Sabtu, 03 Desember 2016

Pengenalan Pestisida



PENGENALAN PESTISIDA
(Praktikum Bioekologi Hama Tumbuhan)







Oleh

Irvan Saputra
1414121114
Kelompok 10



Description: unila logo


JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015
I. PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Hampir semua diantara kita pernah mendengar kata pestisida, herbisida, insektisida atau nama lainnya. Hampir dalam semua sisi kehidupan kita tidak bisa lepas dari pestisida dalam berbagai bentuknya. Penggunaan pestisida dalam pembangunan di berbagai sektor seperti pertanian, kesehatan masyarakat, perdagangan dan industri semakin meningkat. Pestisida terbukti mempunyai peranan yang penting dalam peningkatan kesejahteraan rakyat. Pada bidang pertanian termasuk pertanian rakyat maupun perkebunan yang dikelola secara profesional dalam skala besar menggunakan pestisida yang sebagian besar adalah golongan organofosfat. Demikian pula pada bidang kesehatan masyarakat pestisida yang digunakan sebagian besar adalah golongan organofosfat. Karena golongan ini lebih mudah terurai di alam.
Penggunaan pestisida di bidang pertanian saat ini memegang peranan penting. Sebagian besar masih menggunakan pestisida karena kemampuannya untuk memberantas hama sangat efektif. Pestisida adalah bahan yang beracun dan berbahaya, yang bila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak negatif yang tidak diinginkan. Dampak negatif tesebut akan menimbulkan berbagai masalah baik secara langsung ataupun tidak, akan berpengaruh terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia seperti keracunan. Dampak negatif yang terjadi dari penggunaan pestisida pada pengendalian hama adalah keracunan, khususnya para petani yang sering atau intensif menggunakan pestisida.
Penggunaan pestisida tanpa mengikuti aturan yang diberikan membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan, serta juga dapat merusak ekosistem. Dengan adanya pestisida ini, produksi pertanian meningkat dan kesejahteraan petani juga

semakin baik. Karena pestisida tersebut racun yang dapat saja membunuh organisme berguna bahkan nyawa pengguna juga bisa terancam bila penggunaannya tidak sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Namun kebanyakan pestisida sintetik lebih berbaya dampaknya ke lingkungan daripada pestisida nabati. Pestisida –pestisida itu antara lain insektisida, herbisida, nematida, bakterisida, fungisida, dan lain-lain (Djojosumarto, 2008)

Walaupun pada teorinya pestisida digunakan saat musuh alami OPT sudah tidak seimbang, tetapi pada praktiknya selalu pestisida yang menjadi jalan pintas untuk mengendalikannya. Oleh karena itu perlu dilakukan pengenalan pestisida.

1.2    Tujuan Percobaan

Adapun tujuan percobaan ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui berbagai macam pestisida yang sering digunakan dalam pengendalian.
2.      Mengetahui cara aplikasi pestisida yang dikenalkan.
3.      Mengetahui hama sasaran dari pestisida yang dikenalkan.

II. METODOLOGI PRAKTIKUM


2.1 Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah :
1.      Kertas
2.      Alat tulis

Sedangkan bahan yang digunakan pada praktikum adalah :
1.      Curaterr 3 Gr
2.      Pestisida Nabati
3.      Sevin
4.      Cascade 50 EC
5.      Bayleton 250 EC
6.      Marshall 200 EC
7.      Furadan 3 Gr
8.      Decis 2,5 EC


2.2 Cara Kerja
Adapun cara kerja dari praktikum ini adalah sebagai berikut.
1.      Berbagai jenis pestisida  yang  telah disiapkan diamati dengan baik.
2.      Selanjutnya, berbagai pestisida tersebut dicatat label pestisida meliputi : nama dagang, bahan akktif dan konsentrasinya, formulasi, cara penggunaan, hama sasaran, jenis pestisida, dan dosis.


III. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan pada percobaan ini adalah sebagai berikut:
No.
Foto
Label pestisida
1.
Description: D:\Agriculture\s 3\bht\gambar pestisida\P51112-134841.jpg
Nama Dagang : Curaterr
Bahan Aktif (BA) : Karbofuran
Konsentrasi BA : 3%
Formulasi : 3 Gr
Cara Penggunaan : ditaburkan pada tanah
Hama sasaran : Lalat Kacang Pada Kedelai (Agromyza sp.), Nematoda Bintil Akar (Meloidogyne sp.)
Jenis pestisida : Insektisida dan Nematisida
Dosis : Lalat Kacang Pada Kedelai : 100-200 kg/ha, nematoda bintil akar : 4,25-8,5 kg/ha
2.
Description: D:\Agriculture\s 3\bht\gambar pestisida\1447630784027.jpg
Nama Dagang : Pestisida Nabati
Bahan Aktif (BA) : Ekstrak Tumbuhan
Konsentrasi BA : -
Formulasi : EC
Cara Penggunaan : disemprotkan pada hama
Hama sasaran : Wereng Coklat, Ulat Grayak
Jenis pestisida : Insektisida
Dosis : 1 liter pestisida nabati dicampurkan dengan 15 liter air

3.
Description: D:\Agriculture\s 3\bht\gambar pestisida\1447630771151.jpg
Nama Dagang : Sevin
Bahan Aktif (BA) : Karbaril
Konsentrasi BA : 85%
Formulasi : WP
Cara Penggunaan : campurkan bubuk Sevin dengan air kemudian disemprotkan pada tanaman.
Hama sasaran : Belalang, Ulat Grayak, Penggerek Daun
Jenis pestisida : -
Dosis : tanaman jagung (1,5 kg/ha), tanaman kacang tanah (1-1,5 gr/ha)
4.
Description: D:\Agriculture\s 3\bht\gambar pestisida\P51112-140630.jpg
Nama Dagang : Cascade
Bahan Aktif (BA) : Flutenoksuron
Konsentrasi BA : 50 gr/L
Formulasi : EC
Cara Penggunaan : disemprotkan pada hama
Hama sasaran : Ulat Grayak, Ulat api
Jenis pestisida : Insektisida
Dosis : tanaman bawang merah (1-2 ml), tanaman kedelai (0,75-1,5 ml)
5.
Description: D:\Agriculture\s 3\bht\gambar pestisida\1447630773382.jpg
Nama Dagang : Bayleton
Bahan Aktif (BA) : Triadimefon
Konsentrasi BA : 250 gr/L
Formulasi : EC
Cara Penggunaan : disiramkan pada akar dan penyemprotan.
Hama sasaran : Cendawan Akar Putih, Karat Daun Kedelai
Jenis pestisida : Fungisida
Dosis : Cendawan Akar Putih (5-10 ml/pohon)
6.
Description: D:\Agriculture\s 3\bht\gambar pestisida\1447630789043.jpg
Nama Dagang : Marshall
Bahan Aktif (BA) : Karbosulfan
Konsentrasi BA : 200,11 gr/L
Formulasi : EC
Cara Penggunaan : penyemprotan volume tinggi
Hama sasaran : Ulat Grayak, Thrips sp.
Jenis pestisida : Insektisida
Dosis : tanaman bawang merah (400-600 ltr/ha), tanaman jeruk (500-1000 ltr/ha)
7.
Description: D:\Agriculture\s 3\bht\gambar pestisida\1447630769326.jpg
Nama Dagang : Furadan
Bahan Aktif (BA) : Karbofuran
Konsentrasi BA : 3%
Formulasi : Gr
Cara Penggunaan : ditaburkan atau disebar
Hama sasaran : Penggerek Ulat, Nematoda
Jenis pestisida : Insektisida dan Nematisida
Dosis : tanaman padi (5-10 gr/m2)
8.
Description: D:\Agriculture\s 3\bht\gambar pestisida\1447630790562.jpg
Nama Dagang : Decis
Bahan Aktif (BA) : Deltametrin
Konsentrasi BA : 25 gr/L
Formulasi : EC
Cara Penggunaan : disemprotkan
Hama sasaran : Ulat Grayak
Jenis pestisida : Insektisida
Dosis : 0-5-1 ml/tanaman






3.2 Pembahasan
Pengendalian hama dilakukan dengan cara bercocok tanam dan pengendalian hayati berdasarkan pemahaman biologi hama yang dilakukan oleh bangsa Cina lebih dari 3000 tahun yang lalu. Penggunaan pestisida dimulai sejak tahun 2500 sebelum masehi, dimana orang-orang Sumeria di Mesopotamia yang menggunakan belerang (sulfur) untuk mengendalikan tungau. Pada tahun 1939 DDT ditemukan sebagai insektisida oleh Paul Muller. Pengendalian OPT tidak memerhatikan perkembangan pemahaman biologi hama. Petani melakukan aplikasi pestisida secara berjadwal dan berlebihan. Lalu pada tahun 1962 Dr. Rachel Carson mempublikasikan mengenai Silent Spring. Menyusul pada tahun 1973 di Amerika Serikat membuat larangan penggunaan DDT. (Flint dan van den Bosch 1990). PHT diawali dengan terbentuknya Environmental Protection Agency (EPA) di Amerika Serikat pada tahun 1972 dan pengalihan wewenang registrasi pestisida dari Departemen Pertanian ke EPA. Pada tahun 1980-1990, berbagai negara menetapkan PHT sebagai kebijakan nasional (Sudarmo,1991).
Pestisida dalam hal ini merupakan bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan hama untuk menurunkan populasi hama yang sedang menyerang tanaman. Menurut UU RI No. 12/1992 : Pestisida adalah zat atau senyawa kimia, zat pengatur, dan perangsang tumbuh, bahan lain serta organisme renik atau virus yang digunakan untuk melakukan perlindungan tanaman. Kelompok utama pestisida yang digunakan untuk mengendalikan serangga hama diberi nama masing-masing sesuai dengan hama sasarannya dan juga cara kerjanya (Yuantari, 2011).
Ditinjau dari jenis organisme  yang menjadi sasaran penggunaan pestisida dapat dibedakan menjadi beberapa jenis antara lain:
1.      Akarisida, berasal dari kata akari, yang dalam bahasa Yunani berarti tungau atau kutu. Fungsinya untuk membunuh tungau atau kutu.
2.      Algasida, berasal dari kata alga, bahasa latinnya berarti ganggang laut, berfungsi untuk membunuh alge.
3.      Alvisida, berasal dari kata avis, bahasa latinnya berarti burung, fungsinya sebagai pembunuh atau penolak burung.
4.      Bakterisida, Berasal dari kata latin bacterium, atau kata Yunani bakron, berfungsi untuk membunuh bakteri.
5.      Fungsida, berasal dari kata latin fungus, atau kata Yunani spongos yang artinya jamur, berfungsi untuk membunuh jamur atau cendawan.
6.      Herbisida, berasal dari kata lain herba, artinya tanaman setahun, berfungsi untuk membunuh gulma.
7.      Insektisida, berasal dari kata latin insectum, artinya potongan, keratan segmen tubuh, berfungsi untuk membunuh serangga.
8.      Molluskisida, berasal dari kata Yunani molluscus, artinya berselubung tipis atau lembek, berfungsi untuk membunuh siput.
9.      Nematisida, berasal dari kata latin nematoda, atau bahasa Yunani nema berarti benang, berfungsi untuk membunuh nematoda.
10.  Ovisida, berasal dari kata latin ovum berarti telur, berfungsi untuk merusak telur. Pedukulisida, berasal dari kata latin pedis, berarti kutu, tuma, berfungsi untuk membunuh kutu atau tuma.
11.  Piscisida, berasal dari kata Yunani Piscis, berarti ikan, berfungsi untuk membunuh ikan.
12.  Rodentisida, berasal dari kata Yunani rodere, berarti pengerat berfungsi untuk membunuh binatang pengerat.
13.  Termisida, berasal dari kata Yunani termes, artinya serangga pelubang kayu berfungsi untuk membunuh rayap.

Berdasarkan bentuk formulasi, pestisida dikelompokkan menjadi
1.      Butiran (G/granule)biasanya pestisida dengan formulasi bentuk ini dapat langsung diaplikasikan tanpa harus diiarutkan terlebih dahulu.
2.      WP (Wettable powder) biasanya harus dilarutkan terlebih dahulu sebelum diaplikasikan. Formulasi bentuk ini membentuk sediaan pestisida berupa suspensi. sehingga sangat diperlukan pengadukan yang terus menerus karena sifat sediaan ini dapat mengendap dan dapat merusak alat aplikasi atau terjadinya penyumbatan pada noze. Beberapa kode formulasi pestisida yang sejenis artinya akan menjadi suspensi jika diencerkan dengan air adalah SC, F. dan lain-lain (Hamdayu, 2012).
3.      EC (Emulsifiable concentrates)Pestisida dengan formulasi berbentuk EC ini akan membentuk emulsi (seperti susu) pada larutan semprot. Larutan jadi ini tidak memerlukan pengadukan yang terus menerus. Pada umumnya insektisida memiliki formulasi bentuk EC.
4.      AS Pestisida dengan formulasi ini akan membentuk iarutan yang homogen setelah dicampurkan dengan air. Biasanya pestisida dengan bentuk formulasi ini adalah dari golongan herbisida. Beberapa kode formulasi lain yang akan menjadi larutan jika diencerkan dengan air adalah SP, L, WSC, dan lain-lain
5.      Beberapa kode formulasi lain yang tidak perlu penambahan air dan dapat diaplasikan langsung di lapangan seperti  pelet (Munaf, 1997).

Aplikasi atau penggunaan pestisida terdapat 6 tepat aplikasi pestisida yaitu :
1.    Tepat mutu adalah pestisida  yang  digunakan harus bermutu baik. Tidak dianjurkan menggunakan pestisida yang rusak, atau expired karena dikhawatirkan akan menimbulkan dampak yang buruk bagi tanaman dan kesehatan manusia.

2.    Tepat sasaran adalah pestisida yang akan digunakan harus sesuai dan cocok dengan hama yang menyerang.  Pengamatan dan identifikasi terhadap serangan hama harus dilakukan kemudian langkah selanjutnya aialah memilih jenis pestisida  yang sesuai dengan OPT tersebut. Sebagai contoh  : Apabila OPT yang menyerang adalah gulma maka dipilih herbisida, hama nematoda yang menyerang maka pilih nematisida, hama jamur yang menyerang maka dipilih fungisida dst.

3.    Tepat jenis pestisida, tidak semua pestisida yang beredar di pasaran, boleh digunakan pada setiap jenis tanaman yang diserang hama. Oleh karena itu, dipilih jenis pestisida  yang  dianjurkan untuk mengendalikan suatu jenis OPT pada suatu jenis tanaman.

4.    Tepat waktu, pemakaian pestisida harus disesuaikan dengan populasi hama yang menyerang telah memasuki ambang ekonomi. Selain itu, pertumbuhan tanaman dan keadaan cuaca yang berubah-ubah harus disesuaikan dengan waktu pemberian pestisida.
5.    Tepat dosis atau konsentrasi, pemakaian pestisida dianjurkan sesuai dengan jumlah populasi hama yang menyerang, sehingga pestisida yang diberikan dapat membunuh hama sekaligus tidak memberikan residu pada tanah. Dengan demikian, tidak ada gangguan kesehatan bagi manusia dan tidak menyebabkan hama menjadi resisten terhadap pestisida yang diberikan.

6.    Tepat cara penggunaan.  Pada umumnya penggunaan pestisida dilakukan dengan cara disemprot. Cara menyemprot yang baik adalah dengan tidak melawan arah angin. Adapula yang ditaburkan ke tanah atau tanaman.

IV. KESIMPULAN

Setelah melakukan percobaan ini, maka dapat disimpulkan:
1.      Penggunaan pestisida harus disesuaikan dengan hama yang menyerang tanaman budidaya.
2.      Sebelum digunakan, pestisida harus diformulasikan terlebih dahulu.
3.      Formulasi pestisida diantaranya cairan pekat (Emulsifiable concetrates), tepung (Wettable powder), butiran (Granule).
4.      Pemakaian pestisida secara berlebihan dapat meninggalkan residu dan menyebabkan resistensi hama.
5.      Pestisida merupakan alternatif terakhir dalam aplikasi budidaya tanaman terhadap serangan hama.

DAFTAR PUSTAKA

Djojosumarto, Panut. 2008. Pestisida dan Aplikasinya. Jakarta. PT. Agromedia Pustaka.
Hamdayu. 2012. Daftar Istilah Dalam Pestisida. http:// impht.faperta.ugm.ac.id. Diakses pada 17 November 2015.
Munaf, Sjamsuir. 1997. Keracunan Akut Pestisida. Jakarta: Widya Medika.
Sudarmo, Subiyakto.1991. Pestisida. Yogyakarta. Kanisius.
Yuantari, M. G. C. 2011. Dampak Pestisida Organoklorin terhadap Kesehatan Manusia dan Lingkungan serta Penanggulangannya. Semarang. Universitas Dian Nuswantoro.







LAMPIRAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar