida yang berbentuk butiran untuk menyebarkannya tidak membutuhkan alat khusus, cukup dengan ember atau alat lainnya yang bisa dugunakan untuk menampung pestisida tersebut dan sarungtangan agar tangan tidak berhubungan langsung dengan pestisida. Pestisida berwujud cairan (EC) atau bentuk tepung yang dilarutkan (WP atau SP) memerlukan alat penyemprot untuk menyebarkannya. Sedangkan pestisida yang berbentuk tepung hembus bisa digunakan alat penghembus. Pestisida berbentuk fumigant dapat diaplikasikan dengan alat penyuntik, misalnya alat penyuntik tanah untuk nematisida atau penyuntik pohon kelapa untuk jenis insektisida yang digunakan memberantas penggerek batang (Djojosumarto, 2000).
Faktor utama yang dapat menyebabkan aplikasi pestisida kurang tepat dalam aplikasi pestisida adalah kalibrasi. Namun sebelum melakukan kalibrasi alat, hal yang penting yang harus dilakukan adalah menghitung jumlah insektisida yang diperlukan pada areal tertentu yang dikenal dengan volume semprot. Volume semprot adalah banyaknya cairan yang dibutuhkan untuk mengaplikasikan


insektisida secara merata pada areal tertentu. Dengan demikian,  percobaan kalibrasi dalam aplikasi pestisida ini penting untuk dilakukan.
1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui banyaknya cairan semprot yang dikeluarkan oleh alat semprot.
2.      Mampu melaksanakan kalibrasi dengan prosedur yang benar dan tepat.
3.      Mengetahui metode praktis yang digunakan saat kalibrasi.



II. METODOLOGI PRAKTIKUM

2.1 Alat dan Bahan
Peralatan dan bahan-bahan yang digunakan pada saat praktikum berlangsung antara lain:
1.     Knapsack
2.      Berbagai tipe nozel
3.      Tali
4.      Meteran
5.      Gelas ukur 1000 ml
6.      Ember plastik
7.      Stopwatch
8.      Air

2.2 Prosedur Kerja
Penentuan kecepatan jalan:
a.    Diletakkan alat semprot kepunggung dan lakukan penyemprotan sambil berjalan secara teratur sejauh 3 meter, kemudian kembali ke titik awal.
b.    Dihitung waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak 3 meter dengan menggunakan stopwatch.
c.    Dihitung kecepatan jalan

Penentuan kecepatan curah semprot;
a.    Memasukkan air kedalam alat semprot dan melakukan pemompaan secukupnya kemudian lakukan penyemprotan ke dalam ember plastik selama 1 menit.
b.   Mengukur jumlah larutan yang keluar selama satu menit dengan menggunakan gelas ukur.


III. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHSAN


3.1 Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
3.1.1 Metode Luas
Air yang digunakan (L)
Air sisa (L)
Air terpakai (L)
Volume semprot
3
2,52
0,48
1.6001

3.1.2 Metode Waktu
Debit nozel (ml/menit)
Waktu yang digunakan (ha/menit)
Jarak yang ditempuh (ha/m)
Kecepatan jalan (m/menit)
1,21
1.333,33
10.000
7,5


3.2 Pembahasan
Kalibrasi pada dasarnya adalah suatu kegiatan untuk mencari hubungan antara nilai yang ditunjukkan oleh alat ukur dengan nilai-nilai yang sudah diketahui, yang berkaitan dengan besaran yang diukur dalam kondisi tertentu, atau bisa dikatakan kalibrasi sebagai suatu kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional nilai penunjukan alat ukur dan bahan ukur dengan cara membandingkan terhadap standar yang tertelusur.
Faktor utama yang dapat menyebabkan aplikasi pestisida kurang tepat dalam aplikasi adalah kalibrasi. Namun sebelum melakukan kalibrasi alat, hal yang penting yang harus dilakukan adalah menghitung jumlah insektisida yang diperlukan pada areal tertentu yang dikenal dengan volume semprot. (Sukma, 1991).


Dosis aplikasi pestisida adalah jumlah pestisida yang diaplikasikan untuk mengendalikan  OPT pada setiap satuan luas bidang sasaran, misalnya liter produk pestisida per hektar, kilogram pestisida per hektar, dan sebagainya.untuk fumigasi ruangan dosis adalah jumlah fumigan yang diaplikasikan untuk setiap satuan volume ruang sasaran (Djojosumarto, 2004). 
Pada penyemprotan tanaman pohon dosis adakalanya dinyatakan dalam jumlah produk per pohon.dosis dapat dinyatakan dalam dosis produk atau dosis bahan aktif. maka untuk mengubah ke dosis produk harus dikonversikan dengan kandungan bahan aktif produk tersebut.sedangkan konsentrasi aplikasi di gunakan dalam aplikasi dengan cara penyemprotan. konsentrasi penyemprotan adalah jmlah pestisida yang di campurkan dalam satu liter air untuk mengendalikan OPT tertentu. Konsentrasi dinyatakan dalam produk per liter, per mililiter dan gram produk per liter. Selain hal tersebut yang sangat penting dalam pengaplikasian pestisida adalah volume semprot yang merupakan ukuran banyaknya cairan yang dibutuhkan untuk menyebarkan pestisida agar merata pada areal tertentu.
Dengan penjelasan yang telah disebutkan diatas maka secara rincian pengertiannya adalah : Dosis adalah jumlah pestisida yang dicampurkan atau diencerkan dengan air digunakan untuk menyemprot hama atau penyakit tanaman dengan luas tertentu. Pengertian inilah sebenarnya yang dimaksud dengan tulisan “dosis” pada label kemasan pestisida (Sastroutomo, 1992).
Ada beberapa satuan dalam menuliskan dosis. Fungisida Benlate, misalnya: tertulis dosisnya 3-5 g / 10 liter air; artinya dalam 10 liter air bisa dicampurkan 3-5 g Benlate. Pengertian serupa juga berlaku untuk fungisida Nimrod 250 EC yang mempunyai dosis pemakaian 2,5 – 5 ml / 10 liter air, dan insektisida Difolatan 4 F dengan dosis pemakaian 20-30 cc/10 liter air.
Konsentrasi, ada tiga macam pembagian konsentrasi, yaitu konsentrasi formulasi, konsentrasi bahan aktif, dan konsentrasi larutan. Konsentrasi formulasi adalah banyaknya pestisida dihitung dalam cc atau gram bahan pestisida per liter air yang dicampurkan; sedangkan konsentrasi bahan aktif adalah persentase bahan aktif yang terdapat dalam larutan jadi (larutan yang sudah dicampur air). Tidak jauh berbeda dengan dua pengertian di atas, konsentrasi larutan adalam persentase kandungan pestisida yang terdapat dalam larutan jadi.
Melihat adanya tiga pengertian yang hampir sama tentang konsentrasi maka para pemakai pestisida hendaknya membaca terlebih dahulu sebelum menggunakannya. Konsentrasi formulasi insektisida Lannate 1,5 – 33 cc/l air artinya dalam 1 liter air bisa dicampurkan 1,5-33 cc Lannate. Konsentrasi bahan aktif insektisida Basudin 60 EC 0,12 % artinya dalam 10 liter air bisa dicampurkan 12 gram Basudin 60 EC. Konsentrasi larutan herbisida Agroxone 3.000 ppm artinya dalam 1 liter air bisa dicampurkan 3 gram Agroxone (1000 ppm = 0,1 %).
Volume Semprot, Selama ini banyak yang mengartikan volume semprot secara salah. Umumnya mereka mengartikan volume semprot hanya merupakan volume air pencampur pestisida saja. Padahal sebenarnya yang dimaksud dengan volume semprot adalah volume akhir, yaitu jumlah campuran air dengan pestisida yang disemprotkan.
Ambil misal fungisida Kasumin 20 AS yang mempunyai konsentrasi formulasi 2 cc/l air dengan volume semprot 500 l/ha. Banyaknya fungisida itu untuk penyemprotan luasan 1 ha adalah 1 liter (1000 cc); maka jumlah air pencampur yang perlu ditambahkan hanya 499 liter. Jadi, total bila keduanya dijumlahkan menjadi 500 liter. Jumlah yangt erakhir itulah yang dimaksud dengan volume semprot. B.A.
Pengaruh volume semprot dalam pengaplikasian menyemprotnya nozel diarahkan lurus saja, tidak dilakukan dengan horizontal oleh karena itu waktu yang dilakukan lebih cepat dan berpengaruh bagi hasil seandainya diaplikasikan pada sebuah tanman, alat semprot punggung dalampenggunaannya perlu dilakukan kalibrasi terlebih dahulu agar jumlah pestisida dapat ditentukan sesuai dengan rekomendasi yang seharusnya, penggunaan nozel yang berbeda serta tekanan yang berbeda akan memberikan hasil yang berbeda, demikian juga setiap alat akan meberikan pengaruh yang berbeda, dan untuk memperhitung banyaknya pestisida yang dipakai di lapang serta ketepatan dalam penggunaannya, dari hasil di atas data yang diperoleh berbeda-beda karena setiapdalam pengaplikasiannya orang memiliki sebuah kecepatan jalan dan cara aplikasi yang bebeda antara kelompok satu dan dua, membuat lebar gawang, menghasilkan kecepatan curah, dan volume yang berbeda-beda (Wudianto, 1999).
Metode waktu bertujuan untuk mengukur kecepatan berjalan operator pada saat mengaplikasikan pestisida. Berbeda dengan operator maka hasil yang diperoleh akan berbeda pula, hal ini dikarenakan setiap masing-masing operator berbeda-beda  tingkat kecepatan jalannya sehingga untuk setiap operator menghasilkan kalibrasi yang berbeda-beda pula. Metode luasan bertujuan untuk mengukur volume semprot yang digunakan. Nosel merupakan bagian dari alat semprot yang berfungsi sebagai pemecah cairan dan menyebarkannya dalam bentuk partikel yang halus.
Nosel memiliki keragaman dalam laju keluarnya cairan, sudut penyemprotan, dan pola penyemprotan. Nosel memiliki standart lebar bidang semprot yang berbeda-beda sesuai warna nozel, sehingga berbeda jenis nozel, maka berbeda pula lebar bidang semprot dan hasil yang diperoleh (Sukma, 1991).
Dalam praktikum ini kami akan membahas data hasil dari praktikum melakukan penyemprotan alat semprot yang digunakan pada untuk penyemprotan yaitu alat semprot punggung semi otomatis (knapsack sprayer)  yang terdiri dari tangki, pompa yang digerakkan dengan tangan ruang bertekanan dan pipa yang dilengkapi katup dan nozel tangki yang digunkan dalam alat ini mempunyai volume 15 L dan terbuat dari bahan anti karat atau plastik, penyemprotan alat ini dilakukan bersama-sama dengan memompa terus-menerus agar tekanan didalam tabung tetap sama, sedangkan untuk alat yang lainhanya dicatat sebagian dari alat tersebut yaitu alat semprot punggung otomatis dengan tangki terbuat dari plastik  agar dapat menahan tekanan yang ada didalamnya ketika udara dipompa masuk, alat ini terdiri dari tangki, digerakkan dengan tangan alat pengukur tekanan dan pipa yang dilengkapi katup dan nozel, alat penyemprot tangan alat ini biasa digunakan dalam area skala kecil umumnya terbuat dari bahan plastik yang terdiri dari tangki yang terbuat dari plastik (swan), pompa dan tangkainya.
Tidak hanya itu saja, ada semprot lain alat yang pada dasarnya menggunakan mesin untuk menghasilkan suatu aliran udara dengan kecepatan tinggi, dimana aliran tersebut akan membawa larutan menjadi butiran-butiran halus alat ini dinamakan dengan mistblower dan yang selanjutnya adalah alat aplikasi debu yang merupak alat aplikasi pestisida dalam formulasi debu yang terdiri dari hopper tempat pestisida, alat untuk mengatur keluarnya pestisida secara kontan dan unit penghembus untuk menghasilkan udara serta tabung pipa tempat keluarnya pestisida, cara kerja alat ini pada dasarnya dengan aliran udara yang dihasilkan baik dengan pompa piston, kantung embus atau kipas yang mendorong alat keluarnya debu masuk kedalam panjang yang dapat diarahkan kesasaran.


IV. KESIMPULAN

Setelah melakukan praktikum ini, maka dapatdisimpulkan sebagai berikut:
1.      Dalam kalibrasi pestisida dapat digunakan metode praktis yakni metode luas dan metode waktu.
2.      Ada sebagian alat yang terbuat dari bahan plastik namun penggunaannya dalam skala kecil.
3.      Fungsi dari kalibrasi agar jumlah pestisida dapat ditentukan sesuai dengan rekomendasi yang seharusnya.
4.      Penggunaan nozel yang berbeda serta tekanan yang berbeda akan memberikan hasil yang berbeda.
5.      Knapsack sprayer dinilai efektif digunakan pada penyemprotan dengan luasan lahan sempit sampai sedang.


DAFTAR PUSTAKA

Djojosumarto, P. 2000. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Kanisius.         Yogyakarta.
Djojosumarto, Panut. 2004. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Kanisius. Yogyakarta.
Sastroutomo Soetikno S. 1992. Pestisida Dasar-Dasar dan Dampak           Penggunaanya. Gramedia, Jakarta.
Sukma,Y. dan Yakup. 1991. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Rajawali           Press. Jakarta.
Wudianto, R. 1999. Petunjuk Penggunaan Pestisida. Penebar Swadaya. Jakarta.










LAMPIRAN










PERHITUNGAN


A. Metode Luas
Diketahui : Luas Areal = 3 m2
Volume awal = 3 liter
Volume akhir = 2,52 liter
Ditanya : Volume semprot?
Penyelesaian : Larutan yang digunakan = 3 liter – 2,52 liter = 0,48 liter
Volume semprot =  x 0,48 liter = 1.600 l/ha

B. Metode Waktu
Diketaui : Volume semprot = 1.600 l/ha
Waktu = 1 menit
Air yang keluar = 1,2 liter
Lebar bidang semprot= 1 m
Debit nozel = 1,2 l/ha
Ditanya : Kecepatan jalan operato?
Penyelesaian: Waktu yang digunakan = (1.600:1,2 liter) x 1 menit = 1.333,33
Bila lahan 1 ha maka operator bergerak sejauh = (100:1) x 100 = 10.000 m
Kecepatan jalan operator =  = 7,5 menit







No
Foto
Keterangan
1.
Description: D:\1448456761145.jpg
Pada tahap ini dilakukan dengan memasukkan air kedalam knapsack sprayer, air yang dimasukkan sebanyak 3 Liter.
2.
Description: D:\1448456765969.jpg
Pada tahap ini salah satu dari teman kami, melakukan pengaplikasian dengan menyemprotkan air berdasarkan jalur atau luas areal 3 Meter, yang telah ditetapkan oleh asisten dosen.
3.
Description: D:\1448456763579.jpg
Pada tahap ini dilakukan penuangan kembali sisa dari penyemprotan kedalan wadah dan dihitung volume setelah penyemprotan dan diperoleh volume akhir sebanyak 2,52 Liter.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar