Sabtu, 03 Desember 2016

PENGENALAN ORDO ORTHOPTERA, DERMAPTERA dll.



PENGENALAN ORDO ORTHOPTERA, DERMAPTERA, THYSANOPTERA, DIPTERA, DAN COLEOPTERA
 (Praktikum Bioekologi Hama Tumbuhan)







Oleh
Irvan Saputra
1414121114
Kelompok 10





JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Serangga merupakan golongan hewan yang dominan di bumi sekarang ini yang jumlahnya kira-kira 50% dari jumlah populasi makhluk hidup dibumi. Dalam jumlah,mereka melebihi hewan melata daratan lainnya.Pertanian merupakan sektor yang sangat vital dalam keberadaannya untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. Selain itu juga menjadi sumber penghasilan utama bagi golongan petani maupun pelaku industry di bidang pertanian. Oleh karena itu diperlukan suatu cara untuk menjaga hasil produksi pertanian tetap stabil bahkan bisa untuk ditingkatkan lagi. Salah satu faktor yang menghambat produksi pertanian yaitu karena serangan hama.

Hama merupakan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang dapat merugikan usahatani secara luas. OPT termasuk hama dan gulma, tetapi dalam arti sempit hama dikhususkan sebagai serangga yang dapat merusak tanaman yang menyebabkan turunnya produksi pertanian sehingga dapat merugikan petani atau pellaku industri pertanian. Hemiptera, odonata dan dermaptera merupakan ordo dari kelas insect. Dalam pertanian ordo-ordo tersebut berperan sebagai herbivora, omnivora, predator dan pemakan bangkai. Namun peran sebagai herbivora lebih dominan sehingga dapat merusak tanaman. Akan tetapi pada ordo odonata biasanya sebagai predator pada hama tanaman tertentu.

Dari uraian diatas maka pada praktikum ini dilakukan pengamatan serta pengenalan beberapa spesies dari ordo Hemiptera, Odonata, dan Dermaptera. Yang diharapkan untuk lebih mengenal berbagai jenis dari ordo-ordo tersebut serta perannannya dalam sektor pertanian guna meningkatkan produksi tanaman



1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.       Mengetahui beberapa spesies dari Ordo Orthoptera, Dermaptera, Thysanoptera, Diptera, dan Coleoptera.
2.       Mengetahui ciri-ciri dari spesies dari Ordo Orthoptera, Dermaptera, Thysanoptera, Diptera, dan Coleoptera.
3.       Mengetahui peranan beberapa spesies dari spesies dari Ordo Orthoptera, Dermaptera, Thysanoptera, Diptera, dan Coleoptera.


II. METODOLOGI PRAKTIKUM



2.1 Alat dan Bahan

Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.      Pena,
2.      Buku tulis,
3.      Kertas A4,
4.      Handphone.
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah  awetan serangga Ordo Hemiptera dalam cawan petri.

2.2 Cara Kerja
Adapun cara kerja dari praktikum kali ini diantaranya sebagai berikut.
1.      Praktikan diharapkan menuju ke kelompok kerja masing-masing. Hendaknya dilakukan kerja sama dan selalu mendiskuksikan substansi praktikum dalam suasana cooperative learning.
2.      Praktikan mendengarkan dan mencatat para asisten memberikan penjelasan dan pemahaman mengenai serangga Ordo Hemiptera sebagai hama tanaman.
3.      Praktikan memperhatikan dan mencatat segala penjelasan yang diberikan asisten praktikum.
4.      Asisten memberikan arahan pada masing-masing kelompok untuk mengamati dengan seksama dan menggambarnya dengan sebaik mungkin. Kemudian dibahas dan didiskuksikan dalam kelompok kerja atau kelompok praktikum.


III. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


3.1 Hasil Pengamatan

Adapun hasil pengamatan dari praktium ini adalah sebagai berikut:

3.1.1 Serangga Jenis Eksopterygota
No
Nama
Foto
Gambar
1.
Belalang-Valangan nigricornis
(Orthoptera : Acrididae)
Kingdom    :      Animalia
Filum          :      Arthropoda
Kelas          :      Insecta
Ordo           :      Orthoptera
Famili         :      Acridoidea
Genus         :      Valanga
Spesies       :      Valanga nigricornis


Cocopet – Chelisoches morio (Dermaptera : Chelisochisidae)
Kingdom         : Animalia
Filum              : Arthropelzinga
Kelas               : Insecta
Ordo                : Dermaptera
Famili              : Chelisochisidae
Genus              : Chelisoches
Spesies            : Chelisoches morio  





3.
Thrips-Thrips sp
(Thysanoptera : Thripidae)
Kingdom    : Animalia
Divisi        : Arthropoda
Kelas       : Insecta
Ordo        : Thysanoptera
Famili      : Thripidae
Genus      : Thrips
Spesies    : Thrips sp


3.1.2 Serangga Jenis Endopterygota
No
Nama
Foto
Gambar
1.
Penggerek Buah Kopi – Hypothenemus hampei (Coleoptera : Curculionidae)
Kingdom  : Animalia
Filum        : Arthropoda
Kelas        : Insecta
Ordo         : Coleoptera
Famili       : Curculionidae
Genus      : Hypothenemus
Spesies   : Hypothenemus hampei.

2.
Pengorok Daun-Liriomyza huidobrensis
(Diptera:Agromyzidae)
Kerajaan : Animalia
Filum      : Arthropoda
Kelas      : Insekta
Ordo       : Diptera
Famili    : Agromyzidae
Genus     : Liriomyza
Spesies   : Liriomyza huidobrensis


3.2 Pembahasan

3.2.1 Belalang-Valangan nigricornis
         (Orthoptera : Acrididae)
Tubuh terdiri dari 3 bagian utama, yaitu kepala, dada (thorax) dan perut (abdomen). Memiliki 6 enam kaki bersendi, 2 pasang sayap, dan 2 antena. Kaki belakang yang panjang digunakan untuk melompat sedangkan kaki depan yang pendek digunakan untuk berjalan. Memiliki 5 mata (2 compound eye, dan 3 ocelli). Termasuk dalam kelompok hewan berkerangka luar (exoskeleton). Belalang dapat hidup hampir di semua penjuru dunia kecuali kutub utara dan selatan. Belalang betina dewasa berukuran lebih besar daripada belalang jantan dewasa, yaitu 58-71 mm sedangkan belalang jantan 49-63 mm dengan berat tubuh sekitar 2-3 gram (Oka, 1995)

Telur belalang menetas menjadi nimfa, dengan tampilan belalang dewasa versi mini tanpa sayap dan organ reproduksi. Nimfa belalang yang baru menetas biasanya berwarna putih, namun setelah terekspos sinar matahari, warna khas mereka akan segera muncul. Selama masa pertumbuhan, nimfa belalang akan mengalami ganti kulit berkali kali (sekitar 4-6 kali) hingga menjadi belalang dewasa dengan tambahan sayap fungsional. Masa hidup belalang sebagai nimfa adalah 25-40 hari (Harahap dan Tjahyono, 1997).

Nimfa belalang akan berhenti menjalani proses ganti kulit setelah memiliki sayap, yang berarti nimfa sudah menjadi imago (belalang dewasa)
Setelah melewati tahap nimfa, dibutuhkan 14 hari bagi mereka untuk menjadi dewasa secara seksual. Setelah itu hidup mereka hanya tersisa 2-3 minggu, dimana sisa waktu itu digunakan untuk reproduksi dan meletakkan telur mereka. Total masa hidup belalang setelah menetas adalah sekitar 2 bulan (1 bulan sebagai nimfa, 1 bulan sebagai belalang dewasa), itupun jika mereka selamat dari serangan predator. Setelah telur yang mereka hasilkan menetas, daur hidup belalang yang singkat akan berulang ( Pracaya, 2008 ).

Dalam agroekosistem berperan sebagai herbivora artinya pemakan tanaman, atau dengan kata lain disebut hama tanaman karena bersifat merusak tanaman dan menimbulkan kerugian. Selain itu sisi positifnya yaitu dapat membantu penyerbukan bunga atau fertilisasi tanaman (Matnawy, 1991)

3.2.2 Cocopet – Chelisoches morio
         (Dermaptera : Chelisochisidae)
Serangga ini memiliki nama umum Cocopet, berbentuk memanjang, ramping dan agak gepeng yang menyerupai kumbang pengembara, tetapi mempunyai sersi seperti capit. Tarsi tiga ruas, tipe mulut mengunyah dan metamorfosis sederhana. Cocopet-cocopet muda ruas-ruas antenanya lebih sedikit dari pada yang dewasa, dengan ruas-ruas tambahan setiapkali berganti kulit. ( Elzinga,2004 ).

Cocopetmengalami metamorfosis hemimetabola (hemimetabola) dan aktif pada malam hari. Daur HidupDermaptera kawin dengan posisi ujung bertemu ujung, seringkalisaling memegang penjepitnya, Betina dapat menyimpan spermauntuk beberapa bulan sebelum fertilisasi. Betina bertelur sebanyak 30 telur pada lubang dibawah puing. Betina memelihara telur dari jamur dan parasit lain serta predator. Larva berkembang secara bertahap dengan molting. Parental care berlanjut sampai 2-3 tahap pada larva, dimana induk mungkin memakan bayinya. Nymphamirip dengan dewasa, namun tanpa sayap. Dewasa ketika tahapmolting ke 5.Dermaptera dewasa memiliki satu siklus setiap tahundan hibernasi ketika musim dingin didalam lubang.Pada musimsemi, jantan keluar dari lubang sehingga induk dapat merawattelurnya (Pracaya, 2010).

Dermaptera merupakan serangga omnivora yang dapat berperansebagai predator (Mourir 1986).Cocopet memakan sayuran yang membusuk, terkadang tumbuh-tumbuhan hidup, dan beberapa spesies sebagai pemangsa atau predator serangga lainnyaPerilaku menangkap mangsa dilakukan dengan mengarahkan forcep kemulut dengan melengkungkan abdomen di atas kepala (Borror et al. 1996).

3.2.3 Thrips-Thrips sp
         (Thysanoptera : Thripidae)
Imago dari Thrips berukuran sangat kecil sekitar 1 mm, berwarna kuning sampai coklat kehitaman. Imago yang sudah tua berwarna agak kehitaman, berbercak – bercak merah atau bergaris – garis. Betina mempunyai 2 pasang sayap yang halus dan berumbai/jumbai seperti sisir bersisi dua. Pada musim kemarau populasi lebih
tinggi dan akan berkurang bila terjadi hujan lebat. Umur stadium serangga dewasa dapat mencapai 20 hari.

Telur berbentuk oval/seperti ginjal rata – rata 80 butir per induk. Telur berbentuk oval/seperti ginjal rata – rata 80 butir per induk, diletakkan di permukaan bawah daun atau di dalam jaringan tanaman secara terpencar,akan menetas setelah 3 – 8 hari. Nimfa berwarna pucat, putih/kekuningan, instar 1 dan 2 aktif dan tidak bersayap . Nimfa yang tidak aktif berada di permukaan tanah sekitar tanaman. Perkembangan pupa menjadi trips muda meningkat pada kelembaban relatif rendah dan suhu relatif tinggi. Daur hidup sekitar 20 hari, di dataran rendah 7 – 12 hari.
Serangga ini sangat kecil, menempel pada buku-buku batang, pada daun muda dan diatas putik bunga. Serangan hebat hama tersebut pada musim kemarau dengan memakan bagian dalam bunga atau putik bunga dengan mengorek sel pokok dan menghisap cairan makanan pada permukaan daun dimana daun yang telah diisap menjadi berwarna putih seperti perak karena udara masuk ke dalamnya dan cacat pada putik-putik bunga sehingga bunga tidak akan mekar dengan sempurna. Karena mudah berpindah dan dari cara makannya, serangga ini tidak hanya menjadi hama tetapi juga dapat menjadi penyebar virus.
Hama thrips (Thrips Sp.) sudah tidak asing lagi bagi para petani cabai. Hama thrips tergolong sebagai pemangsa segala jenis tanaman, jadi serangan bukan hanya pada tanaman cabai saja. Panjang tubuh sekitar + 1 mm, serangga ini tergolong sangat kecil namun masih bisa dilihat dengan mata telanjang. Thrips biasanya menyerang bagian daun muda dan bunga . Gejala serangan hama ini adalah adanya strip-strip pada daun dan berwarna keperakan. Noda keperakan itu tidak lain akibat adanya luka dari cara makan hama thrips. Kemudian noda tersebut akan berubah warna menjadi coklat muda. Yang paling membahayakan dari thrips adalah selain sebagai hama perusak juga sebagai carrier atau pembawa bibit penyakit (berupa virus) pada tanaman cabai. Untuk itu, bila mengendalikan hama thrips, tidak hanya memberantas dari serangan hama namun juga bisa mencegah penyebaran penyakit akibat virus yang dibawanya.

3.2.4 Penggerek Buah Kopi – Hypothenemus hampei
        (Coleoptera : Curculionidae)

Penggerek buah kopi (PBKo) sangat merugikan, karena mampu merusak biji kopi dan sering mencapai populasi yang tinggi. Umumnya, hanya serangga betina yang sudah kawin akan menggerek buah kopi; biasanya masuk ke dalam buah dengan membuat lubang kecil pada ujung buah. Kumbang betina menyerang buah kopi dari mulai buah sedang terbentuk (8minggu setelah berbunga) sampai waktu panen. Buah yang sudah tua paling disukai.

Kumbang dan larva PBKo menyerang buah kopi yang sudah cukup kerasdengan cara membuat liang gerekan dan hidup di dalamnya sehingga menimbulkan kerusakan yang cukup parah. Hama ini tidak hanya menyerang buah kopi di kebun, tetapi juga menyerang buah di penyimpanan. Selain hidup dalam buah kopi, hama ini juga menyerang tanaman Tephrosia, Crotalaria,Caesalpinia, dan Leucaena glauca yang sering digunakan sebagai tanaman penaung/penutup tanah. Penggerek buah kopi merupakan kumbang berukuran 0,7 – 1,7 mm, berbadan bulat dengan kepala berbentuk segi tiga yang ditutupi oleh rambutrambut halus. Kumbang ini biasanya akan bertelur dalam lubang gerekan. Telurnya menetas dalam waktu sekitar 4 hari, lalu berubah menjadi larva berwarna putih dan bermulut cokelat.

Kumbang betina menggerek ke dalam biji kopi dan bertelur sekitar 31 – 50
butir. Siklus hidupnya dimulai dari telur, larva, pupa, dan dewasa. Setelah 4
hari telur menetas menjadi larva yang menggerek biji kopi. 15 hari kemudian
larva berubah menjadi kepompong (pupa) di dalam biji. Setelah 7 hari
kepompong berubah menjadi serangga dewasa. Kumbang jantan dan
kumbang betina kawin di dalam buah kopi, kumbang jantan dapat hidup
dalam waktu 20 – 87 hari dan kumbang betina dapat bertahan hidup dalam
waktu 157 hari. Kemudian kumbang betina terbang untuk menggerek buah
yang lainnya. Kumbang jantan tidak bisa terbang sehingga sepanjang hidupnya tetap berada di dalam buah.

Pada umumnya PBKo menyerang buah dengan endosperma yang telah
mengeras, namun buah yang belum mengeras dapat juga diserang. Buah kopi
yang bijinya masih lunak umumnya hanya digerek untuk mendapatkan makanan
dan selanjutnya ditinggalkan. Buah demikian tidak berkembang, warnanya
berubah menjadi kuning kemerahan dan akhirnya gugur. Serangan pada buah
yang bijinya telah mengeras akan berakibat penurunan mutu kopi karena biji
berlubang. Biji kopi yang cacat sangat berpengaruh negatif terhadap susunan
senyawa kimianya, terutama pada kafein dan gula pereduksi. Biji berlubang
merupakan salah satu penyebab utama kerusakan mutu kimia, sedangkan citarasa kopi dipengaruhi oleh kombinasi komponen-komponen senyawa kimia yang
terkandung dalam biji.

PBKo mengarahkan serangan pertamanya pada bagian kebun kopi yang
bernaungan, lebih lembab atau di perbatasan kebun. Jika tidak dikendalikan, serangan dapat menyebar ke seluruh kebun.  Betina berkembang biak pada buah kopi  hijau yang sudah matang sampai merah, biasanya membuat lubang dari ujung dan meletakkan telur pada buah. Kumbang betina terbang dari satu pohon ke pohon yang lain untuk meletakkan telur. Ketika telur menetas, larva akan memakan isi buah sehingga menyebabkan menurunnya mutu kopi. PBKo masuk ke dalam buah kopi dengan cara membuat lubang di sekitar diskus. Serangan pada buah muda menyebabkan gugur buah. Serangan pada buah yang cukup tua menyebabkan biji kopi cacat berlubang-lubang dan bermutu rendah. PBKo diketahui makan dan berkembang biak hanya di dalam buah kopi saja. Kumbang betina masuk ke dalam buah kopi dengan membuat lubang dari ujung buah dan berkembang biak dalam buah.

3.2.5 Pengorok Daun-Liriomyza huidobrensis
         (Diptera : Agromyzidae)
Serangga dewasa berupa lalat kecil berukuran sekitar 2 mm. Fase imago betina 10 hari dan jantan 6 hari. Serangga betina menusuk daun melalui ovipositor, sehingga menimbulkan luka. Nisbah kelamin jantan dan betina 1:1. Serangga betina mampu menghasilkan telur sebanyak 600 butir. Pada bagian ujung punggung L. huidobrensis terdapat warna kuning seperti L. sativa, sedangkan pada lalat L. chinensis (yang diketahui menyerang bawang merah) dibagian punggungnya berwarna hitam.Telur berwarna putih, berukuran 0,1 – 0,2 mm,berbentuk ginjal, diletakkan pada bagian epidermis daun melalui ovipositor. Lama hidup 2 – 4 hari. Stadium larva atau belatung terdiri atas tiga instar, berbentuk silinder, tidak mempunyai kepala atau kaki (Mourir, 1986).

Larva yang baru keluar berwarna putih susu atau putih kekuningan, segera mengorok jaringan mesofil daun dan tinggal dalam liang korokan selama hidupnya. Larva instar 2 dan 3 merupakan instar yang paling merusak karena terkait dengan meningkatnya konsumsi pakan dan luas korokan yang ditimbulkannya. Ukuran larva ± 3,25 mm. Fase larva sekitar 6 - 12 hari. Pupa berwarna kuning kecoklatan dan terbentuk dalam tanah. Lama hidup sekitar 8 hari. Dalam satu tahun biasanya terdapat 8 – 12 generasi. Siklus hidup dari telur sampai dewasa 14 – 23 hari.

L. huidobrensis adalah hama yang sangat polifag menyerang berbagai jenis tanaman, antara lain tanaman hias, sayuran, buah-buahan maupun tumbuhan liar.Tercatat sekitar 120 jenis tanaman dari 21 famili yang menjadi inang L. huidobrensis, selain kentang antara lain cabai, kubis, tomat, seledri, semangka, kacang –kacangan seperti kacang merah, buncis, selada, brokoli, caisin, bawang daun, mentimun, terung, sawi, wortel, waluh, bayam, krisan dan beberapa jenis tanaman liar dari famili Asteraceae. Di antara berbagai jenis tanaman sayuran yang diserang, tanaman kentang menderita serangan yang paling berat.
Kerusakan akibat larva Liriomyza huidobrensis, dapat mengurangi kapasitas fotosintesa pada tanaman serta dapat menggugurkan daun pada tanaman muda.
Larva merusak tanaman dengan cara mengorok daun sehingga yang tinggal bagian epidermisnya saja. Serangga dewasa merusak tanaman dengan tusukan
ovipositor saat meletakkan telur dengan menusuk dan mengisap cairan daun sehingga terlihat adanya liang korokan larva yang berkelok – kelok .Pada serangan parah daun tampak berwarna merah kecoklatan. Akibatnya seluruh permukaan tanaman hancur. Didaerah tropika tanaman yangvterserang hama ini seperti terbakar. Kerusakan langsung berupa luka bekas gigitan pada tanaman sehingga dapat terinfeksi oleh fungi maupun oleh bakteri penyebab penyakit tanaman (Kalshoven, 1981)


IV. KESIMPULAN

Setelah melakukan praktikum ini, maka dapat disimpulkan:
1.      Ordo Dermaptera merupakan serangga sebagai hama budidaya tanaman tetapi bisa menjadi predator.
2.      Siklus hidup serangga tergantung pada kelembapan udara dan faktor lingkungan lainnya.
3.      Setiap serangga memiliki karakteristik yang khas antara satu sama lain.
4.      Serangga Ordo Orthoptera menjadi hama tanaman pangan, perkebunan, dan hortikultura.
5.      Tanaman atau bagian tanaman yang terkena serangan hama akan menunjukan gejala dan tanda.



DAFTAR PUSTAKA

Borror, D.J., Triplehom, C.A. and N.F. Johnson. 1996. Pengenalan Pelajaran Serangga. Edisi VI. UGM press. Yogyakarta.
Elzinga RJ. 2004. Fundamentals of Entomology 6th Edition. New Jersey: PerasonEducation Inc.
Harahap dan Tjahyono, 1997. Hama dan Penyakit Utama Padi di Lahan Pasang Surut. Monograf.
Kalshoven, L.G.E. 1981. Pest of Crop in Indonesia. PT. Ichtiar Baru. Jakarta.
Matnawy, H. 1991. Perlindungan Tanaman. Kanisius. Yogyakarta.
Mourir, H., 1986. Notes on the life history of Labia minor (L.) (Dermaptera), a potential predator of housefly eggs and larvae (Diptera, Musca domestica L.). Entomol Medd 53:143.
Oka, I.N. 1995. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Pracaya. 2008. Hama dan Penyakit Tanaman. Jakarta: Penebar Swadaya.
Pracaya. 2010. Hama dan Penyakit Tanaman Jilid 2. Jakarta: Penebar Swadaya.











LAMPIRAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar