PENGENALAN
MUSUH ALAMI
(Praktikum Bioekologi Hama Tumbuhan)
Oleh
Irvan Saputra
1414121114
Kelompok
10
JURUSAN
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
LAMPUNG
2015
I.
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pengertian hama
berhubungan erat dengan kepentingan ekonomi manusia. Hama dapat didefinisikan
sebagai binatang yang merusak tanaman sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi
karena menurunkan produksi tanaman baik kualitas maupun kuantitas. Dengan
demikian tidak semua binatang dapat berstatus sebagai hama (Borror, 1996).
Hama adalah suatu
penyebab kerusakan pada tanaman yang dapat dilihat dengan pancaindera (mata).
Hama tersebut dapat berupa binatang. Hama dapat merusak tanaman secara langsung
maupun tak langsung. Hama yang merusak tanaman secara langsung dapat dilihat
bekasnya pada tanaman yang diserang, misalnya gerekan dan gigitan. Sedangkan
hama yang merusak tanaman secara tidak langsung biasanya melalui penyakit (Elzinga, 2004).
Hama menjadi masalah
karena merusak tanaman dengan cara makan, bertelur, berkepompong, berlindung,
atau bersarang tergantung spesiesnya. Hama melukai tanaman, menyebabkan
kerusakan, mengurangi hasil panen, mengurangi pendapatan petani, dan akhirnya
mengurangi kesejahteraan masyarakat. Salah satu faktor yang menentukan
pentingnya suatu hama adalah potensi atau kemampuan merusak hama tersebut.
Salah satu cara merusak ialah dengan mengambil pakan baik dalam bentuk padat
maupun cair menggunakan alat mulutnya. Tanda dan gejala serangan ini sangat
penting dalam pekerjaan monitoring hama, karena tanda serangan tiap jenis hama
khas atau spesifik sehingga keadaan suatu hama pada suatu saat dapat diketahui
dengan pasti dan benar (Harahap dan Tjahyono, 1997).
Dengan demikian pengenalan musuh alami terhadap hama penting dilakukan.
1.2
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan percobaan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk
memahami klasifikasi musuh alami hama.
2. Untuk
mengetahui karakteristik musuh alami suatu hama.
3. Untuk
mengetahui efisiensi musuh alami dalam menekan jumlah suatu hama.
II.
METODOLOGI PRAKTIKUM
2.1 Alat dan Bahan
Adapun alat-alat yang digunakan pada percobaan ini
adalah sebagai berikut:
1. Mikroskop
stereo
2. Cawan
petri
3. Pensil/pena
4. Kertas
A4
5. Kamera/handphone
6. Tabung
awetan
Sedangkan
bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah:
1. Awetan
musuh alami.
2.2
Cara Kerja
Adapun cara kerja pada praktikum ini adalah sebagai
berikut:
1. Praktikan
mendengarkan penjelasan dari asisten dengan seksama, kemudian mengamati semua
musuh alami dengan mikroskop dan dengan kasat mata.
2. Selanjutnya,
semua awetan musuh alami digambar dan dipahami karakteristiknya dengan baik.
III.
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
3.1
Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan
pada percobaan ini adalah sebagai berikut:
|
No
|
Foto
|
Keterangan
|
|
1.
|
|
Trichogramma sp
(Hymenoptera:
Trichogrammatidae)
Peranan:
Termasuk lebah, memarasit telur dengan cara telur dari Trichogramma sp dimasukkan ke dalam badan inang, kemudian telur
tumbuh serta keluar dari dalam tubuh dengan bentuk nimfa, memarasit wereng,
penggerek batang padi dan tebu, penggerek tongkol jagung.
|
|
2.
|
|
Sturmiopsis
sp
(Diptera: Tachinidae)
Peranan: Termasuk
lalat, memarasit telur dengan cara telur dari Sturmiopsis sp dimasukkan ke dalam badan inang, kemudian telur
tumbuh serta keluar dari dalam tubuh dengan bentuk nimfa, memarasit wereng,
penggerek batang padi dan tebu, penggerek tongkol jagung.
|
|
3.
|
|
Tetrastichus
inferens
(Hymenoptera:
Eulophidae)
Peranan: Termasuk
lebah, memarasit larva dan pupa penggerek batang tebu.
|
|
4.
|
|
Corcyra
cephalonica
(Lepidoptera:
Pyralidae)
Peranan: Termasuk
hama pasca panen, memakan beras di gudang dan digunakan sebagai inang dari Trichogramma sp.
|
|
5.
|
|
Verania
sp
(Coleoptera:
Coccinelidae)
Peranan: Kumbang
koksi atau kumbang kubah sebagai predator larva kutu daun, dan sebagai hama.
|
|
6.
|
|
Chillo
sacchariphagus
(Lepidoptera:
Crambidae)
Peranan: Ulat
penggerek batang tebu, larva masuk kebatang tebu dan menggerek hingga ke
akar.
|
|
7.
|
|
Catesia
flavipes
(Hymenoptera:
Braconidae)
Peranan: Parasitoid
larva, termasuk lebah dengan metamorfosis sempurna.
|
3.2
Pembahasan
3.2.1
Trichogramma sp (Hymenoptera:
Trichogrammatidae)
Kingdom
: Animalia
Phillum
: Arthopoda
Kelas
: Insekta
Ordo
: Hymenoptera
Subordo
: Clistrogastra
Family
: Trichogrammatidae
Genus
: Trichogramma
Spesies
: Trichogramma sp
Serangga ini merupakan
parasit yang utama pada telur penggerek tanaman padi dan tebu, diantaranya Chilooryze B.FI, Scirpophaga
incertulas Walker dan Tryporiza Fr
(Kalshoven,
1981).
Parasitoid telur Trichogramma japonicum memiliki
panjang tubuh 0,75 mm dengan tubuh berwarna hitam dan mata merah yang khas. Tarsus
dengan tiga ruas. Sayap depan sangat lebar dengan rambut-rambut yang membentuk
garis, vena marginal dan stignal membentuk kurva tunggal. Sayap belakang sempit
dan berambut apabila dipelihara pada suhu 30o C dan kelembapan 80% tubuh
berwarna cokelat kehitaman, rambut-rambut pada sayap depan panjang, ovipositor
keluar di ujung abdomen. Imago jantan mempunyai antenna berbentuk clavus dengan
30-40 rambut, tiap rambut panjangnya 3 kali lebar antenna (Nishida dan Torii,
1970). Ovipositor pada betina hampir satu setengah kali lebih panjang daripada
tibia belakang yang memungkinkan betina untuk meletakkan telur ke dalam telur
yang tertutup bulu. Ukuran telur sekitar 0,31mm. rasio jenis kelamin dewasa
jantan dan betina adalah 1:2,3. Parasitoid ini merupakan parasitoid yang hidup
berkelompok (Matnawy, 1991).
Larva Trichogramma terdiri dari tiga instar.
Setelah mencapai instar 3 (3-4 hari setelah telur terparasit), telur penggerek
batang berubah warnanya menjadi gelap atau hitam. Larva kemudian berkembang
menjadi pupa. Setelah 4-5 hari, pupa berubah menjadi imago, dan keluar dari
telur inang dengan membuat lubang bulat pada kulit telur. Daur hidup sejak
telur diletakkan hingga imago muncul sekitar 8 hari. Setiap betina biasa
menghasilkan telur sebanyak 50 butir. Perkembangbiakan dengan perkawinan atau
parthenogenesis. Parasitoid betina yang kawin menghasilkan keturunan betina dan
jantan, sedangkan yang tidak kawin akan menghasilkan jantan saja.
Pada saat pemarasitan,
parasitoid Trichogramma japonicum betina
akan menguji telur dengan memukulnya menggunakan antenna, menggerek masuk ke
dalam telur inang dengan ovipositornya dan meletakkan satu atau lebih telur
tergantung ukuran telur inang. Pada saat Trichogramma japonicum betina menemukan inangnya, biasanya
akan tinggal dekat atau menetap pada inangnya untuk periode yang panjang selama
terjadinya pemarasitan (Mourir, 1986).
Populasi parasitoid
dipengaruhi oleh keberadaan inang dan kondisi lingkungan. Populasi inang yang
rendah menyebabkan parasitoid tidak berkembang, parasitoid dewasa aktif pada
siang hari dan terbang menuju ke arah sumber cahaya. Tingkat pemarasitan di
lapangan berkisar antara 40% (Pracaya, 2010).
3.2.2 Sturmiopsis sp (Diptera: Tachinidae)
Siklus hidup dari telur hingga menjadi imago rata-rata 40,5 (31-49)
hari
dengan masa telur 5-11 hari, rata-rata masa tempayak 18,7 (15-24) hari dan
rata-
rata masa pupa 12,8 hari (11-14) hari. Perkembangbiakan lalat parasitoid
hampir sama dengan lalat rumah, dimana lalat betina mengalami bunting 1-2
minggu. Telur yang telah dibuahi ditahan dalam uterus, kerapkali penetasan terjadi
dalam organ tersebut dan dapat juga terjadi tempayak dikeluarkan dengan masih
diselubungi lapisan kulit telur yang tipis. Larva dari ordo diptera disebut
sebagai ulat atau tempayak, dimana bagian kepala atau tubuh tidak dapat
dibedakan, selalu tidak bertungkai atau tidak berkaki (Oka, 1995).
3.2.3 Tetrastichus inferens (Hymenoptera:
Eulophidae)
Tetrastichus schoenobii Ordo :
Hymenoptera, Famili : Eulophidae. Parasitoid ini biasanya memparasit telur dan
pupa. Sebelum oviposisi betina menyeleksi telur penggerek dalam massa telur.
Tiap parasitoid betina meletakkan satu telur pada tiap telur penggerek. Butuh
waktu 1 – 2 hari bagi telur parasitoid untuk menetas. Perkembangan larva
terjadi dalam telur inang. Jika protein sebutir telur telah habis, larva
parasitoid akan berpindah ke telur lainnya. Tiap larva parasitoid akan
berpindah ke telur penggerek lainnya. Tiap larva parasitoid membutuhkan 3 butir
telur inang untuk berkembang. Parasitoid dewasa akan muncul 1 – 2 hari setelah
oviposisi (Pracaya, 2007)
3.2.4 Corcyra cephalonica (Lepidoptera:
Pyralidae)
Klasifikasi Corcyra cephalonica adalah:
Kingdom: Animalia
Phillum: Arthopoda
Kelas: Insekta
Ordo: Lepidoptera
Subordo:
Mikrolepidoptera
Family: Pyralididae
Genus: Corcyra
Spesies: Corcyra cephalonica
Ngengat Corcyra cephalonica merupakan salah
satu hama penting pada penggilingan beras dan tepung sering pula
disebut tawny. Serangga ini toleran pada kelembapan tinggi dan ditemukan
di seluruh dunia, terutama di daerah tropika. Walaupun mampu memakan biji utuh,
hama ini lebih sering ditemukan cepat berbiak sebagai hama sekunder. Daur hidup
optimum selama 26-27 hari pada 30-32,5 OC dengan kelembapan 70%. Imago
berwarna cokelat agak pucat dengan ukuran panjang tubuhnya sekitar 11-12 mm.
Panjang sayap apabila direntangkan sekitar 11-15 mm. Tepi bagian atas dari
sayapnya ini sama sekali tidak ada bercak tetapi mempunyai vena yang berwarna
agak gelap. Tepi atas bagian sayap yang belakang dari kupu-kupu jantan dapat
dikatakan berwarna agak gelap. Palpi lialis tampak melengkung ke atas atau
lurus di depan kepala (Matnawy,
1991).
Hama ini bertelur
sebanyak 400 butir. Warna telur putih dan bertekstur halus. Bentuknya lonjong
dengan panjang sekitar 0,3 x 0,5 mm, menempel pada bahan pangan atau serat
karung di penyimpanan. setelah 10 hari, telur akan menetas dan menjadi larva.
Larva berwarna krem sampai putih kecuali bagian kapsul kepala dan protoraks
berwarna coklat, panjang tubuh lebih
kurang 17 mm. biasanya larva membuat pintalan yang mengandung kotoran dan
sisa-sisa makanan. Warna pintalan tersebut sesuai dengan objek yang
diserangnya, apabila yang diserangnya beras putih, warna pintalannya juga
putih. Selanjutnya, ulat tersebut menjadi kepompong setelah 9 hari.
Kepompongnya berwarna kuning coklat, panjangnya sekitar 8 mm. kepompong
terletak dalam kokon yang warnanya putih. Kepompong kemudian akan menjadi
ngengat setelah 7 hari (Pracaya, 2007).
3.2.4 Verania sp (Coleoptera: Coccinelidae)
Klasifikasi dari Verania sp adalah sebagai berikut:
Kumbang ini berukuran
kecil: hanya 7-8 mm. Tetapi kumbang ini rakus makan beberapa jenis kutu. Bila
tidak diusir oleh semut, kumbang kubah bisa dijumpai pada tempat di mana
kutu-kutu berkumpul pada pohon kopi. Kalau menemukan kutu-kutu, kumbang kubah
tetap di sana dan mulai makan. Setelah matahari terbit, kumbang dewasa mencari
makanan. Kumbang kubah dipergunakan sebagai musuh alami. Pemilik rumah kaca
sudah memakai kumbang kubah untuk mengendalikan kutu daun dan kutu kebul pada tanamannya
(Matnawy, 1991).
Kumbang helm biasanya
meletakkan telur pada bagian tanaman yang ada kutu-kutu. Kelompok sekitar 50
butir telur atau lebih diletakkan tidak beraturan, pada daun atau ranting. Larva
setiap jenis kumbang helm berwarna berbeda, tapi mirip dengan dewasa. Kumbang
hitam berbintik merah mempunyai larva abu-abu tua dengan tanda merah. Larva
rakus. Ratusan kutu-kutu dimakan setiap hari. Kepompong menyerupai kumbang
dewasa yang menetap pada tanaman. Kumbang dewasa mudah diketahui, bulat dan mengkilat
seperti helm kecil.
3.2.6 Chillo sacchariphagus (Lepidoptera:
Crambidae)
Di Indonesia terdapat
enam jenis penggerek batang yaitu penggerek batang bergaris (Chilo sacchariphagus Bojer), penggerek
batang berkilat (Chilo auricilius
Dudgeon), penggerek batang abu-abu (Tetramous
scistaceana Sn), penggerek batang kuning (Chilo infuscatelus Sn.), penggerek batang jambon (Sesamia inferens Walk), dan penggerek
batang raksasa ( Phragmataecia castanea Hubner). Dari keenam jenis tersebut,
yang paling dominan keberadaannya adalah hama penggerek batang bergaris dan
berkilat, sedangkan penggerek batang raksasa hingga saat ini hanya terdapat
pada perkebunan tebu (Elzinga, 2004).
Gejala serangannya
yaitu terdapat bercak putih pada daun bekas gerekan yang tidak teratur, berkas
ini tidak menembus kulit luar daun. Pada penggerek bergaris bercak-bercak lebih
lebar dan panjang (tidak beraturan) sedangkan pada penggerek berkilat, bercak
daun lebih oval atau pendek. Setelah
menggerek daun ulat masuk ke batang tebu melalui pelepah. Selanjutnya pada
batang tampak adanya lubang gerek dipermukaan batang dan jika dibelah terlihat
lorong gerek yang memanjang. Jika gerekan mengenai titik tumbuh, daun muda akan
kering dan mati.
Telur berbentuk oval
berwarna putih kekuningan yang diletakkan berkelompok yang tersusun seperti
genting dalam 2-3 baris atau 3-5 baris, antara 7-30 butir. Larva yang baru
menetas panjangnya ± 2,5 mm, berwarna kelabu atau kuning kemerahan, semakin tua
menjadi kuning coklat dan garis-garis hitam pada permukaan abdomen sebelah atas
semakin jelas. Larva menggerek jaringan dalam daun muda yang masih menggulung
sehingga ketika daun membuka tampak bercak-bercak putih tidak teratur.
Kepompong agak keras, berwarna coklat kehitaman. Kepompong betina biasanya lebih
besar dibandingkan jantan. Imago atau kupu mempunyai sayap dan dada berwarna
kecoklatan. Abdomen betina biasanya lebih besar dibandingkan yang jantan.
Serangan pada tanaman
tebu yang telah beruas menyebabkan kerusakan ruas, pertumbuhan terhambat,
batang mudah patah, dan dapat juga menyebabkan kematian batang bila titik
tumbuh batang terserang. Pada tebu yang telah beruas, sebagian kerugian dapat
berupa kerugian total dari batang-batang mati atau busuk yang tidak dapat
digiling dan sebagian lagi berupa penurunan boot tebu dan rendemen akibat
kerusakan pada ruas-ruas batang. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa
serangan ruas sebesar 1 persen mampu menurunkan 0,74 persen hasil Kristal gula.
20 persen ruas yang terserang hama penggerek batang dapat menurunkan hasil gula
paling sedikit 10 persen.
3.2.7 Catesia flavipes (Hymenoptera:
Braconidae)
Imago Cotesia
flavipes berwarna hitam sehingga
bisa disebut sebagai parasitoid hitam. Kaki dan antenanya
pendek dan berwarna merah akan tetapi sebagian kaki belakangnya berwarna kecoklatan.
Seperti pada umumnya serangga, antena
imago jantan lebih panjang dibandingkan parasitoid betina. Tegulae, stigma dan
vena sayap coklat kemerahan. Segmen abdomen pertama melebar di
belakang. Ovipositor pada parasitoid betina pendek. Parasitoid betina dapat
meletakkan telur hingga 20 butir dalam tubuh inang. Imago parasitoid dapat
hidup 5 sampai 7 hari. Ukuran kelompok telur yang diletakkan pada inang sangat
ditentukan oleh kuantitas peletakan telur. Semakin banyak oviposisi, ukuran
kelompok telur yang diletakkan pada inang akan semakin menurun. Pada umumnya
parasitoid betina meletakkan kurang lebih 85% dari seluruh jumlah telur yang
dapat mereka hasilkan pada dua ekor larva inang. Sisa 15% telur yang dapat dihasilkan
diletakkan pada larva inang yang ketiga. Jadi meskipun betina menusukkan
ovipositornya pada larva keempat, kelima dan seterusnya, tidak ada lagi telur
yang dapat diletakkan pada larva inang tersebut (Borror, 1996).
Cotesia
flavipes adalah endoparasitoid gregarious
koinobiont, Maksud endoparasit
adalah parasitoid yang berkembang di dalam tubuh inangnya. Sedangkan gregarious parasitoid
adalah jika parasitoid tersebut dapat hidup bersama parasitoid lain pada tubuh atau
dapat berkembang pada tubuh inang secara berkelompok. Dan yang dimaksud dengan
koinobiont adalah parasitoid yang jika memparasit larva maka larva yang diparasit
dapat terus hidup. Jadi jika memparasit
larva maka Cotesia flavipes dapat berkembang
secara berkelompok di dalam
tubuh larva inang dan larva yang diparasit
tidak akan terbunuh tapi perkembangannya dapat terhambat karena nutrisi
pada tubuhnya dihisap oleh Cotesia
flavipes. Serangga parasitoid ini menyimpan
telurnya di dalam hemocele larva
inang. Cara seekor imago parasitoid memilih inang oleh
sangat berpengaruh terhadap kelangsungan keturunannya. Oleh karena itu,
di samping faktor nutrisi, ketersediaan inang yang
sesuai juga merupakan
hal yang penting (Borror, 1996).
IV. KESIMPULAN
Setelah melakukan
percobaan ini, maka dapat disimpulkan:
1. Setiap
musuh alami dari serangga hama memiliki klasifikasi sendiri.
2. Karakteristik
musuh alami serangga hama berbeda antara yang satu dengan yang lain.
3. Populasi
suatu hama dapat ditekan dengan keberadaan musuh alami.
4. Musuh
alami dapat dijadikan sebagai cara dalam menanggulangi ledakan populasi hama.
5. Pengendalian
dengan menggunakan musuh alami merupakan salah satu bagian pengendalian hama
terpadu.
DAFTAR
PUSTAKA
Borror, D.J.,
Triplehom, C.A. and N.F. Johnson. 1996. Pengenalan Pelajaran Serangga. Edisi
VI. UGM press. Yogyakarta.
Elzinga RJ. 2004. Fundamentals of Entomology 6th
Edition. PerasonEducation Inc. New Jersey.
Harahap dan Tjahyono, 1997. Hama dan Penyakit Utama
Padi di Lahan Pasang Surut. Monograf. Jakarta.
Kalshoven,
L.G.E. 1981. Pest of Crop in Indonesia. PT. Ichtiar Baru.
Jakarta.
Matnawy, H.
1991. Perlindungan Tanaman. Kanisius. Yogyakarta.
Mourir, H., 1986. Notes on the life history of Labia
minor (L.) (Dermaptera), a potential predator of housefly eggs and larvae
(Diptera, Musca domestica L.). Entomol Medd 53:143.
Oka, I.N.
1995. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Gajah
Mada University Press. Yogyakarta.
Pracaya, 2007. Hama
dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya. Jakarta.
Pracaya, 2010. Hama
dan Penyakit Tanaman Jilid 2. Penebar Swadaya. Jakarta.
LAMPIRAN