PENGENALAN ORDO HEMIPTERA
(Praktikum Bioekologi Hama Tumbuhan)
Oleh
Irvan Saputra
1414121114
Kelompok 10
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertanian adalah bidang yang memegang peranan penting dalam penyediaan
pangan dunia, melalui budidaya tanaman pangan, perkebunan, dan hortikultura.
Akan tetapi, peningkatan budidaya tanaman seringkali dihadapkan pada masalah
hama yang dapat menurunkan kuantitas dan kualitas tanaman. Penyebab hama
tanaman dapat berupa serangga dan hewan, tungau, dan moluska. Kerugian yang
ditimbulkannya beragam, tergantung beberapa faktor, seperti faktor makanan,
iklim, musuh alami dan manusia sendiri. Sehubungan Indonesia terletak di daerah
tropis, maka masalah gangguan serangan hama tanaman hampir selalu ada sepanjang
tahun, hal ini disebabkan faktor lingkungan yang sesuai bagi perkembangan
populasi hama. Selain itu, tanaman inang yang rentan menyebabkan hama dengan
mudah menyerang tanaman tersebut.
Penyebab hama sebagian besar adalah berasal dari golongan serangga,
namun demikian serangga yang berperan sebagai hama ternyata hanya sedikit,
sedangkan banyak serangga merupakan serangga berguna yang dapat berperan
sebagai parasitoid, predator, penyerbuk (pollinator), pengurai (dekomposer),
dan serangga industri. Menurut banyak ahli entomologi, serangga terdiri 30
ordo, namun hanya 13 ordo yang merupakan ordo penting dalam perlindungan
tanaman. Pengenalan gejala serangan hama sangat penting untuk diketahui karena
untuk menentukan binatang penyebabnya umumnya lebih mudah diketahui dari gejala
serangannya. . Gangguan serangan hama pada tanaman sangat merugikan, sehingga
upaya pengendaliannya harus senantiasa diupayakan.
Kerusakan oleh serangga dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu kerusakan
langsung dan kerusakan tidak langsung. Kerusakan langsung terdiri dari konsumsi
bahan yang disimpan oleh serangga, kontaminasi oleh serangga dewasa, pupa,
larva, telur, kulit telur, dan bagian tubuhnya, serta kerusakan wadah bahan
yang disimpan. Kerusakan tidak langsung antara lain adalah timbulnya panas
akibat metabolisme serta berkembangnya kapang dan mikroba lain.
1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.
Mengetahui
karakteristik dari serangga Ordo Hemiptera.
2.
Memahami
siklus hidup serangga Ordo Hemiptera.
3.
Mengidentifikasi
jenis-jenis serangga Ordo Hemiptera sebagai hama bagi tanaman budidaya.
II. METODOLOGI PRAKTIKUM
2.1 Alat dan Bahan
Adapun alat-alat yang digunakan pada
praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.
Pena,
2.
Buku
tulis,
3.
Kertas
A4,
4.
Handphone.
Adapun
bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah
awetan serangga Ordo Hemiptera dalam cawan petri.
2.2 Cara Kerja
Adapun cara kerja dari praktikum kali ini diantaranya sebagai berikut.
1.
Praktikan
diharapkan menuju ke kelompok kerja masing-masing. Hendaknya dilakukan kerja
sama dan selalu mendiskuksikan substansi praktikum dalam suasana cooperative
learning.
2.
Praktikan
mendengarkan dan mencatat para asisten memberikan penjelasan dan pemahaman
mengenai serangga Ordo Hemiptera sebagai hama tanaman.
3.
Praktikan
memperhatikan dan mencatat segala penjelasan yang diberikan asisten praktikum.
4. Asisten memberikan arahan pada masing-masing
kelompok untuk mengamati dengan seksama dan menggambarnya dengan sebaik
mungkin. Kemudian dibahas dan didiskuksikan dalam kelompok kerja atau kelompok
praktikum.
III. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan
pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
|
No
|
Nama
|
Gamabar
|
|
1.
|
Kepik
Penghisap Polong
Ripthortus linearis (Hemiptera:Coreidae)
Klasifikasi:
Kingdom
: Animalia
Filum
: Arthropoda
Kelas
: Insecta
Ordo
: Hemiptera
Famili
: Coreoidea
Genus
: Riptortus
Spesies
: Riptortus linearis
|
|
|
2.
|
Kutu
Daun-Aphis sp
(Hemiptera:Aphididae)
Klasifikasi:
Kingdom :
Animalia
Filum :
Arthropoda
Kelas : Insecta Ordo : Homoptera
Famili :
Aphididae
Genus : Aphis
Spesies : Aphis glycines
|
|
|
3.
|
Bapak
Pucung-Dysdercus cingulatus
(Hemiptera:Physhocoridae)
Klasifikasi:
Kingdom :Animalia
Filum :Arthropoda
Kelas :Insecta
Ordo : Hemiptera
Famili :Pyrrhocoridae
Genus :Dysdercus
Spesies :Dysdercus cingulatus
|
|
|
4.
|
Walang
sangit-Leptocorixa acuta
(Hemiptera:Alydidae)
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Hemiptera Famili : Alydidae Genus : Leptocorixa Spesies : Leptocorixa acuta |
|
|
5.
|
Kepik
Hijau-Nezara viridula
(Hemiptera:Pentatomidae)
Klasifikasi:
Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Hemiptera Family : Pentatomidae Genus : Nezara Spesies : Nezara viridula |
|
|
6.
|
Helopeltis sp
(Hemiptera:Miridae)
Klasifikasi:
Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Hemiptera Family : Miridae Genus : Helopeltis Spesies : Helopeltis sp |
|
3.2 Pembahasan
1.2.1 Kepik Penghisap Polong - Ripthortus linearis
(Hemiptera:Coreidae)
Siklus
hidup R. linearis meliputi stadium telur, nimfa yang terdiri
atas lima instar, dan stadium imago. Imago berbadan panjang dan berwarna kuning
kecokelatan dengan garis putih kekuningan di sepanjang sisi badannya. Imago
datang pertama kali di pertanaman kedelai saat tanaman mulai berbunga dengan
meletakkan telur satu per satu pada permukaan atas dan bawah daun. Seekor imago
betina mampu bertelur hingga 70 butir selama 4-47 hari. Imago jantan dan betina
dapat dibedakan dari bentuk perutnya, yaitu imago jantan ramping dengan panjang
11-13 mm dan betina agak gemuk dengan panjang 13-14 mm (Pracaya 2010).
Kepik
menyerang dengan cara menghisap polong sehingga menjadi kosong atau
kempis (biji tidak terbentuk) dan polong muda akan gugur. Sedangkan polong tua
yang diserang kepik ini menyebabkan biji keriput dan berbintik-bintik kecil
berwarna hitam, selanjutnya biji tersebut akan membusuk.
Pada
polong muda menyebabkan biji kempis dan kadang-kadang polong gugur. Serangan
yang terjadi pada fase pertumbuhan polong menyebabkan biji dan polong kempis,
kemudian mengering. Serangan yang terjadi pada fase pengisian biji menyebabkan
biji busuk dan menghitam. Serangan polong tua menyebabkan adanya bintik hitam
pada biji. Imago mulai datang di pertanaman sejak pembentukan bunga,
Akibat serangannya menyebahkan biji dan polong kempis, polong gugur, biji
menjadi busuk, berwarna hitam; kulit biji keriput, dan adanya bercak coklat
pada kulit biji. Periode kritis tanaman terhadap serangan pengisap polong
adalah stadia pengisian biji (Harahap dan Tjahyono,
1997).
3.2.2 Kutu Daun-Aphis sp
(Hemiptera:Aphididae)
Bersifat
partenogenesis, yaitu telurnya berkembang menjadi nimfa tanpa terjadi
pembuahan, kemudian dilahirkan oleh induknya. Lama hidupnya
antara 13 – 18 hari dengan 4 – 8 kali instar. Nimfa yang baru terbentuk langsung
mengisap cairan tanaman secara bergerombol. Nimfa dewasa berwarna hitam
dan berkilau. Antenenya lebih pendek dari pada abdomen. Betina menjadi
dewasa setelah berumur 4 – 20 hari. Panjang tubuh yang bersayap rata-rata 1,4
mm dan yang tidak bersayap rata-rata 1,5 mm. Mulai menghasilkan keturunan pada
umur 5 – 6 hari dan berakhir sepanjang hidupnya.
Stadium
yang merusak adalah nimfa dan imago yang umumnya mengisap pada bagian daun
permukaan bawah, kuncup, batang muda. Tanaman yang terserang akan terhambat
pertumbuhannya menjadi lemah dan kehilangan warna daun, mengkerut dan akhirnya
menyebabkan penurunan hasil produksi. Serangan berat pada fase pembungaan
atau pembentukan polong dapat menurunkan hasil panen. Selain itu, kutu daun
kacang juga merupakan vektor penyakit (Matnawy, 1991).
Tanaman
inang :
Kacang
panjang dan jenis tanaman kacang-kacangan lainnya (Leguminoseae),
kapas-kapasan (Malvaelae), waluh-waluhan (Cucurcitaceae), dll.
3.2.3 Bapak Pucung-Dysdercus cingulatus
(Hemiptera:Physhocoridae)
Telur bapak pucung biasanya diletakan
dibawah tanaman inang atau di tempat yang terlindung pada lubang kecil. Lubang
tersebut kemudian ditutup dengan butiran tanah atau serasah. Jumlah telur
sekitar 100 yang dibagi dalam 8 kelompok. Untuk perkembangannya, telur perlu
kelembaban yang tinggi. Jika keadaan kering, telur akan mati. Telur menetas
dalam 5 hari pada suhu 27 derajat Celcius, atau 8 hari pada suhu 23 derajat Celcius.
Nimfa akan mengalami beberapa kali
proses pergantian kulit atau ekdisis. Tiap tahapan diantara pergantian kulit
itu disebut instar. Nimfa bapak pucung mengalami 5 kali instar. Warna nimfa
yang telah dewasa penuh adalah merah dengan bercak hitam pada sayapnya. Panjang
nimfa 10-15 mm. Lamanya periode nimfa adalah 21 hari pada suhu 27 derajat
celcius, atau 35 hari pada suhu 23 derajat celcius. Masa perkawinan bapak
pucung 2-6 hari dan mulai bertelur 3-8 hari kemudian. ( Pracaya, 2008 ).
Pada dasarnya bapak
pucung merupakan hama, baik serangga muda maupun dewasa, yang menyerang tanaman
dari keluarga Malvaceae (kapas, rosela, dan okra) serta keluarga Bombacaceae
(kapuk randu) ( Pracaya, 2008 ).
3.2.4 Walang sangit-Leptocorixa acuta
(Hemiptera:Alydidae)
Walang
sangit (L. acuta) mengalami metamorfosis sederhana yang perkembangannya dimulai
dari stadia telur, nimfa dan imago. Imago berbentuk seperti kepik, bertubuh
ramping, antena dan tungkai relatif panjang. Warna tubuh hijau kuning
kecoklatan dan panjangnya berkisar antara 15 – 30 mm. Telur berbentuk seperti
cakram berwarna merah coklat gelap dan diletakkan secara berkelompok. Kelompok
telur biasanya terdiri dari 10 - 20 butir. Telur-telur tersebut biasanya
diletakkan pada permukaan atas daun di dekat ibu tulang daun. Peletakan telur
umumnya dilakukan pada saat padi berbunga. Telur akan menetas 5 – 8 hari
setelah diletakkan. Perkembangan dari telur sampai imago adalah 25 hari dan
satu generasi mencapai 46 hari.
Nimfa berwarna kekuningan, kadang-kadang nimfa tidak terlihat karena warnanya sama dengan warna daun. Stadium nimfa 17 – 27 hari yang terdiri dari 5 instar. Imago walang sangit yang hidup pada tanaman padi, bagian ventral abdomennya berwarna coklat kekuning-kuningan dan yang hidup pada rerumputan bagian ventral abdomennya berwarna hijau keputihan. Aktif menyerang pada pagi dan sore hari, sedangkan di siang hari berlindung di bawah pohon yang lembab dan dingin (Elzinga, 2004).
Perkembangan yang baik bagi hama
walang sangit terjadi pada suhu antara 27 – 30 C. Perkembangan walang sangit
telah diketahui Gejala Serangan dan Kerusakan yang ditimbulkanterjadi pada
waktu temperatur sedang, curah hujan rendah dan sinar matahari terang. Walang
sangit dapat berkembang biak di lahan dataran rendah maupun di dataran tinggi.
Nimfa dan imago mengisap bulir padi
pada fase masak susu, selain itu dapat juga mengisap cairan batang padi. Malai
yang diisap menjadi hampa dan berwarna coklat kehitaman. Walang sangit mengisap
cairan bilir padi dengan cara menusukkan styletnya.Nimfa lebih aktif daripada
imago, tapi imago dapat merusak lebih banyak karena hidupnya lebih lama.
Hilangnya cairan biji menyebabkan biji padi mengecil jika cairan dalam bulir
tidak dihabiskan. Dalam keadaan tidak ada bulir yang matang susu, maka dapat
menyerang bulir padi yang mulai mengeras, sehingga pada saat stylet ditusukkan
mengeluarkan enzim yang dapat mencerna karbohidrat (Kalshoven, 1981).
3.2.5 Kepik Hijau-Nezara viridula
(Hemiptera:Pentatomidae)
Serangga
ini berwarna hijau, memiliki sepasang antena, memiliki sepasang sayap yang
berbentuk bangun segitiga, memiliki mata fasek, memiliki tiga pasang tungkai.
Panjang kepik hijau sekitar 16 mm. Telur diletakkan berkelompok pada permukaan
bawah daun. Nimfa terdiri-dari 5 instar. Instar awal hidup bergerombol di
sekitar bekas telur, kemudian menyebar. Siklus hidup: 4 – 8 minggu:
- Telur 5 – 7 hari
- Larva: 21 – 28 hari
Kepik hijau (Nezara viridula) memiliki sepasang sungut yang beruas ruas. Memiliki sayap dua pasang (beberapa spesies ada yang tidak bersayap). Sayap depan menebal pada bagian pangkal. Bentuk tubuh pipih, memiliki kaki yang pendek serta kepala yang terlihat membungkuk ke bawah. Umumnya memiliki sayap dua pasang (beberapa spesies ada yang tidak bersayap). Sayap depan menebal pada bagian pangkal (basal) dan pada bagian ujung membranus. Bentuk sayap tersebut disebut Hemelytra. Sayap belakang membranus dan sedikit lebih pendek daripada sayap depan. Pada bagian kepala dijumpai adanya sepasang antene, mata facet dan occeli, mempunyai alat mulut menusuk dan meghisap yang muncul dari depan kepala dan dinamakan stylet (Oka, 1995).
- Telur 5 – 7 hari
- Larva: 21 – 28 hari
Kepik hijau (Nezara viridula) memiliki sepasang sungut yang beruas ruas. Memiliki sayap dua pasang (beberapa spesies ada yang tidak bersayap). Sayap depan menebal pada bagian pangkal. Bentuk tubuh pipih, memiliki kaki yang pendek serta kepala yang terlihat membungkuk ke bawah. Umumnya memiliki sayap dua pasang (beberapa spesies ada yang tidak bersayap). Sayap depan menebal pada bagian pangkal (basal) dan pada bagian ujung membranus. Bentuk sayap tersebut disebut Hemelytra. Sayap belakang membranus dan sedikit lebih pendek daripada sayap depan. Pada bagian kepala dijumpai adanya sepasang antene, mata facet dan occeli, mempunyai alat mulut menusuk dan meghisap yang muncul dari depan kepala dan dinamakan stylet (Oka, 1995).
Imago (bakal kepik) mulai datang dipertanaman sejak pembentukan bunga. Serangan hama ini menyebabkan biji dan polong kempis, polong gugur, biji menjadi busuk, berwarna hitam, kulit biji keriput dan adanya bercak-bercak coklat pada kulit biji. Periode kritis tanaman terhadap serangan kepik hijau adalah saat stadia pengisian biji.
Metamorfose bertipe sederhana (paurometabola) yang dalam perkembangannya melalui stadia : telur —> nimfa —> dewasa. Bnetuk nimfa memiliki sayap yang belum sempurna dan ukuran tubuh lebih kecil dari dewasanya.
Gejala serangan kepik hijau (Nezara viridula) pada tanaman padi (Oryza sativa), kepik hijau (Nezara viridula) membuat tanaman padi yang diserangnya mengakibatkan bulir-bulir padi menjadi hampa atau kosong. Serangan kepik hijau (Nezara viridula) yang menyerang tanaman padi pada saat penggilingan menjadikan hasil panen yang menurun, hal ini otomatis menyebabkan kerugian materil karna hasl yang didapat tidak sesuai dengan jumlah bulir-bulir padi.
Pada
batang terdapat bekas tusukan atau hisapan kepik. Pada buah tanaman
padi yang diserap memiliki noda bekas isapan atau tusukan. Nimfa dan imago
merusak polong dan biji kedelai dengan cara menghisap cairan biji. Serangan
yang terjadi pada fase pertumbuhan polong dan perkembangan biji menyebabkan
polong dan biji kempis, kemudian mengering. Serangan terhadap polong muda
menyebabkan biji kempis dan seringkali polong gugur. Serangan yang terjadi pada
fase pengisian biji menyebabkan biji menghitam dan busuk
3.2.6 Helopeltis sp
(Hemiptera:Miridae)
Telur mulai diletakkan serangga betina pada pucuk
jambu mete pada hari kelima sampai ketujuh dari saat serangga menjadi dewasa.
Telur diletakkan secara berkelompok 2-3 butir dengan panjang telur 0,45 mm - 0, 50 mm dalam jaringan
tanaman yang lunak seperti bakal buah, ranting muda, bagian sisi bawah tulang,
daun, tangkai buah, dan buah yang masih muda (Mourir, 1986).
waktu yang diperlukan saat menetas sampai menjadi
dewasa adalah 11-15 hari. Selama itu, nimfa mengalami lima kali ganti kulit.
Pada tanaman kakao, periode nimfa berkisar antara 11-13 hari. Periode stadia
nimfa berkisar antara 10-14 hari. Instar pertama berwarna coklat bening, yang
kemudian berubah menjadi coklat. Untuk nimfa instar kedua, tubuh berwarna
coklat muda, antena coklat tua, tonjolan toraks mulai terlihat. Nimfa instar
ketiga tubuhnya berwarna coklat muda, antena coklat tua, tonjolan pada toraks
terlihat jelas dan bakal sayap mulai terlihat.
Helopeltis sp merupakan hama
penting pada tanaman kakao di Jawa dan Sumatera Utara. Bagian tanaman yang
diserang adalah daun muda, tangkai daun, pucuk, dan buah. Pucuk yang terserang
terutama yang masih lunak dengan daun belum membuka. Buah yang disenangi adalah
yang masih muda dan yang mendekati matang. Buah yang terserang menunjukan bekas
tusukan berupa bercak-bercak hitam pada permukaan buah. Pada serangan berat,
seluruh permukaan buah dipenuhi oleh bekas tusukan berwarna hitam dan kering, kulitnya mengeras serta
retak-retak.
IV. KESIMPULAN
Setelah
melakukan praktikum ini, maka dapat disimpulkan:
1.
Ordo
Hemiptera merupakan serangga sebagai hama budidaya tanaman.
2.
Siklus
hidup serangga tergantung pada kelembapan udara dan faktor lingkungan lainnya.
3.
Setiap
serangga memiliki karakteristik yang khas antara satu sama lain.
4.
Serangga
Ordo Hemiptera menjadi hama tanaman pangan, perkebunan, dan hortikultura.
5.
Tanaman
atau bagian tanaman yang terkena serangan hama akan menunjukan gejala dan
tanda.
DAFTAR
PUSTAKA
Elzinga RJ. 2004. Fundamentals of
Entomology 6th Edition. New Jersey: PerasonEducation Inc.
Harahap dan Tjahyono, 1997. Hama dan
Penyakit Utama Padi di Lahan Pasang Surut. Monograf.
Kalshoven, L.G.E. 1981. Pest of Crop in Indonesia. PT. Ichtiar
Baru. Jakarta.
Matnawy, H. 1991. Perlindungan Tanaman. Kanisius.
Yogyakarta.
Mourir, H., 1986. Notes on the life
history of Labia minor (L.) (Dermaptera), a potential predator of housefly eggs
and larvae (Diptera, Musca domestica L.). Entomol Medd 53:143.
Oka, I.N. 1995. Pengendalian Hama Terpadu dan
Implementasinya di Indonesia. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Pracaya. 2008. Hama dan Penyakit
Tanaman. Jakarta: Penebar Swadaya.
Pracaya. 2010. Hama dan Penyakit
Tanaman Jilid 2. Jakarta: Penebar Swadaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar