HAMA TANAMAN DAN
ARAS LUKA EKONOMI
(Laporan Praktikum Bioekologi Hama Tanaman)
Oleh
Irvan Saputra
1414121114
JURUSAN
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
LAMPUNG
2015
I.
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Dewasa ini pertumbuhan jumlah populasi manusia
semakin banyak, hal ini tentu menuntut berimbangnya jumlah pangan dunia, sektor
pertanian menjadi jalan utama untuk mencukupi kebutuhan pangan tersebut. Akan
tetapi, produksi pangan melalui sektor pertanian mengalami banyak permasalahan,
salah satunya masalah hama. Hama adalah
organisme pengganggu tanaman yang menimbulkan kerusakan secara fisik, dan ke
dalamnya praktis adalah semua hewan yang menyebabkan kerugian dalam pertanian. Dampak
yang timbul akibat serangan hama dan penyakit menyebabkan kerugian baik
terhadap nilai ekonomi produksi, pertumbuhan dan perkembangan tanaman, serta
petani sebagai pelaku budiaya tanaman dengan kegagalan panen serta turunnya kualitas
dan kuantitas hasil panen
Selain berdampak pada tanama budidaya, serangan hama
dan penyakit juga berdampak terhadap agroekosistem pertanian. Kerugian-kerugian
tersebut disebabkan oleh adanya pemikiran oleh para pembudidaya tanaman untuk
mengendalikan serta memusnahkan hama dan penyakit yang menyerangan tanaman.
Pengendalian hama dan penyakit yang tidak sesuai dan tepat tersebut memberikan
dampak kerugian yang lebih besar dari pada serangan hama dan penyakit itu
sendiri terhadap tanaman.
Ambang ekonomis merupakan suatu tingkat atau batas toleransi serangan hama dan penyakit terhadap tanaman budidaya. Jika hama dan penyakit yang terdapat pada areal budidaya tanaman berada dibawah ambang ekonomis maka tidak perlu dilakukan pengendalian hama dan penyakit tersebut. Sedangkan jika keberadaan hama dan penyakit pada areal pertanaman tersebut diatas ambang ekonomis maka perlu dilakukan pengendalian (Kusnadi, 1980).
Ambang ekonomis merupakan suatu tingkat atau batas toleransi serangan hama dan penyakit terhadap tanaman budidaya. Jika hama dan penyakit yang terdapat pada areal budidaya tanaman berada dibawah ambang ekonomis maka tidak perlu dilakukan pengendalian hama dan penyakit tersebut. Sedangkan jika keberadaan hama dan penyakit pada areal pertanaman tersebut diatas ambang ekonomis maka perlu dilakukan pengendalian (Kusnadi, 1980).
1.2
Tujuan
1. Untuk
mengetahui tingkat kerusakan tanaman akibat serangan organisme
2. Untuk
mengetahui biaya yang harus dikeluarkan akibat serangan hama
3. Mengetahui
tingkat kehilangan produksi akibat serangan hama
II.
METODOLOGI PRAKTIKUM
2.1
Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum
ini adalah sebagai berikut: pena, buku, handphone, dan kalkulator.
2.2
Cara Kerja
Adapun cara kerja pada praktikum ini adalah sebagai
berikut:
1. Praktikan
menuju ke kelompok kerja masimh-masing.
2. Setiap
praktikan di dalam kelompoknya melakukan penghitungan nilai ALE berdasarkan
rumus yang telah ditentukan. Dihitung nilai ALE dari dua jenis hama yang
menyerang padi, masing-masing adalah wereng batang cokelat (Nilaparvata lugens) yang menyerang
tanaman, dan hama walang sangit (Leptocorsia
acuta) yang menyerang tanaman pada fase generatif. Menghitung besarnya
pengurangan hasil akibat serangan tiap individu hama yang dilambangkan dengan b yang merupakan slope persamaaan regresi.
3. Tentukanlah
nilai b tersebut, dan lanjutkanlah
perhitungan untuk mendapatkan nilai a,
kemudian dituliskan persamaan regresinya.
4. Gambar
kurva linear bagi persamaan regresi tersebut.
III.
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1
Hasil
Adapun hasil perhitungan percobaan ini adalah
sebagai berikut:
Kasus
1: Data
populasi hama wereng batang cokelat dan produksi tanaman padi
|
Sampel
ke-
|
X
Populasi Hama (ekor/tanaman)
|
Y
Produksi (kg/ha)
|
XY
|
X2
|
|
1.
|
0
|
7544,2
|
0
|
0
|
|
2.
|
14,6
|
7869,2
|
114890,32
|
213,16
|
|
3.
|
27,3
|
5874,9
|
160229,16
|
745,29
|
|
4.
|
0
|
6125,4
|
0
|
0
|
|
5.
|
54,8
|
4598,6
|
252003,28
|
3003,04
|
|
6.
|
92,7
|
4356,8
|
403875,36
|
8593,29
|
|
7.
|
116,9
|
3947,5
|
461462,75
|
13665,61
|
|
8.
|
121,3
|
6248,3
|
757918,79
|
14713,69
|
|
9.
|
137,4
|
5653,4
|
776777,16
|
18878,76
|
|
10.
|
0
|
6158,3
|
0
|
0
|
|
11.
|
160,5
|
2162,4
|
347065,2
|
25760,25
|
|
12.
|
142,6
|
3462,8
|
493795,28
|
20334,76
|
|
13.
|
167,1
|
2367,4
|
395592,54
|
27922,41
|
|
14.
|
182,7
|
1432,5
|
261777,75
|
33379,29
|
|
15.
|
198,6
|
1178,5
|
234050,1
|
39441,96
|
|
|
∑X=1416,5
|
∑Y=68980,2
|
∑XY=4659377,69
|
∑X2=206651,51
|
|
|
|
Biaya pengendalian :
Rp 2.300.000,- per ha
Harga produksi :
Rp 9.000,- per kg
ALE = (C/V) X (1/|B|)
=
(2300.00/9000) X (1/
25,44)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar