KALIBRASI
DALAM APLIKASI PESTISIDA
(Praktikum
Bioekologi Hama Tumbuhan)
Oleh
nbn
Irvan Saputra
1414121114
Kelompok 10

JURUSAN
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
LAMPUNG
2015
I. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pestisida adalah
substansi kimia yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan
berbagai hama. Kata pestisida berasal dari kata pest yang berarti hama dan
cida berarti pembunuh. Jadi secara sederhana pestisida diartikan sebagai
pembunuh hama. Yang dimaksud hama bagi petani sangat luas, yaitu tungau,
tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi, bakteri dan
virus, kemudian nematoda, siput, tikus, burung, dan hewan lainnya yang dianggap
mengganggu.
Alat yang digunakan
dalam aplikasi pestisida tergantung formulasi yang digunakan. Pestisida yang
berbentuk butiran untuk menyebarkannya tidak membutuhkan alat khusus, cukup
dengan ember atau alat lainnya yang bisa dugunakan untuk menampung pestisida
tersebut dan sarungtangan agar tangan tidak berhubungan langsung dengan
pestisida. Pestisida berwujud cairan (EC) atau bentuk tepung yang dilarutkan
(WP atau SP) memerlukan alat penyemprot untuk menyebarkannya. Sedangkan
pestisida yang berbentuk tepung hembus bisa digunakan alat penghembus. Pestisida
berbentuk fumigant dapat diaplikasikan dengan alat penyuntik, misalnya alat
penyuntik tanah untuk nematisida atau penyuntik pohon kelapa untuk jenis
insektisida yang digunakan memberantas penggerek batang (Djojosumarto, 2000).
Faktor utama yang dapat
menyebabkan aplikasi pestisida kurang tepat dalam aplikasi pestisida adalah
kalibrasi. Namun sebelum melakukan kalibrasi alat, hal yang penting yang harus
dilakukan adalah menghitung jumlah insektisida yang diperlukan pada areal tertentu
yang dikenal dengan volume semprot. Volume semprot adalah banyaknya cairan yang
dibutuhkan untuk mengaplikasikan
insektisida secara
merata pada areal tertentu. Dengan demikian,
percobaan kalibrasi dalam aplikasi pestisida ini penting untuk dilakukan.
1.2
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari
praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui
banyaknya cairan semprot yang dikeluarkan oleh alat semprot.
2. Mampu
melaksanakan kalibrasi dengan prosedur yang benar dan tepat.
3. Mengetahui
metode praktis yang digunakan saat kalibrasi.
II.
METODOLOGI PRAKTIKUM
2.1 Alat dan Bahan
Peralatan dan bahan-bahan yang digunakan pada saat
praktikum berlangsung antara lain:
1. Knapsack
2. Berbagai
tipe nozel
3. Tali
4. Meteran
5. Gelas ukur
1000 ml
6. Ember
plastik
7. Stopwatch
8. Air
2.2 Prosedur Kerja
Penentuan kecepatan jalan:
a. Diletakkan
alat semprot kepunggung dan lakukan penyemprotan sambil berjalan secara teratur
sejauh 3 meter, kemudian kembali ke titik awal.
b. Dihitung
waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak 3 meter dengan menggunakan
stopwatch.
c. Dihitung
kecepatan jalan
Penentuan kecepatan curah semprot;
a.
Memasukkan
air kedalam alat semprot dan melakukan pemompaan secukupnya kemudian lakukan
penyemprotan ke dalam ember plastik selama 1 menit.
b.
Mengukur
jumlah larutan yang keluar selama satu menit dengan menggunakan gelas ukur.
III.
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHSAN
3.1
Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini adalah
sebagai berikut:
3.1.1
Metode Luas
Air
yang digunakan (L)
|
Air
sisa (L)
|
Air
terpakai (L)
|
Volume
semprot
|
3
|
2,52
|
0,48
|
1.6001
|
3.1.2
Metode Waktu
Debit
nozel (ml/menit)
|
Waktu
yang digunakan (ha/menit)
|
Jarak
yang ditempuh (ha/m)
|
Kecepatan
jalan (m/menit)
|
1,21
|
1.333,33
|
10.000
|
7,5
|
3.2
Pembahasan
Kalibrasi pada
dasarnya adalah suatu kegiatan untuk mencari hubungan antara nilai yang
ditunjukkan oleh alat ukur dengan nilai-nilai yang sudah diketahui, yang
berkaitan dengan besaran yang diukur dalam kondisi tertentu, atau bisa
dikatakan kalibrasi sebagai suatu kegiatan untuk menentukan kebenaran
konvensional nilai penunjukan alat ukur dan bahan ukur dengan cara
membandingkan terhadap standar yang tertelusur.
Faktor utama yang dapat
menyebabkan aplikasi pestisida kurang tepat dalam aplikasi adalah kalibrasi.
Namun sebelum melakukan kalibrasi alat, hal yang penting yang harus dilakukan
adalah menghitung jumlah insektisida yang diperlukan pada areal tertentu yang
dikenal dengan volume semprot. (Sukma, 1991).
Dosis aplikasi
pestisida adalah jumlah pestisida yang diaplikasikan untuk
mengendalikan OPT pada setiap satuan luas bidang sasaran, misalnya liter
produk pestisida per hektar, kilogram pestisida per hektar, dan sebagainya.untuk
fumigasi ruangan dosis adalah jumlah fumigan yang diaplikasikan untuk setiap
satuan volume ruang sasaran (Djojosumarto, 2004).
Pada penyemprotan
tanaman pohon dosis adakalanya dinyatakan dalam jumlah produk per pohon.dosis
dapat dinyatakan dalam dosis produk atau dosis bahan
aktif. maka untuk mengubah ke dosis produk harus dikonversikan dengan
kandungan bahan aktif produk tersebut.sedangkan konsentrasi aplikasi di gunakan
dalam aplikasi dengan cara penyemprotan. konsentrasi penyemprotan adalah jmlah
pestisida yang di campurkan dalam satu liter air untuk mengendalikan OPT
tertentu. Konsentrasi dinyatakan dalam produk per liter, per mililiter dan gram
produk per liter. Selain hal tersebut yang sangat penting dalam pengaplikasian pestisida adalah
volume semprot yang merupakan ukuran banyaknya cairan yang dibutuhkan untuk
menyebarkan pestisida agar merata pada areal tertentu.
Dengan penjelasan yang
telah disebutkan diatas maka secara rincian pengertiannya adalah : Dosis adalah
jumlah pestisida yang dicampurkan atau diencerkan dengan air digunakan untuk
menyemprot hama atau penyakit tanaman dengan luas tertentu. Pengertian inilah
sebenarnya yang dimaksud dengan tulisan “dosis” pada label kemasan pestisida
(Sastroutomo, 1992).
Ada beberapa satuan dalam
menuliskan dosis. Fungisida Benlate, misalnya: tertulis dosisnya 3-5 g /
10 liter air; artinya dalam 10 liter air bisa dicampurkan 3-5 g Benlate.
Pengertian serupa juga berlaku untuk fungisida Nimrod 250 EC yang mempunyai
dosis pemakaian 2,5 – 5 ml / 10 liter air, dan insektisida Difolatan 4 F dengan
dosis pemakaian 20-30 cc/10 liter air.
Konsentrasi, ada
tiga macam pembagian konsentrasi, yaitu konsentrasi formulasi, konsentrasi
bahan aktif, dan konsentrasi larutan. Konsentrasi formulasi adalah banyaknya
pestisida dihitung dalam cc atau gram bahan pestisida per liter air yang
dicampurkan; sedangkan konsentrasi bahan aktif adalah persentase bahan aktif
yang terdapat dalam larutan jadi (larutan yang sudah dicampur air). Tidak jauh
berbeda dengan dua pengertian di atas, konsentrasi larutan adalam persentase
kandungan pestisida yang terdapat dalam larutan jadi.
Melihat adanya tiga
pengertian yang hampir sama tentang konsentrasi maka para pemakai pestisida
hendaknya membaca terlebih dahulu sebelum menggunakannya. Konsentrasi formulasi
insektisida Lannate 1,5 – 33 cc/l air artinya dalam 1 liter air bisa
dicampurkan 1,5-33 cc Lannate. Konsentrasi bahan aktif insektisida Basudin 60
EC 0,12 % artinya dalam 10 liter air bisa dicampurkan 12 gram Basudin 60 EC.
Konsentrasi larutan herbisida Agroxone 3.000 ppm artinya dalam 1 liter air bisa
dicampurkan 3 gram Agroxone (1000 ppm = 0,1 %).
Volume Semprot, Selama
ini banyak yang mengartikan volume semprot secara salah. Umumnya mereka
mengartikan volume semprot hanya merupakan volume air pencampur pestisida saja.
Padahal sebenarnya yang dimaksud dengan volume semprot adalah volume akhir,
yaitu jumlah campuran air dengan pestisida yang disemprotkan.
Ambil misal fungisida
Kasumin 20 AS yang mempunyai konsentrasi formulasi 2 cc/l air dengan volume
semprot 500 l/ha. Banyaknya fungisida itu untuk penyemprotan luasan 1 ha adalah
1 liter (1000 cc); maka jumlah air pencampur yang perlu ditambahkan hanya 499
liter. Jadi, total bila keduanya dijumlahkan menjadi 500 liter. Jumlah yangt
erakhir itulah yang dimaksud dengan volume semprot. B.A.
Pengaruh volume semprot
dalam pengaplikasian menyemprotnya nozel diarahkan lurus saja, tidak dilakukan
dengan horizontal oleh karena itu waktu yang dilakukan lebih cepat dan
berpengaruh bagi hasil seandainya diaplikasikan pada sebuah tanman, alat
semprot punggung dalampenggunaannya perlu dilakukan
kalibrasi terlebih dahulu agar jumlah pestisida dapat ditentukan sesuai
dengan rekomendasi yang seharusnya, penggunaan nozel yang berbeda serta tekanan
yang berbeda akan memberikan hasil yang berbeda, demikian juga setiap alat akan
meberikan pengaruh yang berbeda, dan untuk memperhitung banyaknya
pestisida yang dipakai di lapang serta ketepatan dalam penggunaannya,
dari hasil di atas data yang diperoleh berbeda-beda karena setiapdalam
pengaplikasiannya orang memiliki sebuah kecepatan jalan dan
cara aplikasi yang bebeda antara kelompok satu dan dua, membuat lebar gawang,
menghasilkan kecepatan curah, dan volume yang berbeda-beda (Wudianto, 1999).
Metode waktu bertujuan
untuk mengukur kecepatan berjalan operator pada saat mengaplikasikan pestisida.
Berbeda dengan operator maka hasil yang diperoleh akan berbeda pula, hal ini
dikarenakan setiap masing-masing operator berbeda-beda tingkat
kecepatan jalannya sehingga untuk setiap operator menghasilkan kalibrasi yang
berbeda-beda pula. Metode luasan bertujuan untuk mengukur volume semprot yang
digunakan. Nosel merupakan bagian dari alat semprot yang berfungsi sebagai
pemecah cairan dan menyebarkannya dalam bentuk partikel yang halus.
Nosel memiliki
keragaman dalam laju keluarnya cairan, sudut penyemprotan, dan pola
penyemprotan. Nosel memiliki standart lebar bidang semprot yang berbeda-beda
sesuai warna nozel, sehingga berbeda jenis nozel, maka berbeda pula lebar bidang
semprot dan hasil yang diperoleh (Sukma, 1991).
Dalam praktikum ini kami akan membahas
data hasil dari praktikum melakukan penyemprotan alat semprot yang digunakan pada untuk penyemprotan
yaitu alat semprot punggung semi otomatis (knapsack
sprayer) yang terdiri dari tangki, pompa yang digerakkan dengan tangan
ruang bertekanan dan pipa yang dilengkapi katup dan nozel tangki yang digunkan
dalam alat ini mempunyai volume 15 L dan terbuat dari bahan anti karat atau
plastik, penyemprotan alat ini dilakukan bersama-sama dengan memompa
terus-menerus agar tekanan didalam tabung tetap sama, sedangkan untuk alat yang lainhanya
dicatat sebagian dari alat tersebut yaitu alat semprot
punggung otomatis dengan tangki terbuat dari plastik agar dapat menahan tekanan yang ada didalamnya
ketika udara dipompa masuk, alat ini terdiri dari tangki, digerakkan dengan
tangan alat pengukur tekanan dan pipa yang dilengkapi katup dan nozel, alat
penyemprot tangan alat ini biasa digunakan dalam area skala kecil umumnya
terbuat dari bahan plastik yang terdiri dari tangki yang terbuat dari plastik (swan), pompa dan tangkainya.
Tidak hanya itu saja, ada semprot lain alat yang pada
dasarnya menggunakan mesin untuk menghasilkan suatu aliran udara dengan
kecepatan tinggi, dimana aliran tersebut akan membawa larutan menjadi
butiran-butiran halus alat ini dinamakan dengan mistblower dan yang selanjutnya adalah alat aplikasi debu yang
merupak alat aplikasi pestisida dalam formulasi debu yang terdiri dari hopper
tempat pestisida, alat untuk mengatur keluarnya pestisida secara kontan dan
unit penghembus untuk menghasilkan udara serta tabung pipa tempat keluarnya
pestisida, cara kerja alat ini pada dasarnya dengan aliran udara yang
dihasilkan baik dengan pompa piston, kantung embus atau kipas yang mendorong
alat keluarnya debu masuk kedalam panjang yang dapat diarahkan kesasaran.
IV. KESIMPULAN
Setelah melakukan praktikum ini, maka dapatdisimpulkan
sebagai berikut:
1. Dalam
kalibrasi pestisida dapat digunakan metode praktis yakni metode luas dan metode
waktu.
2. Ada
sebagian alat yang terbuat dari bahan plastik namun penggunaannya dalam skala
kecil.
3. Fungsi
dari kalibrasi agar jumlah pestisida dapat ditentukan sesuai dengan rekomendasi
yang seharusnya.
4. Penggunaan
nozel yang berbeda serta tekanan yang berbeda akan memberikan hasil yang
berbeda.
5. Knapsack sprayer dinilai
efektif digunakan pada penyemprotan dengan luasan lahan sempit sampai sedang.
DAFTAR
PUSTAKA
Djojosumarto, P. 2000. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Kanisius. Yogyakarta.
Djojosumarto, Panut. 2004. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Kanisius. Yogyakarta.
Sastroutomo Soetikno S. 1992. Pestisida Dasar-Dasar dan Dampak Penggunaanya.
Gramedia, Jakarta.
Sukma,Y. dan Yakup. 1991. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Rajawali Press. Jakarta.
Wudianto, R. 1999. Petunjuk Penggunaan Pestisida. Penebar Swadaya. Jakarta.
LAMPIRAN
PERHITUNGAN
A.
Metode Luas
Diketahui
: Luas Areal = 3 m2
Volume
awal = 3 liter
Volume
akhir = 2,52 liter
Ditanya
: Volume semprot?
Penyelesaian
: Larutan yang digunakan = 3 liter – 2,52 liter = 0,48 liter
Volume
semprot =
x 0,48 liter = 1.600 l/ha
B.
Metode Waktu
Diketaui
: Volume semprot = 1.600 l/ha
Waktu
= 1 menit
Air
yang keluar = 1,2 liter
Lebar
bidang semprot= 1 m
Debit
nozel = 1,2 l/ha
Ditanya
: Kecepatan jalan operato?
Penyelesaian:
Waktu yang digunakan = (1.600:1,2 liter) x 1 menit = 1.333,33
Bila
lahan 1 ha maka operator bergerak sejauh = (100:1) x 100 = 10.000 m
Kecepatan
jalan operator =
= 7,5 menit
No
|
Foto
|
Keterangan
|
1.
|
![]() |
Pada tahap ini
dilakukan dengan memasukkan air kedalam knapsack
sprayer, air yang dimasukkan sebanyak 3 Liter.
|
2.
|
![]() |
Pada tahap ini salah
satu dari teman kami, melakukan pengaplikasian dengan menyemprotkan air
berdasarkan jalur atau luas areal 3 Meter, yang telah ditetapkan oleh asisten
dosen.
|
3.
|
![]() |
Pada tahap ini
dilakukan penuangan kembali sisa dari penyemprotan kedalan wadah dan dihitung
volume setelah penyemprotan dan diperoleh volume akhir sebanyak 2,52 Liter.
|



Tidak ada komentar:
Posting Komentar