Jumat, 02 Desember 2016

Pengenalan Ordo Hemiptera



PENGENALAN ORDO HEMIPTERA
 (Praktikum Bioekologi Hama Tumbuhan)







Oleh
Irvan Saputra
1414121114
Kelompok 10






JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015








I. PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Pertanian adalah bidang yang memegang peranan penting dalam penyediaan pangan dunia, melalui budidaya tanaman pangan, perkebunan, dan hortikultura. Akan tetapi, peningkatan budidaya tanaman seringkali dihadapkan pada masalah hama yang dapat menurunkan kuantitas dan kualitas tanaman. Penyebab hama tanaman dapat berupa serangga dan hewan, tungau, dan moluska. Kerugian yang ditimbulkannya beragam, tergantung beberapa faktor, seperti faktor makanan, iklim, musuh alami dan manusia sendiri. Sehubungan Indonesia terletak di daerah tropis, maka masalah gangguan serangan hama tanaman hampir selalu ada sepanjang tahun, hal ini disebabkan faktor lingkungan yang sesuai bagi perkembangan populasi hama. Selain itu, tanaman inang yang rentan menyebabkan hama dengan mudah menyerang tanaman tersebut.
Penyebab hama sebagian besar adalah berasal dari golongan serangga, namun demikian serangga yang berperan sebagai hama ternyata hanya sedikit, sedangkan banyak serangga merupakan serangga berguna yang dapat berperan sebagai parasitoid, predator, penyerbuk (pollinator), pengurai (dekomposer), dan serangga industri. Menurut banyak ahli entomologi, serangga terdiri 30 ordo, namun hanya 13 ordo yang merupakan ordo penting dalam perlindungan tanaman. Pengenalan gejala serangan hama sangat penting untuk diketahui karena untuk menentukan binatang penyebabnya umumnya lebih mudah diketahui dari gejala serangannya. . Gangguan serangan hama pada tanaman sangat merugikan, sehingga upaya pengendaliannya harus senantiasa diupayakan.
Kerusakan oleh serangga dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu kerusakan langsung dan kerusakan tidak langsung. Kerusakan langsung terdiri dari konsumsi bahan yang disimpan oleh serangga, kontaminasi oleh serangga dewasa, pupa, larva, telur, kulit telur, dan bagian tubuhnya, serta kerusakan wadah bahan yang disimpan. Kerusakan tidak langsung antara lain adalah timbulnya panas akibat metabolisme serta berkembangnya kapang dan mikroba lain.
1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui karakteristik dari serangga Ordo Hemiptera.
2.      Memahami siklus hidup serangga Ordo Hemiptera.
3.      Mengidentifikasi jenis-jenis serangga Ordo Hemiptera sebagai hama bagi tanaman budidaya.







II. METODOLOGI PRAKTIKUM



2.1 Alat dan Bahan

Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.      Pena,
2.      Buku tulis,
3.      Kertas A4,
4.      Handphone.
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah  awetan serangga Ordo Hemiptera dalam cawan petri.

2.2 Cara Kerja
Adapun cara kerja dari praktikum kali ini diantaranya sebagai berikut.
1.      Praktikan diharapkan menuju ke kelompok kerja masing-masing. Hendaknya dilakukan kerja sama dan selalu mendiskuksikan substansi praktikum dalam suasana cooperative learning.
2.      Praktikan mendengarkan dan mencatat para asisten memberikan penjelasan dan pemahaman mengenai serangga Ordo Hemiptera sebagai hama tanaman.
3.      Praktikan memperhatikan dan mencatat segala penjelasan yang diberikan asisten praktikum.
4.      Asisten memberikan arahan pada masing-masing kelompok untuk mengamati dengan seksama dan menggambarnya dengan sebaik mungkin. Kemudian dibahas dan didiskuksikan dalam kelompok kerja atau kelompok praktikum.







III. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


3.1 Hasil Pengamatan

Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

No
Nama
Gamabar
1.
Kepik Penghisap Polong
Ripthortus linearis (Hemiptera:Coreidae)
Klasifikasi:
Kingdom              :  Animalia
Filum                    :  Arthropoda
Kelas                    :  Insecta
Ordo                     :  Hemiptera
Famili                   :  Coreoidea
Genus                   :  Riptortus
Spesies                 :  Riptortus linearis
2.
Kutu Daun-Aphis sp
(Hemiptera:Aphididae)
Klasifikasi:
Kingdom         : Animalia
Filum               : Arthropoda
Kelas                : Insecta
Ordo                 : Homoptera
Famili               : Aphididae 
Genus              : Aphis
Spesies            : Aphis glycines
3.
Bapak Pucung-Dysdercus cingulatus
(Hemiptera:Physhocoridae)
Klasifikasi:
Kingdom          :Animalia
Filum               :Arthropoda
Kelas                :Insecta
Ordo                : Hemiptera
Famili              :Pyrrhocoridae
Genus               :Dysdercus
Spesies             :Dysdercus cingulatus


4.
Walang sangit-Leptocorixa acuta
(Hemiptera:Alydidae)
Klasifikasi
Kingdom         :  Animalia
Filum               : Arthropoda
Kelas               :  Insecta
Ordo                : Hemiptera
Famili              : Alydidae
Genus              : Leptocorixa
Spesies            : Leptocorixa  acuta

5.
Kepik Hijau-Nezara viridula
(Hemiptera:Pentatomidae)
Klasifikasi:
Kingdom          Animalia
Filum               : Arthropoda
Kelas               : Insecta
Ordo                : Hemiptera
Family             : Pentatomidae
Genus               Nezara
Spesies            : Nezara viridula
6.
Helopeltis sp
(Hemiptera:Miridae)
Klasifikasi:
Kingdom          Animalia
Filum               : Arthropoda
Kelas               : Insecta
Ordo                : Hemiptera
Family             : Miridae
Genus               Helopeltis
Spesies            : Helopeltis sp


3.2 Pembahasan

1.2.1 Kepik Penghisap Polong - Ripthortus linearis
   (Hemiptera:Coreidae)

Siklus hidup R. linearis meliputi stadium telur, nimfa yang terdiri atas lima instar, dan stadium imago. Imago berbadan panjang dan berwarna kuning kecokelatan dengan garis putih kekuningan di sepanjang sisi badannya. Imago datang pertama kali di pertanaman kedelai saat tanaman mulai berbunga dengan meletakkan telur satu per satu pada permukaan atas dan bawah daun. Seekor imago betina mampu bertelur hingga 70 butir selama 4-47 hari. Imago jantan dan betina dapat dibedakan dari bentuk perutnya, yaitu imago jantan ramping dengan panjang 11-13 mm dan betina agak gemuk dengan panjang 13-14 mm (Pracaya 2010).

Kepik menyerang dengan  cara menghisap polong sehingga menjadi kosong atau kempis (biji tidak terbentuk) dan polong muda akan gugur. Sedangkan polong tua yang diserang kepik ini menyebabkan biji keriput dan berbintik-bintik kecil berwarna hitam, selanjutnya biji tersebut akan membusuk.

Pada polong muda menyebabkan biji kempis dan kadang-kadang polong gugur. Serangan yang terjadi pada fase pertumbuhan polong menyebabkan biji dan polong kempis, kemudian mengering. Serangan yang terjadi pada fase pengisian biji menyebabkan biji busuk dan menghitam. Serangan polong tua menyebabkan adanya bintik hitam pada biji.  Imago mulai datang di pertanaman sejak pembentukan bunga, Akibat serangannya menyebahkan biji dan polong kempis, polong gugur, biji menjadi busuk, berwarna hitam; kulit biji keriput, dan adanya bercak coklat pada kulit biji. Periode kritis tanaman terhadap serangan pengisap polong adalah stadia pengisian biji (Harahap dan Tjahyono, 1997).


3.2.2 Kutu Daun-Aphis sp
         (Hemiptera:Aphididae)

Bersifat partenogenesis, yaitu telurnya berkembang menjadi nimfa tanpa terjadi pembuahan, kemudian dilahirkan oleh induknya. Lama hidupnya antara 13 – 18 hari dengan 4 – 8 kali instar. Nimfa yang baru terbentuk langsung mengisap cairan tanaman secara bergerombol. Nimfa dewasa berwarna hitam dan berkilau. Antenenya lebih pendek dari pada abdomen. Betina menjadi dewasa setelah berumur 4 – 20 hari. Panjang tubuh yang bersayap rata-rata 1,4 mm dan yang tidak bersayap rata-rata 1,5 mm. Mulai menghasilkan keturunan pada umur 5 – 6 hari dan berakhir sepanjang hidupnya.

Stadium yang merusak adalah nimfa dan imago yang umumnya mengisap pada bagian daun permukaan bawah, kuncup, batang muda. Tanaman yang terserang akan terhambat pertumbuhannya menjadi lemah dan kehilangan warna daun, mengkerut dan akhirnya menyebabkan penurunan hasil produksi. Serangan berat pada fase pembungaan atau pembentukan polong dapat menurunkan hasil panen. Selain itu, kutu daun kacang juga merupakan vektor penyakit (Matnawy, 1991).

Tanaman inang :
Kacang panjang dan jenis tanaman kacang-kacangan lainnya (Leguminoseae), kapas-kapasan (Malvaelae), waluh-waluhan (Cucurcitaceae), dll.


3.2.3 Bapak Pucung-Dysdercus cingulatus
         (Hemiptera:Physhocoridae)

Telur bapak pucung biasanya diletakan dibawah tanaman inang atau di tempat yang terlindung pada lubang kecil. Lubang tersebut kemudian ditutup dengan butiran tanah atau serasah. Jumlah telur sekitar 100 yang dibagi dalam 8 kelompok. Untuk perkembangannya, telur perlu kelembaban yang tinggi. Jika keadaan kering, telur akan mati. Telur menetas dalam 5 hari pada suhu 27 derajat Celcius, atau 8 hari pada suhu 23 derajat Celcius.
Nimfa akan mengalami beberapa kali proses pergantian kulit atau ekdisis. Tiap tahapan diantara pergantian kulit itu disebut instar. Nimfa bapak pucung mengalami 5 kali instar. Warna nimfa yang telah dewasa penuh adalah merah dengan bercak hitam pada sayapnya. Panjang nimfa 10-15 mm. Lamanya periode nimfa adalah 21 hari pada suhu 27 derajat celcius, atau 35 hari pada suhu 23 derajat celcius. Masa perkawinan bapak pucung 2-6 hari dan mulai bertelur 3-8 hari kemudian. ( Pracaya, 2008 ).
Pada dasarnya bapak pucung merupakan hama, baik serangga muda maupun dewasa, yang menyerang tanaman dari keluarga Malvaceae (kapas, rosela, dan okra) serta keluarga Bombacaceae (kapuk randu) ( Pracaya, 2008 ).



3.2.4 Walang sangit-Leptocorixa acuta
         (Hemiptera:Alydidae)

Walang sangit (L. acuta) mengalami metamorfosis sederhana yang perkembangannya dimulai dari stadia telur, nimfa dan imago. Imago berbentuk seperti kepik, bertubuh ramping, antena dan tungkai relatif panjang. Warna tubuh hijau kuning kecoklatan dan panjangnya berkisar antara 15 – 30 mm. Telur berbentuk seperti cakram berwarna merah coklat gelap dan diletakkan secara berkelompok. Kelompok telur biasanya terdiri dari 10 - 20 butir. Telur-telur tersebut biasanya diletakkan pada permukaan atas daun di dekat ibu tulang daun. Peletakan telur umumnya dilakukan pada saat padi berbunga. Telur akan menetas 5 – 8 hari setelah diletakkan. Perkembangan dari telur sampai imago adalah 25 hari dan satu generasi mencapai 46 hari.

Nimfa berwarna kekuningan, kadang-kadang nimfa tidak terlihat karena warnanya sama dengan warna daun. Stadium nimfa 17 – 27 hari yang terdiri dari 5 instar. Imago walang sangit yang hidup pada tanaman padi, bagian ventral abdomennya berwarna coklat kekuning-kuningan dan yang hidup pada rerumputan bagian ventral abdomennya berwarna hijau keputihan. Aktif menyerang pada pagi dan sore hari, sedangkan di siang hari berlindung di bawah pohon yang lembab dan dingin (
Elzinga, 2004).

Perkembangan yang baik bagi hama walang sangit terjadi pada suhu antara 27 – 30 C. Perkembangan walang sangit telah diketahui Gejala Serangan dan Kerusakan yang ditimbulkanterjadi pada waktu temperatur sedang, curah hujan rendah dan sinar matahari terang. Walang sangit dapat berkembang biak di lahan dataran rendah maupun di dataran tinggi.
Nimfa dan imago mengisap bulir padi pada fase masak susu, selain itu dapat juga mengisap cairan batang padi. Malai yang diisap menjadi hampa dan berwarna coklat kehitaman. Walang sangit mengisap cairan bilir padi dengan cara menusukkan styletnya.Nimfa lebih aktif daripada imago, tapi imago dapat merusak lebih banyak karena hidupnya lebih lama. Hilangnya cairan biji menyebabkan biji padi mengecil jika cairan dalam bulir tidak dihabiskan. Dalam keadaan tidak ada bulir yang matang susu, maka dapat menyerang bulir padi yang mulai mengeras, sehingga pada saat stylet ditusukkan mengeluarkan enzim yang dapat mencerna karbohidrat (Kalshoven, 1981).

3.2.5 Kepik Hijau-Nezara viridula
         (Hemiptera:Pentatomidae)

Serangga ini berwarna hijau, memiliki sepasang antena, memiliki sepasang sayap yang berbentuk bangun segitiga, memiliki mata fasek, memiliki tiga pasang tungkai. Panjang kepik hijau sekitar 16 mm. Telur diletakkan berkelompok pada permukaan bawah daun. Nimfa terdiri-dari 5 instar. Instar awal hidup bergerombol di sekitar bekas telur, kemudian menyebar. Siklus hidup: 4 – 8 minggu:
- Telur 5 – 7 hari
- Larva: 21 – 28 hari
Kepik hijau (Nezara viridula) memiliki sepasang sungut yang beruas ruas. Memiliki sayap dua pasang (beberapa spesies ada yang tidak bersayap). Sayap depan menebal pada bagian pangkal. Bentuk tubuh pipih, memiliki kaki yang pendek serta kepala yang terlihat membungkuk ke bawah. Umumnya memiliki sayap dua pasang (beberapa spesies ada yang tidak bersayap). Sayap depan menebal pada bagian pangkal (basal) dan pada bagian ujung membranus. Bentuk sayap tersebut disebut Hemelytra. Sayap belakang membranus dan sedikit lebih pendek daripada sayap depan. Pada bagian kepala dijumpai adanya sepasang antene, mata facet dan occeli, mempunyai alat mulut menusuk dan meghisap yang muncul dari depan kepala dan dinamakan stylet (
Oka, 1995).

Imago (bakal kepik) mulai datang dipertanaman sejak pembentukan bunga. Serangan hama ini menyebabkan biji dan polong kempis, polong gugur, biji menjadi busuk, berwarna hitam, kulit biji keriput dan adanya bercak-bercak coklat pada kulit biji. Periode kritis tanaman terhadap serangan kepik hijau adalah saat stadia pengisian biji.

Metamorfose bertipe sederhana (paurometabola) yang dalam perkembangannya melalui stadia : telur —> nimfa —> dewasa. Bnetuk nimfa memiliki sayap yang belum sempurna dan ukuran tubuh lebih kecil dari dewasanya.

Gejala serangan kepik hijau (Nezara viridula)  pada tanaman padi (Oryza sativa), kepik hijau (Nezara viridula) membuat tanaman padi yang diserangnya mengakibatkan bulir-bulir padi menjadi hampa atau kosong. Serangan kepik hijau (Nezara viridula) yang menyerang tanaman padi pada saat penggilingan menjadikan hasil panen yang menurun, hal ini otomatis menyebabkan kerugian materil karna hasl yang didapat tidak sesuai dengan jumlah bulir-bulir padi.
Pada batang terdapat bekas tusukan atau hisapan kepik.  Pada buah tanaman padi yang diserap memiliki noda bekas isapan atau tusukan. Nimfa dan imago merusak polong dan biji kedelai dengan cara menghisap cairan biji. Serangan yang terjadi pada fase pertumbuhan polong dan perkembangan biji menyebabkan polong dan biji kempis, kemudian mengering. Serangan terhadap polong muda menyebabkan biji kempis dan seringkali polong gugur. Serangan yang terjadi pada fase pengisian biji menyebabkan biji menghitam dan busuk


3.2.6 Helopeltis sp
         (Hemiptera:Miridae)

Telur mulai diletakkan serangga betina pada pucuk jambu mete pada hari kelima sampai ketujuh dari saat serangga menjadi dewasa. Telur diletakkan secara berkelompok 2-3 butir dengan panjang telur 0,45 mm - 0, 50 mm dalam jaringan tanaman yang lunak seperti bakal buah, ranting muda, bagian sisi bawah tulang, daun, tangkai buah, dan buah yang masih muda (Mourir, 1986).

waktu yang diperlukan saat menetas sampai menjadi dewasa adalah 11-15 hari. Selama itu, nimfa mengalami lima kali ganti kulit. Pada tanaman kakao, periode nimfa berkisar antara 11-13 hari. Periode stadia nimfa berkisar antara 10-14 hari. Instar pertama berwarna coklat bening, yang kemudian berubah menjadi coklat. Untuk nimfa instar kedua, tubuh berwarna coklat muda, antena coklat tua, tonjolan toraks mulai terlihat. Nimfa instar ketiga tubuhnya berwarna coklat muda, antena coklat tua, tonjolan pada toraks terlihat jelas dan bakal sayap mulai terlihat.

Helopeltis sp merupakan hama penting pada tanaman kakao di Jawa dan Sumatera Utara. Bagian tanaman yang diserang adalah daun muda, tangkai daun, pucuk, dan buah. Pucuk yang terserang terutama yang masih lunak dengan daun belum membuka. Buah yang disenangi adalah yang masih muda dan yang mendekati matang. Buah yang terserang menunjukan bekas tusukan berupa bercak-bercak hitam pada permukaan buah. Pada serangan berat, seluruh permukaan buah dipenuhi oleh bekas tusukan berwarna hitam  dan kering, kulitnya mengeras serta retak-retak.







IV. KESIMPULAN


Setelah melakukan praktikum ini, maka dapat disimpulkan:

1.      Ordo Hemiptera merupakan serangga sebagai hama budidaya tanaman.
2.      Siklus hidup serangga tergantung pada kelembapan udara dan faktor lingkungan lainnya.
3.      Setiap serangga memiliki karakteristik yang khas antara satu sama lain.
4.      Serangga Ordo Hemiptera menjadi hama tanaman pangan, perkebunan, dan hortikultura.
5.      Tanaman atau bagian tanaman yang terkena serangan hama akan menunjukan gejala dan tanda.








DAFTAR PUSTAKA


Elzinga RJ. 2004. Fundamentals of Entomology 6th Edition. New Jersey: PerasonEducation Inc.
Harahap dan Tjahyono, 1997. Hama dan Penyakit Utama Padi di Lahan Pasang Surut. Monograf.
Kalshoven, L.G.E. 1981. Pest of Crop in Indonesia. PT. Ichtiar Baru. Jakarta.
Matnawy, H. 1991. Perlindungan Tanaman. Kanisius. Yogyakarta.
Mourir, H., 1986. Notes on the life history of Labia minor (L.) (Dermaptera), a potential predator of housefly eggs and larvae (Diptera, Musca domestica L.). Entomol Medd 53:143.
Oka, I.N. 1995. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Pracaya. 2008. Hama dan Penyakit Tanaman. Jakarta: Penebar Swadaya.
Pracaya. 2010. Hama dan Penyakit Tanaman Jilid 2. Jakarta: Penebar Swadaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar