PENGENALAN
ORDO ORTHOPTERA, DERMAPTERA, THYSANOPTERA, DIPTERA, DAN COLEOPTERA
(Praktikum Bioekologi Hama Tumbuhan)
Oleh
Irvan Saputra
1414121114
Kelompok 10
JURUSAN
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
LAMPUNG
2015
I.
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Serangga merupakan golongan hewan yang
dominan di bumi sekarang ini yang jumlahnya kira-kira 50% dari jumlah populasi
makhluk hidup dibumi. Dalam jumlah,mereka melebihi hewan melata daratan
lainnya.Pertanian
merupakan sektor yang sangat vital dalam keberadaannya untuk memenuhi kebutuhan
pangan nasional. Selain itu juga menjadi sumber penghasilan utama bagi golongan
petani maupun pelaku industry di bidang pertanian. Oleh karena itu diperlukan
suatu cara untuk menjaga hasil produksi pertanian tetap stabil bahkan bisa
untuk ditingkatkan lagi. Salah satu faktor yang menghambat produksi pertanian
yaitu karena serangan hama.
Hama merupakan
organisme pengganggu tanaman (OPT) yang dapat merugikan usahatani secara luas.
OPT termasuk hama dan gulma, tetapi dalam arti sempit hama dikhususkan sebagai
serangga yang dapat merusak tanaman yang menyebabkan turunnya produksi
pertanian sehingga dapat merugikan petani atau pellaku industri pertanian. Hemiptera, odonata dan dermaptera merupakan ordo dari kelas
insect. Dalam pertanian ordo-ordo tersebut berperan sebagai herbivora,
omnivora, predator dan pemakan bangkai. Namun peran sebagai herbivora lebih
dominan sehingga dapat merusak tanaman. Akan tetapi pada ordo
odonata biasanya sebagai predator pada hama tanaman tertentu.
Dari uraian
diatas maka pada praktikum ini dilakukan pengamatan serta pengenalan beberapa
spesies dari ordo Hemiptera, Odonata, dan Dermaptera.
Yang diharapkan untuk lebih mengenal berbagai jenis dari ordo-ordo tersebut serta
perannannya dalam sektor pertanian guna meningkatkan produksi tanaman
1.2
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari
praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.
Mengetahui beberapa spesies dari Ordo
Orthoptera, Dermaptera, Thysanoptera, Diptera, dan Coleoptera.
2.
Mengetahui ciri-ciri dari spesies dari
Ordo Orthoptera, Dermaptera, Thysanoptera, Diptera, dan Coleoptera.
3.
Mengetahui peranan beberapa spesies dari
spesies dari Ordo Orthoptera, Dermaptera, Thysanoptera, Diptera, dan
Coleoptera.
II.
METODOLOGI PRAKTIKUM
2.1 Alat dan Bahan
Adapun
alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Pena,
2. Buku
tulis,
3. Kertas
A4,
4. Handphone.
Adapun bahan yang digunakan pada
praktikum ini adalah awetan serangga
Ordo Hemiptera dalam cawan petri.
2.2
Cara Kerja
Adapun cara kerja dari
praktikum kali ini diantaranya sebagai berikut.
1. Praktikan
diharapkan menuju ke kelompok kerja masing-masing. Hendaknya dilakukan kerja
sama dan selalu mendiskuksikan substansi praktikum dalam suasana cooperative
learning.
2. Praktikan
mendengarkan dan mencatat para asisten memberikan penjelasan dan pemahaman
mengenai serangga Ordo Hemiptera sebagai hama tanaman.
3. Praktikan
memperhatikan dan mencatat segala penjelasan yang diberikan asisten praktikum.
4.
Asisten memberikan arahan pada
masing-masing kelompok untuk mengamati dengan seksama dan menggambarnya dengan
sebaik mungkin. Kemudian dibahas dan didiskuksikan dalam kelompok kerja atau
kelompok praktikum.
III.
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Pengamatan
Adapun
hasil pengamatan dari praktium ini adalah sebagai berikut:
3.1.1
Serangga Jenis Eksopterygota
No
|
Nama
|
Foto
|
Gambar
|
1.
|
Belalang-Valangan nigricornis
(Orthoptera : Acrididae)
Kingdom :
Animalia
Filum
: Arthropoda
Kelas
: Insecta
Ordo
: Orthoptera
Famili
: Acridoidea
Genus
: Valanga
Spesies
: Valanga
nigricornis
|
||
Cocopet – Chelisoches morio (Dermaptera : Chelisochisidae)
Kingdom :
Animalia
Filum :
Arthropelzinga
Kelas :
Insecta
Ordo : Dermaptera
Famili : Chelisochisidae
Genus : Chelisoches
Spesies : Chelisoches morio
|
![]() |
3.
|
Thrips-Thrips sp
(Thysanoptera : Thripidae)
Kingdom : Animalia Divisi : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Thysanoptera Famili : Thripidae Genus : Thrips Spesies : Thrips sp |
![]() |
3.1.2
Serangga Jenis Endopterygota
No
|
Nama
|
Foto
|
Gambar
|
1.
|
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo
: Coleoptera
Famili
: Curculionidae
Genus : Hypothenemus
|
||
2.
|
Pengorok Daun-Liriomyza huidobrensis
(Diptera:Agromyzidae)
Kerajaan : Animalia
Filum : Arthropoda Kelas : Insekta Ordo : Diptera Famili : Agromyzidae Genus : Liriomyza Spesies : Liriomyza huidobrensis |
3.2 Pembahasan
3.2.1
Belalang-Valangan nigricornis
(Orthoptera : Acrididae)
Tubuh terdiri dari 3 bagian utama,
yaitu kepala, dada (thorax) dan perut (abdomen). Memiliki 6 enam kaki bersendi,
2 pasang sayap, dan 2 antena. Kaki belakang yang panjang digunakan untuk
melompat sedangkan kaki depan yang pendek digunakan untuk berjalan. Memiliki 5 mata (2 compound eye, dan 3 ocelli). Termasuk dalam
kelompok hewan berkerangka luar (exoskeleton). Belalang dapat hidup hampir di
semua penjuru dunia kecuali kutub utara dan selatan. Belalang betina dewasa
berukuran lebih besar daripada belalang jantan dewasa, yaitu 58-71 mm sedangkan
belalang jantan 49-63 mm dengan berat tubuh sekitar 2-3 gram (Oka, 1995).
Telur belalang menetas menjadi nimfa,
dengan tampilan belalang dewasa versi mini tanpa sayap dan organ reproduksi.
Nimfa belalang yang baru menetas biasanya berwarna putih, namun setelah
terekspos sinar matahari, warna khas mereka akan segera muncul. Selama masa
pertumbuhan, nimfa belalang akan mengalami ganti kulit berkali kali (sekitar
4-6 kali) hingga menjadi belalang dewasa dengan tambahan sayap fungsional. Masa
hidup belalang sebagai nimfa adalah 25-40 hari (Harahap dan Tjahyono, 1997).
Nimfa belalang akan berhenti menjalani
proses ganti kulit setelah memiliki sayap, yang berarti nimfa sudah menjadi
imago (belalang dewasa)
Setelah melewati tahap nimfa,
dibutuhkan 14 hari bagi mereka untuk menjadi dewasa secara seksual. Setelah itu
hidup mereka hanya tersisa 2-3 minggu, dimana sisa waktu itu digunakan untuk
reproduksi dan meletakkan telur mereka. Total masa hidup belalang setelah
menetas adalah sekitar 2 bulan (1 bulan sebagai nimfa, 1 bulan sebagai belalang
dewasa), itupun jika mereka selamat dari serangan predator. Setelah telur yang
mereka hasilkan menetas, daur hidup belalang yang singkat akan berulang (
Pracaya, 2008 ).
Dalam agroekosistem berperan sebagai herbivora artinya pemakan
tanaman, atau dengan kata lain disebut hama tanaman karena bersifat merusak
tanaman dan menimbulkan kerugian. Selain itu sisi positifnya yaitu dapat
membantu penyerbukan bunga atau fertilisasi tanaman (Matnawy, 1991).
3.2.2 Cocopet – Chelisoches morio
(Dermaptera : Chelisochisidae)
Serangga ini memiliki nama umum Cocopet, berbentuk memanjang, ramping dan agak gepeng yang menyerupai kumbang
pengembara, tetapi mempunyai sersi seperti capit. Tarsi tiga ruas, tipe mulut
mengunyah dan metamorfosis sederhana. Cocopet-cocopet muda ruas-ruas antenanya
lebih sedikit dari pada yang dewasa, dengan ruas-ruas tambahan setiapkali
berganti kulit. ( Elzinga,2004 ).
Cocopetmengalami
metamorfosis hemimetabola (hemimetabola) dan aktif pada malam hari. Daur
HidupDermaptera kawin dengan posisi ujung bertemu ujung, seringkalisaling
memegang penjepitnya, Betina dapat menyimpan spermauntuk beberapa bulan sebelum
fertilisasi. Betina bertelur sebanyak 30 telur pada lubang dibawah puing.
Betina memelihara telur dari jamur dan parasit lain serta predator. Larva
berkembang secara bertahap dengan molting. Parental care berlanjut sampai 2-3
tahap pada larva, dimana induk mungkin memakan bayinya. Nymphamirip dengan
dewasa, namun tanpa sayap. Dewasa ketika tahapmolting ke 5.Dermaptera dewasa
memiliki satu siklus setiap tahundan hibernasi ketika musim dingin didalam
lubang.Pada musimsemi, jantan keluar dari lubang sehingga induk dapat
merawattelurnya (Pracaya, 2010).
Dermaptera
merupakan serangga omnivora yang dapat berperansebagai predator (Mourir
1986).Cocopet memakan sayuran yang membusuk, terkadang tumbuh-tumbuhan hidup,
dan beberapa spesies sebagai pemangsa atau predator serangga lainnya. Perilaku menangkap
mangsa dilakukan dengan mengarahkan forcep kemulut dengan melengkungkan
abdomen di atas kepala (Borror et al. 1996).
3.2.3
Thrips-Thrips sp
(Thysanoptera : Thripidae)
Imago dari Thrips
berukuran sangat kecil sekitar 1 mm, berwarna kuning sampai coklat kehitaman.
Imago yang sudah tua berwarna agak kehitaman, berbercak – bercak merah atau
bergaris – garis. Betina mempunyai 2 pasang sayap yang halus dan
berumbai/jumbai seperti sisir bersisi dua. Pada musim kemarau populasi lebih
tinggi dan akan berkurang bila terjadi hujan lebat. Umur stadium serangga dewasa dapat mencapai 20 hari.
tinggi dan akan berkurang bila terjadi hujan lebat. Umur stadium serangga dewasa dapat mencapai 20 hari.
Telur berbentuk
oval/seperti ginjal rata – rata 80 butir per induk. Telur berbentuk
oval/seperti ginjal rata – rata 80 butir per induk, diletakkan di permukaan
bawah daun atau di dalam jaringan tanaman secara terpencar,akan menetas setelah
3 – 8 hari. Nimfa berwarna pucat, putih/kekuningan, instar 1 dan 2 aktif dan
tidak bersayap . Nimfa yang tidak aktif berada di permukaan tanah sekitar
tanaman. Perkembangan pupa menjadi trips muda meningkat pada kelembaban relatif
rendah dan suhu relatif tinggi. Daur hidup sekitar 20 hari, di dataran rendah 7
– 12 hari.
Serangga ini sangat
kecil, menempel pada buku-buku batang, pada daun muda dan diatas putik bunga.
Serangan hebat hama tersebut pada musim kemarau dengan memakan bagian dalam
bunga atau putik bunga dengan mengorek sel pokok dan menghisap cairan makanan
pada permukaan daun dimana daun yang telah diisap menjadi berwarna putih
seperti perak karena udara masuk ke dalamnya dan cacat pada putik-putik bunga
sehingga bunga tidak akan mekar dengan sempurna. Karena mudah berpindah dan
dari cara makannya, serangga ini tidak hanya menjadi hama tetapi juga dapat
menjadi penyebar virus.
Hama thrips (Thrips
Sp.) sudah tidak asing lagi bagi para petani cabai. Hama thrips tergolong
sebagai pemangsa segala jenis tanaman, jadi serangan bukan hanya pada tanaman
cabai saja. Panjang tubuh sekitar + 1 mm, serangga ini tergolong sangat kecil
namun masih bisa dilihat dengan mata telanjang. Thrips biasanya menyerang
bagian daun muda dan bunga . Gejala serangan hama ini adalah adanya strip-strip
pada daun dan berwarna keperakan. Noda keperakan itu tidak lain akibat adanya
luka dari cara makan hama thrips. Kemudian noda tersebut akan berubah warna
menjadi coklat muda. Yang paling membahayakan dari thrips adalah selain sebagai
hama perusak juga sebagai carrier atau pembawa bibit penyakit (berupa virus)
pada tanaman cabai. Untuk itu, bila mengendalikan hama thrips, tidak hanya
memberantas dari serangan hama namun juga bisa mencegah penyebaran penyakit
akibat virus yang dibawanya.
3.2.4
Penggerek Buah Kopi – Hypothenemus hampei
Penggerek buah kopi (PBKo) sangat
merugikan, karena mampu merusak biji kopi dan sering mencapai populasi yang
tinggi. Umumnya, hanya serangga betina yang sudah kawin akan menggerek buah
kopi; biasanya masuk ke dalam buah dengan membuat lubang kecil pada ujung buah.
Kumbang betina menyerang buah kopi dari mulai buah sedang terbentuk (8minggu
setelah berbunga) sampai waktu panen. Buah yang sudah tua paling disukai.
Kumbang dan larva PBKo menyerang buah
kopi yang sudah cukup kerasdengan cara membuat liang gerekan dan hidup di
dalamnya sehingga menimbulkan kerusakan yang cukup parah. Hama ini tidak hanya
menyerang buah kopi di kebun, tetapi juga menyerang buah di penyimpanan. Selain
hidup dalam buah kopi, hama ini juga menyerang tanaman Tephrosia,
Crotalaria,Caesalpinia, dan Leucaena glauca yang sering
digunakan sebagai tanaman penaung/penutup tanah. Penggerek buah kopi merupakan
kumbang berukuran 0,7 – 1,7 mm, berbadan bulat dengan kepala berbentuk segi
tiga yang ditutupi oleh rambutrambut halus. Kumbang ini biasanya akan bertelur
dalam lubang gerekan. Telurnya menetas dalam waktu sekitar 4 hari, lalu berubah
menjadi larva berwarna putih dan bermulut cokelat.
Kumbang betina
menggerek ke dalam biji kopi dan bertelur sekitar 31 – 50
butir. Siklus
hidupnya dimulai dari telur, larva, pupa, dan dewasa. Setelah 4
hari telur menetas
menjadi larva yang menggerek biji kopi. 15 hari kemudian
larva berubah
menjadi kepompong (pupa) di dalam biji. Setelah 7 hari
kepompong berubah
menjadi serangga dewasa. Kumbang jantan dan
kumbang betina kawin
di dalam buah kopi, kumbang jantan dapat hidup
dalam waktu 20 – 87
hari dan kumbang betina dapat bertahan hidup dalam
waktu 157 hari.
Kemudian kumbang betina terbang untuk menggerek buah
yang lainnya.
Kumbang jantan tidak bisa terbang sehingga sepanjang hidupnya tetap berada di
dalam buah.
Pada umumnya PBKo
menyerang buah dengan endosperma yang telah
mengeras, namun buah
yang belum mengeras dapat juga diserang. Buah kopi
yang bijinya masih
lunak umumnya hanya digerek untuk mendapatkan makanan
dan selanjutnya
ditinggalkan. Buah demikian tidak berkembang, warnanya
berubah menjadi
kuning kemerahan dan akhirnya gugur. Serangan pada buah
yang bijinya telah
mengeras akan berakibat penurunan mutu kopi karena biji
berlubang. Biji kopi
yang cacat sangat berpengaruh negatif terhadap susunan
senyawa kimianya,
terutama pada kafein dan gula pereduksi. Biji berlubang
merupakan salah satu
penyebab utama kerusakan mutu kimia, sedangkan citarasa kopi dipengaruhi oleh
kombinasi komponen-komponen senyawa kimia yang
terkandung dalam
biji.
PBKo mengarahkan
serangan pertamanya pada bagian kebun kopi yang
bernaungan, lebih
lembab atau di perbatasan kebun. Jika tidak dikendalikan, serangan dapat
menyebar ke seluruh kebun. Betina berkembang biak pada buah
kopi hijau yang sudah matang sampai merah, biasanya membuat lubang
dari ujung dan meletakkan telur pada buah. Kumbang betina terbang dari satu
pohon ke pohon yang lain untuk meletakkan telur. Ketika telur menetas, larva
akan memakan isi buah sehingga menyebabkan menurunnya mutu kopi. PBKo masuk ke
dalam buah kopi dengan cara membuat lubang di sekitar diskus. Serangan pada
buah muda menyebabkan gugur buah. Serangan pada buah yang cukup tua menyebabkan
biji kopi cacat berlubang-lubang dan bermutu rendah. PBKo diketahui makan dan
berkembang biak hanya di dalam buah kopi saja. Kumbang betina masuk ke dalam
buah kopi dengan membuat lubang dari ujung buah dan berkembang biak dalam buah.
3.2.5
Pengorok Daun-Liriomyza huidobrensis
(Diptera : Agromyzidae)
Serangga dewasa berupa lalat kecil berukuran sekitar 2 mm. Fase imago
betina 10 hari dan jantan 6 hari. Serangga betina menusuk daun melalui
ovipositor, sehingga menimbulkan luka. Nisbah kelamin jantan dan betina 1:1.
Serangga betina mampu menghasilkan telur sebanyak 600 butir. Pada bagian ujung
punggung L. huidobrensis terdapat warna kuning seperti L. sativa,
sedangkan pada lalat L. chinensis (yang diketahui menyerang bawang
merah) dibagian punggungnya berwarna hitam.Telur berwarna putih, berukuran 0,1
– 0,2 mm,berbentuk ginjal, diletakkan pada bagian epidermis daun melalui
ovipositor. Lama hidup 2 – 4 hari. Stadium larva atau belatung terdiri atas
tiga instar, berbentuk silinder, tidak mempunyai kepala atau kaki (Mourir, 1986).
Larva yang baru keluar berwarna putih susu atau putih kekuningan, segera
mengorok jaringan mesofil daun dan tinggal dalam liang korokan selama hidupnya.
Larva instar 2 dan 3 merupakan instar yang paling merusak karena terkait dengan
meningkatnya konsumsi pakan dan luas korokan yang ditimbulkannya. Ukuran larva
± 3,25 mm. Fase larva sekitar 6 - 12 hari. Pupa berwarna kuning kecoklatan dan
terbentuk dalam tanah. Lama hidup sekitar 8 hari. Dalam satu tahun biasanya
terdapat 8 – 12 generasi. Siklus hidup dari telur sampai dewasa 14 – 23 hari.
L. huidobrensis adalah
hama yang sangat polifag menyerang berbagai jenis tanaman, antara lain tanaman
hias, sayuran, buah-buahan maupun tumbuhan liar.Tercatat sekitar 120 jenis
tanaman dari 21 famili yang menjadi inang L. huidobrensis, selain
kentang antara lain cabai, kubis,
tomat, seledri, semangka, kacang –kacangan seperti kacang merah,
buncis, selada, brokoli, caisin, bawang daun, mentimun, terung, sawi, wortel,
waluh, bayam, krisan dan beberapa jenis tanaman liar dari famili Asteraceae. Di
antara berbagai jenis tanaman sayuran yang diserang, tanaman kentang menderita
serangan yang paling berat.
Kerusakan akibat
larva Liriomyza huidobrensis, dapat mengurangi kapasitas fotosintesa
pada tanaman serta dapat menggugurkan daun pada tanaman muda.
Larva merusak
tanaman dengan cara mengorok daun sehingga yang tinggal bagian epidermisnya
saja. Serangga dewasa merusak tanaman dengan tusukan
ovipositor saat
meletakkan telur dengan menusuk dan mengisap cairan daun sehingga terlihat
adanya liang korokan larva yang berkelok – kelok .Pada serangan parah daun
tampak berwarna merah kecoklatan. Akibatnya seluruh permukaan tanaman hancur.
Didaerah tropika tanaman yangvterserang hama ini seperti terbakar. Kerusakan
langsung berupa luka bekas gigitan pada tanaman sehingga dapat terinfeksi oleh
fungi maupun oleh bakteri penyebab penyakit tanaman (Kalshoven, 1981).
IV.
KESIMPULAN
Setelah melakukan praktikum ini, maka
dapat disimpulkan:
1.
Ordo Dermaptera merupakan serangga
sebagai hama budidaya tanaman tetapi bisa menjadi predator.
2.
Siklus hidup serangga tergantung pada
kelembapan udara dan faktor lingkungan lainnya.
3.
Setiap serangga memiliki karakteristik
yang khas antara satu sama lain.
4.
Serangga Ordo Orthoptera menjadi hama
tanaman pangan, perkebunan, dan hortikultura.
5.
Tanaman atau bagian tanaman yang
terkena serangan hama akan menunjukan gejala dan tanda.
DAFTAR
PUSTAKA
Borror, D.J.,
Triplehom, C.A. and N.F. Johnson. 1996. Pengenalan Pelajaran Serangga. Edisi
VI. UGM press. Yogyakarta.
Elzinga RJ. 2004. Fundamentals of Entomology 6th
Edition. New Jersey: PerasonEducation Inc.
Harahap dan Tjahyono, 1997. Hama dan Penyakit Utama
Padi di Lahan Pasang Surut. Monograf.
Kalshoven,
L.G.E. 1981. Pest of Crop in Indonesia. PT. Ichtiar Baru.
Jakarta.
Matnawy, H.
1991. Perlindungan Tanaman. Kanisius. Yogyakarta.
Mourir, H., 1986. Notes on the life history of Labia
minor (L.) (Dermaptera), a potential predator of housefly eggs and larvae
(Diptera, Musca domestica L.). Entomol Medd 53:143.
Oka, I.N.
1995. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Gajah
Mada University Press. Yogyakarta.
Pracaya. 2008. Hama
dan Penyakit Tanaman. Jakarta: Penebar Swadaya.
Pracaya. 2010. Hama
dan Penyakit Tanaman Jilid 2. Jakarta: Penebar Swadaya.
LAMPIRAN


Tidak ada komentar:
Posting Komentar