Minggu, 21 Januari 2018

Program Kerja KKN di Negeri Kelumbayan 2



PROGRAM KERJA DAN RENCANA KEGIATAN KKN UNILA
KABUPATEN/KECAMATAN        : KELUMBAYAN
DESA/PEKON/TIUH                      : NEGERI KELUMBAYAN
PERIODE/TAHUN                          : 1 (JANUARI-MARET) TAHUN 2018

NO
KONDISI SAAT INI
KONDISI SEHARUSNYA
MASALAH DAN FAKTOR PENYEBAB
PROGRAM KERJA DAN RENCANA KEGIATAN
KELOMPOK SASARAN
LOKASI
TARGET/OUT PUT
NILAI KEGIATAN
1
20 % penduduk desa Negeri kelumbayan MCK di sungai
(meskipun fasilitas MCK rumah tersedia)
Penduduk desa Negeri kelumbayan MCK di rumah
20 % penduduk desa Negeri kelumbayan MCK di sungai:dan kebiasaan penduduk yang kurang sehat.

Kurangnya pemahaman penduduk tentang pola perilaku hidup bersih dan sehat.
Negeri Kelumbayan Sehat:

Sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Pengadaan Home stay (penyediaan sarana kesehatan untuk memantau kesehatan penduduk).

Sosialisasi dan pengadaan TOGA (Tanaman Obat Keluarga)

Gotong Royong (tentang kebersihan)

Senam Sehat







Penduduk desa dan Anak-anak sekolah

Penduduk desa





Penduduk desa



Penduduk desa


Penduduk desa




Balai desa



Penduduk memahami arti penting PHBS dan penduduk mulai merubah kebiasaan yang mengancam kesehatan.

Peningkatan kesehatan penduduk melalui rekomendasi atau solusi yang dianjurkan.

Penduduk dapat memanfaatkan TOGA sebagai obat herbal alami.

Kesehatan dan kebugaran penduduk terjaga

2
40% penduduk desa negeri kelumbayan sebagai buruh dan potensi desa belum di manfaatkan secara optimal
Penduduk desa lebih terfokus sehingga memiliki pendapatan yang optimal dan potensi desa (wisata, pertanian, perkebunan, dan industri rumahan) optimal.
Kondisi cuaca yang cepat berubah, pada saat angin bagus penduduk melakuakan aktivitas sebagai nelayan dan sebaliknya sebagai petani sawah dan perkebunan.

Pengetahuan dan keterampilan penduduk yang kurang berkembang.

Kelompok tani yang ada belum maksimal.

Kurangnya pendampingan dan penyuluhan terhadap petani dan nelayan dari dinas terkait.

Industri kreatif masyarakat belum berkembang.

Akses jalan ke obyek wisata belum memadai

Kelompok sadar wisata belum terbentuk.
Negeri Kelumbayan Kreatif:

Penyuluhan tentang teknik budidaya tanaman sesuai dengan kondisi setempat.

Pelatihan pembuatan kompos dari sekam padi

Pembagian dan penanaman bibit buah dan tanaman tahunan

Pelatihan pembuatan terrarium dan hortirarium

Pembuatan tanda lokasi wisata






Penduduk desa




Penduduk desa (petani)



Penduduk desa



Penduduk desa (PKK dan pemuda


Pemuda




Balai desa








Penduduk mendapat tambahan wawasan tentang teknik budidaya tanaman yang tepat sesuai dengan kondisi setempat.


Kelompok tani memiliki semangat dan etos kerja yang tinggi.


Lahan pekarangan lebih produktif.


Terbentuknya industri rumahan yang kreatif.

Adanya kses dan penunjuk arah menuju tempat wisata.



Minggu, 04 Desember 2016

Pengenalan musuh alami



PENGENALAN MUSUH ALAMI
(Praktikum Bioekologi Hama Tumbuhan)







Oleh

Irvan Saputra
1414121114
Kelompok 10


Description: unila logo



JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pengertian hama berhubungan erat dengan kepentingan ekonomi manusia. Hama dapat didefinisikan sebagai binatang yang merusak tanaman sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi karena menurunkan produksi tanaman baik kualitas maupun kuantitas. Dengan demikian tidak semua binatang dapat berstatus sebagai hama (Borror, 1996).
Hama adalah suatu penyebab kerusakan pada tanaman yang dapat dilihat dengan pancaindera (mata). Hama tersebut dapat berupa binatang. Hama dapat merusak tanaman secara langsung maupun tak langsung. Hama yang merusak tanaman secara langsung dapat dilihat bekasnya pada tanaman yang diserang, misalnya gerekan dan gigitan. Sedangkan hama yang merusak tanaman secara tidak langsung biasanya melalui penyakit (Elzinga, 2004). 
Hama menjadi masalah karena merusak tanaman dengan cara makan, bertelur, berkepompong, berlindung, atau bersarang tergantung spesiesnya. Hama melukai tanaman, menyebabkan kerusakan, mengurangi hasil panen, mengurangi pendapatan petani, dan akhirnya mengurangi kesejahteraan masyarakat. Salah satu faktor yang menentukan pentingnya suatu hama adalah potensi atau kemampuan merusak hama tersebut. Salah satu cara merusak ialah dengan mengambil pakan baik dalam bentuk padat maupun cair menggunakan alat mulutnya. Tanda dan gejala serangan ini sangat penting dalam pekerjaan monitoring hama, karena tanda serangan tiap jenis hama khas atau spesifik sehingga keadaan suatu hama pada suatu saat dapat diketahui dengan pasti dan benar (Harahap dan Tjahyono, 1997). Dengan demikian pengenalan musuh alami terhadap hama penting dilakukan.


1.2    Tujuan Percobaan

Adapun tujuan percobaan ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk memahami klasifikasi musuh alami hama.
2.      Untuk mengetahui karakteristik musuh alami suatu hama.
3.      Untuk mengetahui efisiensi musuh alami dalam menekan jumlah suatu hama.

II. METODOLOGI PRAKTIKUM


2.1 Alat dan Bahan

Adapun alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai berikut:
1.      Mikroskop stereo
2.      Cawan petri
3.      Pensil/pena
4.      Kertas A4
5.      Kamera/handphone
6.      Tabung awetan
Sedangkan bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah:
1.      Awetan musuh alami.

2.2 Cara Kerja
Adapun cara kerja pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.      Praktikan mendengarkan penjelasan dari asisten dengan seksama, kemudian mengamati semua musuh alami dengan mikroskop dan dengan kasat mata.
2.      Selanjutnya, semua awetan musuh alami digambar dan dipahami karakteristiknya dengan baik.

III. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan pada percobaan ini adalah sebagai berikut:
No
Foto
Keterangan
1.
Description: D:\PRINT\P_20151126_132927.jpg
Trichogramma sp
(Hymenoptera: Trichogrammatidae)
Peranan: Termasuk lebah, memarasit telur dengan cara telur dari Trichogramma sp dimasukkan ke dalam badan inang, kemudian telur tumbuh serta keluar dari dalam tubuh dengan bentuk nimfa, memarasit wereng, penggerek batang padi dan tebu, penggerek tongkol jagung.
2.
Description: D:\PRINT\P_20151126_133054.jpg
Sturmiopsis sp
(Diptera: Tachinidae)
Peranan: Termasuk lalat, memarasit telur dengan cara telur dari Sturmiopsis sp dimasukkan ke dalam badan inang, kemudian telur tumbuh serta keluar dari dalam tubuh dengan bentuk nimfa, memarasit wereng, penggerek batang padi dan tebu, penggerek tongkol jagung.

3.
Description: D:\PRINT\P_20151126_133939.jpg
Tetrastichus inferens
(Hymenoptera: Eulophidae)
Peranan: Termasuk lebah, memarasit larva dan pupa penggerek batang tebu.
4.
Description: D:\PRINT\P_20151126_133722.jpg
Corcyra cephalonica
(Lepidoptera: Pyralidae)
Peranan: Termasuk hama pasca panen, memakan beras di gudang dan digunakan sebagai inang dari Trichogramma sp.
5.
Description: D:\bht saat ini\koksi.jpg
Verania sp
(Coleoptera: Coccinelidae)
Peranan: Kumbang koksi atau kumbang kubah sebagai predator larva kutu daun, dan sebagai hama.
6.
Description: D:\PRINT\P_20151126_133558.jpg
Chillo sacchariphagus
(Lepidoptera: Crambidae)
Peranan: Ulat penggerek batang tebu, larva masuk kebatang tebu dan menggerek hingga ke akar.
7.
Description: D:\PRINT\P_20151126_133306.jpg
Catesia flavipes
(Hymenoptera: Braconidae)
Peranan: Parasitoid larva, termasuk lebah dengan metamorfosis sempurna.


3.2 Pembahasan
3.2.1 Trichogramma sp (Hymenoptera: Trichogrammatidae)
Kingdom          : Animalia
Phillum             : Arthopoda
Kelas                 : Insekta
Ordo                 : Hymenoptera
Subordo            : Clistrogastra
Family               : Trichogrammatidae
Genus               : Trichogramma
Spesies              : Trichogramma sp
Serangga ini merupakan parasit yang utama pada telur penggerek tanaman padi dan tebu, diantaranya Chilooryze B.FI, Scirpophaga incertulas Walker dan Tryporiza Fr (Kalshoven, 1981)
Parasitoid telur Trichogramma japonicum memiliki panjang tubuh 0,75 mm dengan tubuh berwarna hitam dan mata merah yang khas. Tarsus dengan tiga ruas. Sayap depan sangat lebar dengan rambut-rambut yang membentuk garis, vena marginal dan stignal membentuk kurva tunggal. Sayap belakang sempit dan berambut apabila dipelihara pada suhu 30o C dan kelembapan 80% tubuh berwarna cokelat kehitaman, rambut-rambut pada sayap depan panjang, ovipositor keluar di ujung abdomen. Imago jantan mempunyai antenna berbentuk clavus dengan 30-40 rambut, tiap rambut panjangnya 3 kali lebar antenna (Nishida dan Torii, 1970). Ovipositor pada betina hampir satu setengah kali lebih panjang daripada tibia belakang yang memungkinkan betina untuk meletakkan telur ke dalam telur yang tertutup bulu. Ukuran telur sekitar 0,31mm. rasio jenis kelamin dewasa jantan dan betina adalah 1:2,3. Parasitoid ini merupakan parasitoid yang hidup berkelompok (Matnawy, 1991).
Larva Trichogramma terdiri dari tiga instar. Setelah mencapai instar 3 (3-4 hari setelah telur terparasit), telur penggerek batang berubah warnanya menjadi gelap atau hitam. Larva kemudian berkembang menjadi pupa. Setelah 4-5 hari, pupa berubah menjadi imago, dan keluar dari telur inang dengan membuat lubang bulat pada kulit telur. Daur hidup sejak telur diletakkan hingga imago muncul sekitar 8 hari. Setiap betina biasa menghasilkan telur sebanyak 50 butir. Perkembangbiakan dengan perkawinan atau parthenogenesis. Parasitoid betina yang kawin menghasilkan keturunan betina dan jantan, sedangkan yang tidak kawin akan menghasilkan jantan saja.
Pada saat pemarasitan, parasitoid Trichogramma japonicum betina akan menguji telur dengan memukulnya menggunakan antenna, menggerek masuk ke dalam telur inang dengan ovipositornya dan meletakkan satu atau lebih telur tergantung ukuran telur inang. Pada saat Trichogramma japonicum betina menemukan inangnya, biasanya akan tinggal dekat atau menetap pada inangnya untuk periode yang panjang selama terjadinya pemarasitan (Mourir, 1986). 
Populasi parasitoid dipengaruhi oleh keberadaan inang dan kondisi lingkungan. Populasi inang yang rendah menyebabkan parasitoid tidak berkembang, parasitoid dewasa aktif pada siang hari dan terbang menuju ke arah sumber cahaya. Tingkat pemarasitan di lapangan berkisar antara 40% (Pracaya, 2010). 

3.2.2 Sturmiopsis sp (Diptera: Tachinidae)
Siklus hidup dari telur hingga menjadi imago rata-rata 40,5  (31-49) hari
dengan masa telur 5-11 hari, rata-rata masa tempayak 18,7 (15-24) hari dan rata-
rata masa pupa 12,8 hari (11-14) hari. Perkembangbiakan lalat parasitoid hampir sama dengan lalat rumah, dimana lalat betina mengalami bunting 1-2 minggu. Telur yang telah dibuahi ditahan dalam uterus, kerapkali penetasan terjadi dalam organ tersebut dan dapat juga terjadi tempayak dikeluarkan dengan masih diselubungi lapisan kulit telur yang tipis. Larva dari ordo diptera disebut sebagai ulat atau tempayak, dimana bagian kepala atau tubuh tidak dapat dibedakan, selalu tidak bertungkai atau tidak berkaki (Oka, 1995).

3.2.3 Tetrastichus inferens (Hymenoptera: Eulophidae)
Tetrastichus schoenobii Ordo : Hymenoptera, Famili : Eulophidae. Parasitoid ini biasanya memparasit telur dan pupa. Sebelum oviposisi betina menyeleksi telur penggerek dalam massa telur. Tiap parasitoid betina meletakkan satu telur pada tiap telur penggerek. Butuh waktu 1 – 2 hari bagi telur parasitoid untuk menetas. Perkembangan larva terjadi dalam telur inang. Jika protein sebutir telur telah habis, larva parasitoid akan berpindah ke telur lainnya. Tiap larva parasitoid akan berpindah ke telur penggerek lainnya. Tiap larva parasitoid membutuhkan 3 butir telur inang untuk berkembang. Parasitoid dewasa akan muncul 1 – 2 hari setelah oviposisi (Pracaya, 2007)

3.2.4 Corcyra cephalonica (Lepidoptera: Pyralidae)
Klasifikasi Corcyra cephalonica adalah:
Kingdom: Animalia
Phillum: Arthopoda
Kelas: Insekta
Ordo: Lepidoptera
Subordo: Mikrolepidoptera
Family: Pyralididae
Genus: Corcyra
Spesies: Corcyra cephalonica
Ngengat Corcyra cephalonica merupakan salah satu hama penting pada penggilingan beras dan tepung sering pula disebut tawny. Serangga ini toleran pada kelembapan tinggi dan ditemukan di seluruh dunia, terutama di daerah tropika. Walaupun mampu memakan biji utuh, hama ini lebih sering ditemukan cepat berbiak sebagai hama sekunder. Daur hidup optimum selama 26-27 hari pada 30-32,5 OC dengan kelembapan 70%. Imago berwarna cokelat agak pucat dengan ukuran panjang tubuhnya sekitar 11-12 mm. Panjang sayap apabila direntangkan sekitar 11-15 mm. Tepi bagian atas dari sayapnya ini sama sekali tidak ada bercak tetapi mempunyai vena yang berwarna agak gelap. Tepi atas bagian sayap yang belakang dari kupu-kupu jantan dapat dikatakan berwarna agak gelap. Palpi lialis tampak melengkung ke atas atau lurus di depan kepala (Matnawy, 1991).
Hama ini bertelur sebanyak 400 butir. Warna telur putih dan bertekstur halus. Bentuknya lonjong dengan panjang sekitar 0,3 x 0,5 mm, menempel pada bahan pangan atau serat karung di penyimpanan. setelah 10 hari, telur akan menetas dan menjadi larva. Larva berwarna krem sampai putih kecuali bagian kapsul kepala dan protoraks berwarna coklat,  panjang tubuh lebih kurang 17 mm. biasanya larva membuat pintalan yang mengandung kotoran dan sisa-sisa makanan. Warna pintalan tersebut sesuai dengan objek yang diserangnya, apabila yang diserangnya beras putih, warna pintalannya juga putih. Selanjutnya, ulat tersebut menjadi kepompong setelah 9 hari. Kepompongnya berwarna kuning coklat, panjangnya sekitar 8 mm. kepompong terletak dalam kokon yang warnanya putih. Kepompong kemudian akan menjadi ngengat setelah 7 hari (Pracaya, 2007).

3.2.4 Verania sp (Coleoptera: Coccinelidae)
Klasifikasi dari Verania sp adalah sebagai berikut:
Coccinellidae
Kumbang ini berukuran kecil: hanya 7-8 mm. Tetapi kumbang ini rakus makan beberapa jenis kutu. Bila tidak diusir oleh semut, kumbang kubah bisa dijumpai pada tempat di mana kutu-kutu berkumpul pada pohon kopi. Kalau menemukan kutu-kutu, kumbang kubah tetap di sana dan mulai makan. Setelah matahari terbit, kumbang dewasa mencari makanan. Kumbang kubah dipergunakan sebagai musuh alami. Pemilik rumah kaca sudah memakai kumbang kubah untuk mengendalikan kutu daun dan kutu kebul pada tanamannya (Matnawy, 1991).
Kumbang helm biasanya meletakkan telur pada bagian tanaman yang ada kutu-kutu. Kelompok sekitar 50 butir telur atau lebih diletakkan tidak beraturan, pada daun atau ranting. Larva setiap jenis kumbang helm berwarna berbeda, tapi mirip dengan dewasa. Kumbang hitam berbintik merah mempunyai larva abu-abu tua dengan tanda merah. Larva rakus. Ratusan kutu-kutu dimakan setiap hari. Kepompong menyerupai kumbang dewasa yang menetap pada tanaman. Kumbang dewasa mudah diketahui, bulat dan mengkilat seperti helm kecil.

3.2.6 Chillo sacchariphagus (Lepidoptera: Crambidae)
Di Indonesia terdapat enam jenis penggerek batang yaitu penggerek batang bergaris (Chilo sacchariphagus Bojer), penggerek batang berkilat (Chilo auricilius Dudgeon), penggerek batang abu-abu (Tetramous scistaceana Sn), penggerek batang kuning (Chilo infuscatelus Sn.), penggerek batang jambon (Sesamia inferens Walk), dan penggerek batang raksasa ( Phragmataecia castanea Hubner). Dari keenam jenis tersebut, yang paling dominan keberadaannya adalah hama penggerek batang bergaris dan berkilat, sedangkan penggerek batang raksasa hingga saat ini hanya terdapat pada perkebunan tebu (Elzinga, 2004). 
Gejala serangannya yaitu terdapat bercak putih pada daun bekas gerekan yang tidak teratur, berkas ini tidak menembus kulit luar daun. Pada penggerek bergaris bercak-bercak lebih lebar dan panjang (tidak beraturan) sedangkan pada penggerek berkilat, bercak daun lebih oval atau pendek.  Setelah menggerek daun ulat masuk ke batang tebu melalui pelepah. Selanjutnya pada batang tampak adanya lubang gerek dipermukaan batang dan jika dibelah terlihat lorong gerek yang memanjang. Jika gerekan mengenai titik tumbuh, daun muda akan kering dan mati.
Telur berbentuk oval berwarna putih kekuningan yang diletakkan berkelompok yang tersusun seperti genting dalam 2-3 baris atau 3-5 baris, antara 7-30 butir. Larva yang baru menetas panjangnya ± 2,5 mm, berwarna kelabu atau kuning kemerahan, semakin tua menjadi kuning coklat dan garis-garis hitam pada permukaan abdomen sebelah atas semakin jelas. Larva menggerek jaringan dalam daun muda yang masih menggulung sehingga ketika daun membuka tampak bercak-bercak putih tidak teratur. Kepompong agak keras, berwarna coklat kehitaman. Kepompong betina biasanya lebih besar dibandingkan jantan. Imago atau kupu mempunyai sayap dan dada berwarna kecoklatan. Abdomen betina biasanya lebih besar dibandingkan yang jantan.
Serangan pada tanaman tebu yang telah beruas menyebabkan kerusakan ruas, pertumbuhan terhambat, batang mudah patah, dan dapat juga menyebabkan kematian batang bila titik tumbuh batang terserang. Pada tebu yang telah beruas, sebagian kerugian dapat berupa kerugian total dari batang-batang mati atau busuk yang tidak dapat digiling dan sebagian lagi berupa penurunan boot tebu dan rendemen akibat kerusakan pada ruas-ruas batang. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa serangan ruas sebesar 1 persen mampu menurunkan 0,74 persen hasil Kristal gula. 20 persen ruas yang terserang hama penggerek batang dapat menurunkan hasil gula paling sedikit 10 persen.

3.2.7 Catesia flavipes (Hymenoptera: Braconidae)
Imago Cotesia  flavipes berwarna  hitam  sehingga  bisa  disebut  sebagai parasitoid hitam. Kaki dan antenanya pendek dan berwarna merah akan tetapi sebagian kaki belakangnya berwarna kecoklatan. Seperti pada  umumnya serangga, antena imago jantan lebih panjang dibandingkan parasitoid betina. Tegulae, stigma dan vena sayap coklat kemerahan. Segmen abdomen pertama melebar  di  belakang. Ovipositor pada parasitoid betina  pendek. Parasitoid betina  dapat  meletakkan telur hingga 20 butir dalam tubuh inang. Imago parasitoid dapat hidup 5 sampai 7 hari. Ukuran kelompok telur yang diletakkan pada inang sangat ditentukan oleh kuantitas peletakan telur. Semakin banyak oviposisi, ukuran kelompok telur yang diletakkan pada inang akan semakin menurun. Pada umumnya parasitoid betina meletakkan kurang lebih 85% dari seluruh jumlah telur yang dapat mereka hasilkan pada dua ekor larva inang. Sisa 15% telur yang dapat dihasilkan diletakkan pada larva inang yang ketiga. Jadi meskipun betina menusukkan ovipositornya pada larva keempat, kelima dan seterusnya, tidak ada lagi telur yang dapat diletakkan pada larva inang tersebut (Borror, 1996).
Cotesia flavipes adalah endoparasitoid  gregarious  koinobiont,  Maksud endoparasit adalah parasitoid yang berkembang di dalam tubuh inangnya. Sedangkan gregarious  parasitoid  adalah  jika  parasitoid tersebut dapat  hidup bersama parasitoid lain pada tubuh atau dapat berkembang pada tubuh inang secara berkelompok. Dan yang dimaksud dengan koinobiont adalah parasitoid yang jika memparasit larva maka larva yang diparasit dapat terus hidup. Jadi jika  memparasit larva maka Cotesia flavipes dapat  berkembang  secara berkelompok  di  dalam  tubuh  larva  inang dan larva yang  diparasit  tidak akan terbunuh tapi perkembangannya dapat terhambat karena nutrisi pada tubuhnya dihisap  oleh Cotesia  flavipes.  Serangga  parasitoid ini  menyimpan  telurnya  di dalam hemocele larva inang. Cara  seekor  imago parasitoid memilih inang oleh sangat  berpengaruh terhadap  kelangsungan keturunannya. Oleh karena itu, di samping  faktor nutrisi,  ketersediaan inang  yang  sesuai  juga  merupakan  hal  yang  penting (Borror, 1996).

IV. KESIMPULAN
Setelah melakukan percobaan ini, maka dapat disimpulkan:
1.      Setiap musuh alami dari serangga hama memiliki klasifikasi sendiri.
2.      Karakteristik musuh alami serangga hama berbeda antara yang satu dengan yang lain.
3.      Populasi suatu hama dapat ditekan dengan keberadaan musuh alami.
4.      Musuh alami dapat dijadikan sebagai cara dalam menanggulangi ledakan populasi hama.
5.      Pengendalian dengan menggunakan musuh alami merupakan salah satu bagian pengendalian hama terpadu.


DAFTAR PUSTAKA

Borror, D.J., Triplehom, C.A. and N.F. Johnson. 1996. Pengenalan Pelajaran Serangga. Edisi VI. UGM press. Yogyakarta.
Elzinga RJ. 2004. Fundamentals of Entomology 6th Edition. PerasonEducation Inc. New Jersey.
Harahap dan Tjahyono, 1997. Hama dan Penyakit Utama Padi di Lahan Pasang Surut. Monograf. Jakarta.
Kalshoven, L.G.E. 1981. Pest of Crop in Indonesia. PT. Ichtiar Baru. Jakarta.
Matnawy, H. 1991. Perlindungan Tanaman. Kanisius. Yogyakarta.
Mourir, H., 1986. Notes on the life history of Labia minor (L.) (Dermaptera), a potential predator of housefly eggs and larvae (Diptera, Musca domestica L.). Entomol Medd 53:143.
Oka, I.N. 1995. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Pracaya, 2007. Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya. Jakarta.
Pracaya, 2010. Hama dan Penyakit Tanaman Jilid 2. Penebar Swadaya. Jakarta.






LAMPIRAN