PENGENALAN
PESTISIDA
(Praktikum Bioekologi Hama Tumbuhan)
Oleh
Irvan Saputra
1414121114
Kelompok 10

JURUSAN
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
LAMPUNG
2015
I.
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Hampir semua diantara
kita pernah mendengar kata pestisida, herbisida, insektisida atau nama lainnya.
Hampir dalam semua sisi kehidupan kita tidak bisa lepas dari pestisida dalam
berbagai bentuknya. Penggunaan pestisida dalam pembangunan di berbagai sektor
seperti pertanian, kesehatan masyarakat, perdagangan dan industri semakin
meningkat. Pestisida terbukti mempunyai peranan yang penting dalam peningkatan
kesejahteraan rakyat. Pada bidang pertanian termasuk pertanian rakyat maupun
perkebunan yang dikelola secara profesional dalam skala besar menggunakan
pestisida yang sebagian besar adalah golongan organofosfat. Demikian pula pada
bidang kesehatan masyarakat pestisida yang digunakan sebagian besar adalah
golongan organofosfat. Karena golongan ini lebih mudah terurai di alam.
Penggunaan pestisida di
bidang pertanian saat ini memegang peranan penting. Sebagian besar masih
menggunakan pestisida karena kemampuannya untuk memberantas hama sangat
efektif. Pestisida adalah bahan yang beracun dan berbahaya, yang bila tidak
dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak negatif yang tidak diinginkan.
Dampak negatif tesebut akan menimbulkan berbagai masalah baik secara langsung
ataupun tidak, akan berpengaruh terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia
seperti keracunan. Dampak negatif yang terjadi dari penggunaan pestisida pada
pengendalian hama adalah keracunan, khususnya para petani yang sering atau intensif
menggunakan pestisida.
Penggunaan
pestisida tanpa mengikuti aturan yang diberikan membahayakan kesehatan manusia
dan lingkungan, serta juga dapat merusak ekosistem. Dengan adanya pestisida
ini, produksi pertanian meningkat dan kesejahteraan petani juga
semakin baik.
Karena pestisida tersebut racun yang dapat saja membunuh organisme berguna
bahkan nyawa pengguna juga bisa terancam bila penggunaannya tidak sesuai
prosedur yang telah ditetapkan. Namun kebanyakan pestisida sintetik lebih berbaya dampaknya
ke lingkungan daripada pestisida nabati. Pestisida –pestisida itu antara lain
insektisida, herbisida, nematida, bakterisida, fungisida, dan lain-lain (Djojosumarto, 2008).
Walaupun pada teorinya pestisida digunakan saat musuh alami OPT sudah tidak
seimbang, tetapi pada praktiknya selalu pestisida yang menjadi jalan pintas
untuk mengendalikannya. Oleh karena itu perlu dilakukan pengenalan pestisida.
1.2
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan percobaan ini adalah sebagai berikut:
1.
Mengetahui berbagai macam pestisida yang sering digunakan dalam
pengendalian.
2.
Mengetahui cara aplikasi pestisida yang dikenalkan.
3.
Mengetahui hama sasaran dari pestisida yang dikenalkan.
II. METODOLOGI PRAKTIKUM
2.1 Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan pada
praktikum ini adalah :
1. Kertas
2. Alat
tulis
Sedangkan bahan yang digunakan pada
praktikum adalah :
1. Curaterr 3 Gr
2. Pestisida Nabati
3. Sevin
4.
Cascade 50 EC
5.
Bayleton 250 EC
6.
Marshall 200 EC
7.
Furadan 3 Gr
8. Decis 2,5 EC
2.2 Cara Kerja
Adapun cara kerja dari praktikum
ini adalah sebagai berikut.
1. Berbagai
jenis pestisida yang telah disiapkan diamati dengan baik.
2. Selanjutnya,
berbagai pestisida tersebut dicatat label pestisida meliputi : nama dagang,
bahan akktif dan konsentrasinya, formulasi, cara penggunaan, hama sasaran,
jenis pestisida, dan dosis.
III.
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
3.1
Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan pada percobaan ini adalah
sebagai berikut:
|
No.
|
Foto
|
Label
pestisida
|
|
1.
|
![]() |
Nama Dagang :
Curaterr
Bahan Aktif (BA) :
Karbofuran
Konsentrasi BA : 3%
Formulasi : 3 Gr
Cara Penggunaan :
ditaburkan pada tanah
Hama sasaran : Lalat
Kacang Pada Kedelai (Agromyza sp.),
Nematoda Bintil Akar (Meloidogyne
sp.)
Jenis pestisida :
Insektisida dan Nematisida
Dosis : Lalat Kacang
Pada Kedelai : 100-200 kg/ha, nematoda bintil akar : 4,25-8,5 kg/ha
|
|
2.
|
![]() |
Nama Dagang :
Pestisida Nabati
Bahan Aktif (BA) :
Ekstrak Tumbuhan
Konsentrasi BA : -
Formulasi : EC
Cara Penggunaan :
disemprotkan pada hama
Hama sasaran : Wereng
Coklat, Ulat Grayak
Jenis pestisida :
Insektisida
Dosis : 1 liter
pestisida nabati dicampurkan dengan 15 liter air
|
|
3.
|
![]() |
Nama Dagang : Sevin
Bahan Aktif (BA) :
Karbaril
Konsentrasi BA : 85%
Formulasi : WP
Cara Penggunaan :
campurkan bubuk Sevin dengan air kemudian disemprotkan pada tanaman.
Hama sasaran :
Belalang, Ulat Grayak, Penggerek Daun
Jenis pestisida : -
Dosis : tanaman
jagung (1,5 kg/ha), tanaman kacang tanah (1-1,5 gr/ha)
|
|
|
4.
|
![]() |
Nama Dagang : Cascade
Bahan Aktif (BA) :
Flutenoksuron
Konsentrasi BA : 50
gr/L
Formulasi : EC
Cara Penggunaan :
disemprotkan pada hama
Hama sasaran : Ulat
Grayak, Ulat api
Jenis pestisida :
Insektisida
Dosis : tanaman
bawang merah (1-2 ml), tanaman kedelai (0,75-1,5 ml)
|
|
|
5.
|
![]() |
Nama Dagang :
Bayleton
Bahan Aktif (BA) :
Triadimefon
Konsentrasi BA : 250
gr/L
Formulasi : EC
Cara Penggunaan :
disiramkan pada akar dan penyemprotan.
Hama sasaran :
Cendawan Akar Putih, Karat Daun Kedelai
Jenis pestisida :
Fungisida
Dosis : Cendawan Akar
Putih (5-10 ml/pohon)
|
|
|
6.
|
![]() |
Nama Dagang :
Marshall
Bahan Aktif (BA) :
Karbosulfan
Konsentrasi BA :
200,11 gr/L
Formulasi : EC
Cara Penggunaan :
penyemprotan volume tinggi
Hama sasaran : Ulat
Grayak, Thrips sp.
Jenis pestisida :
Insektisida
Dosis : tanaman
bawang merah (400-600 ltr/ha), tanaman jeruk (500-1000 ltr/ha)
|
|
|
7.
|
![]() |
Nama Dagang : Furadan
Bahan Aktif (BA) :
Karbofuran
Konsentrasi BA : 3%
Formulasi : Gr
Cara Penggunaan :
ditaburkan atau disebar
Hama sasaran :
Penggerek Ulat, Nematoda
Jenis pestisida :
Insektisida dan Nematisida
Dosis : tanaman padi (5-10
gr/m2)
|
|
|
8.
|
![]() |
Nama Dagang : Decis
Bahan Aktif (BA) :
Deltametrin
Konsentrasi BA : 25
gr/L
Formulasi : EC
Cara Penggunaan :
disemprotkan
Hama sasaran : Ulat
Grayak
Jenis pestisida :
Insektisida
Dosis : 0-5-1
ml/tanaman
|
|
3.2
Pembahasan
Pengendalian hama
dilakukan dengan cara bercocok tanam dan pengendalian hayati berdasarkan
pemahaman biologi hama yang dilakukan oleh bangsa Cina lebih dari 3000 tahun
yang lalu. Penggunaan pestisida dimulai sejak tahun 2500 sebelum masehi, dimana
orang-orang Sumeria di Mesopotamia yang menggunakan belerang (sulfur) untuk
mengendalikan tungau. Pada tahun 1939 DDT ditemukan sebagai insektisida oleh
Paul Muller. Pengendalian OPT tidak memerhatikan perkembangan pemahaman biologi
hama. Petani melakukan aplikasi pestisida secara berjadwal dan berlebihan. Lalu
pada tahun 1962 Dr. Rachel Carson mempublikasikan mengenai Silent Spring.
Menyusul pada tahun 1973 di Amerika Serikat membuat larangan penggunaan DDT.
(Flint dan van den Bosch 1990). PHT diawali dengan terbentuknya Environmental
Protection Agency (EPA) di Amerika Serikat pada tahun 1972 dan pengalihan
wewenang registrasi pestisida dari Departemen Pertanian ke EPA. Pada tahun
1980-1990, berbagai negara menetapkan PHT sebagai kebijakan nasional
(Sudarmo,1991).
Pestisida dalam hal ini merupakan bahan kimia yang digunakan untuk
mengendalikan hama untuk menurunkan populasi hama yang sedang menyerang
tanaman. Menurut UU RI No. 12/1992 : Pestisida adalah zat atau senyawa kimia,
zat pengatur, dan perangsang tumbuh, bahan lain serta organisme renik atau
virus yang digunakan untuk melakukan perlindungan tanaman. Kelompok utama
pestisida yang digunakan untuk mengendalikan serangga hama diberi nama
masing-masing sesuai dengan hama sasarannya dan juga cara kerjanya (Yuantari,
2011).
Ditinjau dari jenis
organisme yang menjadi sasaran penggunaan pestisida dapat dibedakan
menjadi beberapa jenis antara lain:
1. Akarisida,
berasal dari kata akari, yang dalam
bahasa Yunani berarti tungau atau kutu. Fungsinya untuk membunuh tungau atau
kutu.
2. Algasida,
berasal dari kata alga, bahasa latinnya berarti ganggang laut, berfungsi untuk
membunuh alge.
3. Alvisida,
berasal dari kata avis, bahasa
latinnya berarti burung, fungsinya sebagai pembunuh atau penolak burung.
4. Bakterisida,
Berasal dari kata latin bacterium, atau kata Yunani bakron, berfungsi untuk membunuh bakteri.
5. Fungsida,
berasal dari kata latin fungus, atau kata Yunani spongos yang artinya jamur, berfungsi untuk membunuh jamur atau
cendawan.
6. Herbisida,
berasal dari kata lain herba, artinya
tanaman setahun, berfungsi untuk membunuh gulma.
7. Insektisida,
berasal dari kata latin insectum,
artinya potongan, keratan segmen tubuh, berfungsi untuk membunuh serangga.
8. Molluskisida,
berasal dari kata Yunani molluscus,
artinya berselubung tipis atau lembek, berfungsi untuk membunuh siput.
9. Nematisida,
berasal dari kata latin nematoda,
atau bahasa Yunani nema berarti
benang, berfungsi untuk membunuh nematoda.
10. Ovisida,
berasal dari kata latin ovum berarti telur, berfungsi untuk merusak telur.
Pedukulisida, berasal dari kata latin pedis, berarti kutu, tuma, berfungsi
untuk membunuh kutu atau tuma.
11. Piscisida,
berasal dari kata Yunani Piscis,
berarti ikan, berfungsi untuk membunuh ikan.
12. Rodentisida,
berasal dari kata Yunani rodere,
berarti pengerat berfungsi untuk membunuh binatang pengerat.
13. Termisida,
berasal dari kata Yunani termes,
artinya serangga pelubang kayu berfungsi untuk membunuh rayap.
Berdasarkan bentuk
formulasi, pestisida dikelompokkan menjadi
1. Butiran
(G/granule)biasanya pestisida dengan
formulasi bentuk ini dapat langsung diaplikasikan tanpa harus diiarutkan
terlebih dahulu.
2. WP
(Wettable powder) biasanya harus
dilarutkan terlebih dahulu sebelum diaplikasikan. Formulasi bentuk ini
membentuk sediaan pestisida berupa suspensi. sehingga sangat diperlukan
pengadukan yang terus menerus karena sifat sediaan ini dapat mengendap dan
dapat merusak alat aplikasi atau terjadinya penyumbatan pada noze. Beberapa
kode formulasi pestisida yang sejenis artinya akan menjadi suspensi jika
diencerkan dengan air adalah SC, F. dan lain-lain (Hamdayu, 2012).
3. EC
(Emulsifiable concentrates)Pestisida
dengan formulasi berbentuk EC ini akan membentuk emulsi (seperti susu) pada
larutan semprot. Larutan jadi ini tidak memerlukan pengadukan yang terus
menerus. Pada umumnya insektisida memiliki formulasi bentuk EC.
4. AS
Pestisida dengan formulasi ini akan membentuk iarutan yang homogen setelah
dicampurkan dengan air. Biasanya pestisida dengan bentuk formulasi ini adalah
dari golongan herbisida. Beberapa kode formulasi lain yang akan menjadi larutan
jika diencerkan dengan air adalah SP, L, WSC, dan lain-lain
5. Beberapa
kode formulasi lain yang tidak perlu penambahan air dan dapat diaplasikan langsung
di lapangan seperti pelet (Munaf, 1997).
Aplikasi atau penggunaan pestisida
terdapat 6 tepat aplikasi pestisida yaitu :
1. Tepat
mutu adalah pestisida yang digunakan harus bermutu baik. Tidak
dianjurkan menggunakan pestisida yang rusak, atau expired karena dikhawatirkan akan menimbulkan dampak yang buruk
bagi tanaman dan kesehatan manusia.
2. Tepat
sasaran adalah pestisida yang akan digunakan harus sesuai dan cocok dengan
hama yang menyerang. Pengamatan dan identifikasi terhadap serangan hama
harus dilakukan kemudian langkah selanjutnya aialah memilih jenis pestisida
yang sesuai dengan OPT tersebut. Sebagai contoh : Apabila OPT yang
menyerang adalah gulma maka dipilih herbisida, hama nematoda yang menyerang
maka pilih nematisida, hama jamur yang menyerang maka dipilih fungisida dst.
3. Tepat
jenis pestisida, tidak semua pestisida yang beredar di pasaran, boleh
digunakan pada setiap jenis tanaman yang diserang hama. Oleh karena itu,
dipilih jenis pestisida yang dianjurkan untuk mengendalikan suatu
jenis OPT pada suatu jenis tanaman.
4. Tepat
waktu, pemakaian pestisida harus disesuaikan dengan populasi hama yang
menyerang telah memasuki ambang ekonomi. Selain itu, pertumbuhan tanaman dan
keadaan cuaca yang berubah-ubah harus disesuaikan dengan waktu pemberian
pestisida.
5. Tepat
dosis atau konsentrasi, pemakaian pestisida dianjurkan sesuai dengan jumlah
populasi hama yang menyerang, sehingga pestisida yang diberikan dapat membunuh
hama sekaligus tidak memberikan residu pada tanah. Dengan demikian, tidak ada
gangguan kesehatan bagi manusia dan tidak menyebabkan hama menjadi resisten
terhadap pestisida yang diberikan.
6. Tepat
cara penggunaan. Pada umumnya penggunaan pestisida dilakukan dengan cara
disemprot. Cara menyemprot yang baik adalah dengan tidak melawan arah angin.
Adapula yang ditaburkan ke tanah atau tanaman.
IV. KESIMPULAN
Setelah melakukan percobaan ini,
maka dapat disimpulkan:
1. Penggunaan
pestisida harus disesuaikan dengan hama yang menyerang tanaman budidaya.
2.
Sebelum
digunakan, pestisida harus diformulasikan terlebih dahulu.
3. Formulasi
pestisida diantaranya cairan pekat (Emulsifiable
concetrates), tepung (Wettable powder),
butiran (Granule).
4. Pemakaian
pestisida secara berlebihan dapat meninggalkan residu dan menyebabkan
resistensi hama.
5. Pestisida
merupakan alternatif terakhir dalam aplikasi budidaya tanaman terhadap serangan
hama.
DAFTAR PUSTAKA
Djojosumarto,
Panut. 2008. Pestisida dan Aplikasinya. Jakarta. PT.
Agromedia Pustaka.
Hamdayu.
2012. Daftar Istilah Dalam Pestisida. http:// impht.faperta.ugm.ac.id.
Diakses pada 17 November
2015.
Munaf,
Sjamsuir. 1997. Keracunan Akut Pestisida. Jakarta: Widya Medika.
Sudarmo,
Subiyakto.1991. Pestisida. Yogyakarta. Kanisius.
Yuantari, M.
G. C. 2011. Dampak Pestisida Organoklorin terhadap Kesehatan Manusia dan
Lingkungan serta Penanggulangannya. Semarang. Universitas Dian Nuswantoro.
LAMPIRAN








Tidak ada komentar:
Posting Komentar