PENGENALAN
BEBERAPA ORDO SERANGGA
SEBAGAI
HAMA DAN MUSUH ALAMI
(Praktikum Bioekologi Hama Tumbuhan)
Oleh
Irvan Saputra
1414121114
Kelompok 10
JURUSAN
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
LAMPUNG
2015
I.
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pertanian
merupakan sektor yang sangat vital dalam keberadaannya untuk memenuhi kebutuhan
pangan nasional. Selain itu juga menjadi sumber penghasilan utama bagi golongan
petani maupun pelaku industry di bidang pertanian. Oleh karena itu diperlukan
suatu cara untuk menjaga hasil produksi pertanian tetap stabil bahkan bisa
untuk ditingkatkan lagi. Salah satu faktor yang menghambat produksi pertanian
yaitu karena serangan hama.
Hama merupakan
organisme pengganggu tanaman (OPT) yang dapat merugikan usahatani secara luas.
OPT termasuk hama dan gulma, tetapi dalam arti sempit hama dikhususkan sebagai
serangga yang dapat merusak tanaman yang menyebabkan turunnya produksi
pertanian sehingga dapat merugikan petani atau pellaku industri pertanian. Hemiptera, odonata dan dermaptera merupakan ordo dari kelas
insect. Dalam pertanian ordo-ordo tersebut berperan sebagai herbivora,
omnivora, predator dan pemakan bangkai. Namun peran sebagai herbivora lebih
dominan sehingga dapat merusak tanaman. Akan tetapi pada ordo
odonata biasanya sebagai predator pada hama tanaman tertentu.
Dari uraian
diatas maka pada praktikum ini dilakukan pengamatan serta pengenalan beberapa
spesies serangga dari beberapa ordo yang dapat berperan sebagai hama
pada budidaya tanaman pangan, perkebunan, dan hortikultura. Setelah melalkuakn
praktikum ini diharapkan dapat mengetahui dan memahami masing-masing ordo
serangga sebagai hama dan musuh alami. Sehingga dapat meningkatkan hasil dari
budidaya tanaman tersebut.
1.2
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari
praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.
Mengetahui beberapa spesies serangga
sebagai hama dan musuh alami.
2.
Mengetahui ciri-ciri dari spesies serangga
hama dan serangaa sebagai musuh alami.
3.
Mengetahui peranan beberapa spesies
serangga sebagai musuh alami.
II.
METODOLOGI PRAKTIKUM
2.1 Alat dan Bahan
Adapun
alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Pena,
2. Buku
tulis,
3. Kertas
A4,
4. Handphone,
5. Mikroskop.
Adapun bahan yang digunakan pada
praktikum ini adalah:
1. Awetan serangga dalam cawan
petri.
2.2
Cara Kerja
Adapun cara kerja dari
praktikum kali ini diantaranya sebagai berikut.
1. Praktikan
diharapkan menuju ke kelompok kerja masing-masing. Hendaknya dilakukan kerja
sama dan selalu mendiskuksikan substansi praktikum dalam suasana cooperative
learning.
2. Praktikan
mendengarkan dan mencatat para asisten memberikan penjelasan dan pemahaman
mengenai serangga sebagai hama dan musuh alami.
3. Praktikan
memperhatikan dan mencatat segala penjelasan yang diberikan asisten praktikum. Asisten
memberikan arahan pada masing-masing kelompok untuk mengamati dengan seksama
dan menggambarnya dengan sebaik mungkin. Kemudian dibahas dan didiskuksikan
dalam kelompok kerja atau kelompok praktikum.
III.
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
3.1
Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan pada percobaan ini adalah
sebagai berikut:
No
|
Nama
|
Foto
|
Gambar
|
1.
|
Kumbang
BadakOrdo : Coleoptera
Family
: Scarabaidae
Spesises
: Oryctes rhynoceros
|
||
2.
|
Hypothenemus hampei
Ordo
: Coleoptera
Family
: Curculionidae
Spesies
: Hypothenemus hampei
|
||
3.
|
Lalat
Buah
Ordo
: Diptera
Family
: Tephritidae
Spesies
: Bactrocera donsalis
|
||
4.
|
Semut
Rang-Rang-Oecophylla smaragdina
(Hymenoptera:Formicidae)
Ordo
: Hymenoptera
Family
: Formicidae
Spesies
: Oecophylla smaragdina
|
5.
|
Semut
Hitam
Ordo
: Hymenoptera
Family
: Formicidae
Spesies
: Dolichoderus bituberculatus
|
3.2
Pembahasan
3.2.1 Kumbang Badak-Oryctes rhynoceros
(Coleoptera:Scarabaidae)
Kumbang badak merupakan
salah satu jenis kumbang terbesar di dunia dan adalah hewan nokturnal (aktif di
malam hari). Saat siang, mereka bersembunyi di bawah batang pohon untuk
menghindari predator. Secara proporsional, kumbang badak adalah hewan terkuat
di bumi. Mereka bisa mengangkat hingga 850 kali berat badan mereka sendiri. Kumbang
badak merupakan salah satu dari 300 spesies kumbang tanduk. Kumbang ini
merupakan hama utama yang menyerang kelapa sawit dan sangat merugikan di
Indonesia, khususnya di areal replanting yang saat ini sedang
dilakukan secara besar-besaran di Indonesia. Hal ini disebabkan karena pada
areal replanting, banyak tumpukan bahan organik yang sedang mengalami proses
pembusukan sehingga menjadi tempat yang sangat baik bagi perkembang biakan hama
ini.
Siklus Hidup
Siklus hidup kumbang
badak bervariasi tergantung pada habitat dan kondisi lingkungannya. Musim
kemarau yang panjang dengan jumlah makanan yang sedikit akan memperlambat perkembangan
larva serta ukuran kumbang dewasa menjadi lebih kecil dari ukuran normal. Suhu
perkembangan larva yang sesuai adalah 27oC-29oC dengan kelembapan relatif
85-95%. Satu siklus hidup kumbang badak, dari telur sampai dewasa sekitar 6-9
bulan (Borror, 1996).
Kumbang ini mempunyai
telur yang berwarna putih kekuningan dengan diameter 3 mm. Bentuk telur
biasanya oval, kemudian mulai membesar sekitar satu minggu setelah peletakan
dan menetas pada umur 8-12 hari. Stadia larva terdiri atas 3 instar, dan berlangsung
dalam waktu 82-207 hari.Larva berwarna putih kekuningan, berbentuk silinder,
gemuk dan berkerut-kerut, melengkung membentuk setengah lingkaran dengan
panjang sekitar 60-100 mm atau lebih.
Prepupa terlihat
menyerupai larva, hanya saja lebih kecil dari larva instar terakhir dan menjadi
berkerut serta aktif bergerak ketika diganggu. Lama stadia prepupa berlangsung
8-13 hari. Pupa berwarna cokelat kekuningan, berukuran sampai 50 mm dengan
waktu 17-28 hari.
Kumbang badak berwarna
cokelat gelap sampai hitam, mengkilap, panjang 35-115 mm dan lebar 20-23 mm
dengan satu tanduk yang menonjol pada bagian kepala. Jantan memiliki tanduk
yang lebih panjang dari betina sedangkan betina mempunyai banyak rambut pada
ujung ruas terakhir abdomen dan jantan tidak. Umur betina (bisa mencapai 2
tahun) lebih panjang dari umur jantan (sekitar 8 bulan).
Kumbang ini akan
meletakkan telurnya pada sisa-sisa bahan organik yang telah melapuk. Misalnya
batang kelapa sawit yang masih berdiri dan telah melapuk, rumpukan batang kelapa
sawit, batang kelapa sawit yang telah dicacah, serbuk gergaji, tunggul-tunggul
karet serta tumpukan tandan kosong kelapa sawit. Adanya tanaman kacangan
penutup tanah akan menghalangi pergerakan kumbang dalam menemukan tempat
berkembang biak. Selain itu tanaman penutup tanah setinggi 0,6-0,8 m juga dapat
mengurangi perkembangbiakan kumbang tanduk.
Batang kelapa sawit
yang diracun dan masih berdiri sampai pembusukan pada
sistem underplanting merupakan tempat berkembangbiak yang paling baik
bagi kumbang badak. Selama lebih dari 2 tahun masa dekomposisi, batang kelapa
sawit yang masih berdiri, dapat memberikan perkembangbiakan 39.000 larva
perhektar dibandingkan dengan batang yang telah dicacah dan dibakar (500 larva
perhektar.
Seperti telah
disebutkan di atas, kumbang badak merupakan salah satu hama tanaman kelapa
sawit yang utama. Kumbang O. rhinocerosmenyerang tanaman kelapa
sawit yang baru ditanam di lapangan sampai berumur 2,5 tahun. Kumbang ini
jarang sekali dijumpai menyerang kelapa sawit yang sudah menghasilkan (TM).
Namun demikian, dengan dilakukannya pemberian mulsa tandan kosong kelapa sawit
(TKS) yang lebih dari satu lapis, maka masalah hama ini sekarang juga dijumpai
pada areal TM.
Pada
areal replanting kelapa sawit, serangan kumbang dapat mengakibatkan
tertundanya masa berproduksi sampai satu tahun, dan tanaman yang mati dapat
mencapai 25%. Masalah kumbang tanduk saat ini semakin bertambah dengan adanya
aplikasi tandan kosong kelapa sawit pada gawangan maupun pada sistem lubang
tanam besar. Aplikasi mulsa tandan kosong sawit (TKS) yang kurang tepat, dapat
mengakibatkan timbulnya masalah kumbang tanduk di areal kelapa sawit tua. Sebagai
hewan nocturnal, kumbang badak terbang dari tempat persembunyiannya menjelang
senja sampai malam. Dari pengalaman diketahui bahwa kumbang banyak menyerang
kelapa pada malam sebelum turun hujan.
Makanan kumbang dewasa
adalah tajuk tanaman, dengan menggerek melalui pangkal batang sampai pada titik
tumbuh. Daun yang telah membuka akan memperlihatkan bentuk seperti huruf V
terbalik atau karakteristik potongan serrate. Serangan yang berkali-kali pada
tanaman dapat menyebabkan kematian dan menjadi rentan masuknya kumbang badak juga
bakteri ataupun jamur, sehingga terjadi pembusukan yang berkelanjutan. Dalam
keadaan seperti ini tanaman mungkin menjadi mati atau terus hidup tetapi
pertumbuhan dan saat berproduksi akan terhambat.
3.2.2
Hypothenemus hampei
(Coleoptera:Curculionidae)
Penggerek buah kopi (PBKo) sangat
merugikan, karena mampu merusak biji kopi dan sering mencapai populasi yang
tinggi. Umumnya, hanya serangga betina yang sudah kawin akan menggerek buah
kopi; biasanya masuk ke dalam buah dengan membuat lubang kecil pada ujung buah.
Kumbang betina menyerang buah kopi dari mulai buah sedang terbentuk (8minggu setelah
berbunga) sampai waktu panen. Buah yang sudah tua paling disukai.
Kumbang dan larva PBKo menyerang buah
kopi yang sudah cukup kerasdengan cara membuat liang gerekan dan hidup di
dalamnya sehingga menimbulkan kerusakan yang cukup parah. Hama ini tidak hanya
menyerang buah kopi di kebun, tetapi juga menyerang buah di penyimpanan. Selain
hidup dalam buah kopi, hama ini juga menyerang tanaman Tephrosia,
Crotalaria,Caesalpinia, dan Leucaena glauca yang sering
digunakan sebagai tanaman penaung/penutup tanah. Penggerek buah kopi merupakan
kumbang berukuran 0,7 – 1,7 mm, berbadan bulat dengan kepala berbentuk segi
tiga yang ditutupi oleh rambutrambut halus. Kumbang ini biasanya akan bertelur
dalam lubang gerekan. Telurnya menetas dalam waktu sekitar 4 hari, lalu berubah
menjadi larva berwarna putih dan bermulut cokelat (Pracaya. 2010).
Kumbang betina
menggerek ke dalam biji kopi dan bertelur sekitar 31 – 50
butir. Siklus
hidupnya dimulai dari telur, larva, pupa, dan dewasa. Setelah 4
hari telur menetas
menjadi larva yang menggerek biji kopi. 15 hari kemudian
larva berubah
menjadi kepompong (pupa) di dalam biji. Setelah 7 hari
kepompong berubah
menjadi serangga dewasa. Kumbang jantan dan
kumbang betina kawin
di dalam buah kopi, kumbang jantan dapat hidup
dalam waktu 20 – 87
hari dan kumbang betina dapat bertahan hidup dalam
waktu 157 hari.
Kemudian kumbang betina terbang untuk menggerek buah
yang lainnya.
Kumbang jantan tidak bisa terbang sehingga sepanjang hidupnya tetap berada di
dalam buah.
Pada umumnya PBKo
menyerang buah dengan endosperma yang telah
mengeras, namun buah
yang belum mengeras dapat juga diserang. Buah kopi
yang bijinya masih
lunak umumnya hanya digerek untuk mendapatkan makanan
dan selanjutnya
ditinggalkan. Buah demikian tidak berkembang, warnanya
berubah menjadi
kuning kemerahan dan akhirnya gugur. Serangan pada buah
yang bijinya telah
mengeras akan berakibat penurunan mutu kopi karena biji
berlubang. Biji kopi
yang cacat sangat berpengaruh negatif terhadap susunan
senyawa kimianya,
terutama pada kafein dan gula pereduksi. Biji berlubang
merupakan salah satu
penyebab utama kerusakan mutu kimia, sedangkan citarasa kopi dipengaruhi oleh
kombinasi komponen-komponen senyawa kimia yang
terkandung dalam
biji.
PBKo mengarahkan
serangan pertamanya pada bagian kebun kopi yang
bernaungan, lebih
lembab atau di perbatasan kebun. Jika tidak dikendalikan, serangan dapat
menyebar ke seluruh kebun. Betina berkembang biak pada buah
kopi hijau yang sudah matang sampai merah, biasanya membuat lubang
dari ujung dan meletakkan telur pada buah. Kumbang betina terbang dari satu
pohon ke pohon yang lain untuk meletakkan telur. Ketika telur menetas, larva
akan memakan isi buah sehingga menyebabkan menurunnya mutu kopi. PBKo masuk ke
dalam buah kopi dengan cara membuat lubang di sekitar diskus. Serangan pada
buah muda menyebabkan gugur buah. Serangan pada buah yang cukup tua menyebabkan
biji kopi cacat berlubang-lubang dan bermutu rendah. PBKo diketahui makan dan
berkembang biak hanya di dalam buah kopi saja. Kumbang betina masuk ke dalam
buah kopi dengan membuat lubang dari ujung buah dan berkembang biak dalam buah
(Matnawy, 1991).
3.2.3
Lalat Buah-Bactrocera donsalis
(Diptera:Tephritidae)
Lalat buah dan Artrophoda lainnya mempunyai kontruksi modular,
suatu seri segmen yang teratur. segmen ini menyusun tiga bagian tubuh utama,
ayitu; kepala, thoraks, dan abdomen. seperti hewan simetris bilateral lainnya,
lalat ini mempunyai poros anterior dan
posterior (kepala-ekor) dan poros dorsoventral (punggung-perut). Pada
Drosophila, determinan sitoplasmik yang sudah ada di dalam telur memberi
informasi posisional untuk penempatan kedua poros ini bahkan sebelum
fertilisasi. setelah fertilisasi, informasi dengan benar dan akhirnya akan
memicu struktur yang khas dari setiap segmen. Perkembangan dimulai segera setelah terjadi fertilisasi, yang
terdiri dari dua periode. Pertama, periode embrionik di dalam telur pada saat
fertilisasi sampai pada saat larva muda menetas dari telur dan ini terjadi
dalam waktu kurang lebih 24 jam. Dan pada saat seperti ini, larva tidak
berhenti-berhenti untuk makan.
Periode kedua adalah periode setelah menetas dari telur dan
disebut perkembangan postembrionik yang dibagi menjadi tiga tahap, yaitu larva,
pupa, dan imago (fase seksual dengan perkembangan pada sayap). Formasi lainnya
pada perkembangan secara seksual terjadi pada saat dewasa. Telur lalat
berbentuk benda kecil bulat panjang dan biasanya diletakkan di permukaan
makanan. Betina dewasa mulai bertelur pada hari kedua setelah menjadi lalat
dewasa dan meningkat hingga seminggu sampai betina meletakkan 50-75 telur
perhari dan mungkin maksimum 400-500 buah dalam 10 hari. Telurnya dilapisi oleh
dua lapisan, yaitu satu selaput vitellin tipis yang mengelilingi sitoplasma dan
suatu selaput tipis tapi kuat (Khorion) di bagian luar dan di anteriornya
terdapat dua tangkai.tipis. Korion mempunyai kulit bagian luar yang keras
dari telur tersebut.
tiga stadia instar : dari larva instar 1 ke instar II, dari
larva instar II ke instar III, dari instar III ke pupa, dan dari pupa ke imago.
Selama makan, larva membuat saluran-saluran di dalam medium,
dan jika terdapat banyak saluran maka pertumbuhan biakan dapat dikatakan
berlangsung baik. Larva yang dewasa biasanya merayap naik pada dinding botol
atau pada kertas tissue dalam botol. Dan disini larva akan melekatkan diri pada
tempat kering dengan cairan seperti lem yang dihasilkan oleh kelenjar ludah dan
kemudian membentuk pupa. Saat larva lalat membentuk
cangkang pupa, tubuhnya memendek, kutikula menjadi keras dan berpigmen, tanpa
kepala dan sayap disebut larva instar 4. Formasi pupa ditandai dengan
pembentukan kepala, bantalan sayap, dan kaki. Puparium (bentuk terluar pupa)
menggunakan kutikula pada instar ketiga. Pada stadium pupa ini, larva dalam
keadaan tidak aktif, dan dalam keadaan ini, larva berganti menjadi lalat dewasa
(Elzinga, 2004).
Struktur dewasa tampak jelas selama periode pupa pada bagian
kecil jaringan dorman yang sama seperti pada tahap embrio. Pembatasan jaringan
preadult (sebelum dewasa) disebut anlagen. Fungsi utama dari pupa adalah untuk
perkembangan luar dari anlagen ke bentuk dewasa. Dewasa pada Bactrocera
donsalis dalam satu siklus hidupnya berusia sekitar 9 hari. Setelah
keluar dari pupa, lalat buah warnanya masih pucat dan sayapnya belum
terbentang. Sementara itu, lalat betina akan kawin setelah berumur 8 jam dan
akan menyimpan sperma dalam jumlah yang sangat banyak dari lalat buah jantan.
Pada ujung anterior terdapat mikrophyle, tempat spermatozoa
masuk ke dalam telur. Walaupun banyak sperma yang masuk ke dalam mikrophyle
tapi hanya satu yang dapat berfertilisasi dengan pronuleus betina dan yang
lainnya segera berabsorpsi dalam perkembangan jaringan embrio (Pracaya. 2008).
3.2.4
Semut Rang-Rang-Oecophylla smaragdina
(Hymenoptera:Formicidae)
Siklus Hidup Semut
Rangrang dalam Membentuk Sebuah Koloni - Sebelum memulai budidaya semut
rangrang, maka sebaiknya kita mengetahui dulu proses hidup dan kehidupan semut
rangrang, agar kita memahami benar apa yang akan kita lakukan dalam melakukan
penangkaran secara modern menggunakan sarang toples pada rak budidaya di rumah.
Semut rangrang memiliki
daur hidup yang unik. Semut rangrang berkembang biak dengan cara bertelur tidak
melahirkan. Dari telur tersebut semut rangrang tidak langsung menetas menjadi
semut rangrang melainkan melalui siklus atau daur yang agak lama di dalam
koloni atau sarangnya, oleh karena itu semut rangrang harus bisa menjaga
koloninya selama proses siklus tersebut (Mourir, 1986).
Semut rangrang merupakan
hewan berjenis serangga yang sangat agresif karena harus melindungi sarangnya
yang di dalamnya terdapat anggota koloninya yang bermacam-macam dari serangan
musuhnya.
Kehidupan koloni semut
rangrang dimulai dari seekor ratu semut yang telah dikawini dan kemudian
bertelur sepanjang hidupnya untuk berkembang biak. Semut rangrang adalah hewan
yang merupakan serangga yang memiliki sifat sosial yang tinggi yang hidup di
pohon-pohon, baik di hutan, perkebunan, ataupun pemukiman di pedesaan (Oka, 1995).
Ratu semut rangrang
setelah dikawini oleh pejantan, kemudian akan bertelur guna membentuk sebuah
koloni baru dengan sarang baru pula. Telur semut rangrang atau kroto dari sang
ratu akan dirawat supaya berkembang menjadi larva dan pupa yang kemudian
menjadi semut rangrang sempurna.
Selain ratu, anggota
koloni semut rangrang lainnya adalah semut betina yang mandul yang bertugas
menjadi semut pekerja. Anggota koloni semut rangrang lainnya adalah semut
prajurit yang jumlahanya mencapai ratusan bahkan hingga ribuan.
Dalam mempertahankan
kehidupannya, semut rangrang hidup secara berkelompok dengan saling membantu.
Demikian juga dalam membuat sarangnya, semut rangrang menggunakan semacam
benang halus yang memiliki perekan layaknya lem yang digunakan untuk merajut
dedaunan menjadi sarang berbentuk ruangan (Kalshoven, 1981)
Semut rangrang sering
bersarang pada pohon yang tinggi dengan daun lebar dan lentur atau bersarang
pada pohon yang berdaun kecil tetapi jumlahnya banyak sehingga mudah
dijalin menjadi sarang.
Sarang baru yang dihuni
ratu akan memproduksi kroto besar-besaran untuk perkembangbiakan koloni
tersebut. Dalam bertelur, ratu dilindungi oleh para semut prajurit, sementara
semut pekerja bertugas mengumpulkan makanan untuk suplai sang ratu dalam
memproduksi kroto.
Dalam mengumpulkan
makanannya, semut rangrang memiliki kebiasaan unik, yaitu memelihara kutu atau
kepik hijau yang dapat mengeluarkan cairan manis sebagai makanan semut
rangrang. Cairan manis yang telah terkumpul akan dibawa ke dalam sarang sebagai
suguhan sang ratu.
3.2.5
Semut Hitam-Dolichoderus bituberculatus
(Hymenoptera:Formicidae)
Semut melalui proses
perkembangan bentuk tubuh yang berbeda-beda mulai dari telur sampai dewasa.
Proses perubahan bentuk ini disebut metamorfosis. Semut hitam D. thoracicus
termasuk serangga yang mengalami metamorfosis sempurna atau metamorfosis
holometabola. Siklus hidup semut adalah: telur, larva, pupa, dan imago atau
dewasa.
a. Telur
Telur semut berwarna
putih, berbentuk lonjong, panjangnya 1-1,5 milimeter, dan lama fase telur
adalah 14 hari. Telur diproduksi 10-20 hari setelah kopulasi antara ratu dan
semut jantan. Produksi telur semut hitam rata-rata 1.300 - 1.700 butir per
tahun. Telur-telur tersebut diletakkan di dalam sarangnya yang berada di
lubang-lubang pohon atau di balik dedaunan.
Telur-telur semut di
sarang dirawat oleh semut pekerja. Semut pekerja akan memindahkan telur dari
sarang jika kondisi sarang berubah lembab atau memburuk, dan mengembalikannya
ke dalam sarang jika keadaan sudah normal. Hal ini dilakukan untuk menghindari
infeksi cendawan dan gangguan dari luar seperti predator, semut antagonis, dan
lain-lain. Telur-telur dipindahkan ke ruangan-ruangan yang berbeda di dalam
sarang berdasarkan suhu di masing- masing ruangan tersebut dengan tujuan untuk
mempercepat waktu penetasan.
b. Larva
Telur-telur semut
selanjutnya akan menetas menjadi larva. Larva semut tampak seperti belatung,
berwarna putih, kepala terdiri atas 13 segmen, dan lama fase larva adalah 15
hari. Larva semut hitam mendapatkan pakan berupa cairan ludah dari kelenjar
saliva ratu, dari cadangan lemak otot terbang ratu, atau jika koloni sudah
memiliki pekerja maka diberi makan oleh pekerjanya.
Larva biasanya makan
sepanjang waktu karena mereka harus menyimpan energi yang cukup untuk memasuki
fase pupa. Para pekerja memberi makan larva dengan embun madu dan
serangga-serangga kecil atau jika makanan sulit didapatkan, larva akan memakan
telur yang tidak menetas.
Semut pekerja
memisahkan larva ke dalam kelompok-kelompok menurut ukuran tubuh dan umurnya.
Pekerja akan memberikan perhatian yang lebih apabila terdapat seekor individu
yang ukurannya besar, karena biasanya individu tersebut akan menjadi ratu atau
semut jantan. Pemisahan larva dalam kelompok- kelompok yang ukurannya sama menjamin
bahwa setiap larva akan mendapat perhatian dan makanan yang cukup.
c. Pupa
Larva semut kemudian
akan berubah menjadi pupa. Pupa semut hitam berwarna putih, tidak terbungkus
kokon seperti kebanyakan serangga yang lain, dan lama fase pupa adalah 14 hari.
Pada saat berbentuk pupa, semut hitam mengalami periode tidak makan atau
non-feeding periode.
d. Imago
Fase terakhir dalam
metamorfosis semut adalah imago. Imago berwarna hitam, organ-organ tubuh mulai
berfungsi, dan mulai terpisah menurut kastanya masing-masing. Koloni akan lebih
banyak menghasilkan pekerja daripada kasta- kasta yang lain pada awal-awal
terbentuknya koloni. Hal ini dilakukan untuk meringankan tugas ratu karena
sebagian besar aktivitas koloni akan dilaksanakan oleh pekerja. Lama siklus hidup
semut hitam sekitar 40 hari dan semut dapat bertahan hidup selama 2-3 tahun (Harahap dan Tjahyono, 1997)
Semut hitam
Dolichoderus thoracicus Smith merupakan spesies semut yang daerah penyebarannya
tersebar luas di Asia Tenggara, terutama di daerah dengan ketinggian kurang
dari 1.300 meter di atas permukaan laut. Semut hitam banyak dijumpai pada
tanaman jeruk, kakao, kopi, dan mangga (Kalshoven, 1981). Sarang semut hitam
biasanya berada di atas permukaan tanah (tumpukan seresah daun kering) dan juga
pelepah daun kelapa (jika kakao ditanam bersama dengan kelapa) atau di
tempat-tempat lain yang kering dan gelap serta tidak jauh dari sumber makanan.
Semut hitam D.
thoracicus biasanya keluar dari sarangnya pada waktu pagi dan sore hari ketika
suhu tidak terlalu panas. Semut akan menuju pucuk- pucuk tanaman untuk
mendapatkan cahaya matahari sambil menjalankan aktivitasnya. Akan tetapi pada
siang hari ketika suhu udara panas, semut akan bersembunyi pada tempat-tempat
yang terlindung dari sengatan sinar matahari secara langsung, seperti di dalam
sarang, di balik dedaunan, di tanah, dan lain-lain. Semut hitam D. thoracicus
termasuk dalam Ordo Hymenoptera (serangga bersayap bening) dan masuk dalam
Familia Formicidae. Menurut Kalshoven (1981), klasifikasi semut hitam D.
thoracicus adalah sebagai berikut :
Filum : Arthropoda
Kelas : Hexapoda
Ordo : Hymenoptera
Famili : Formicidae
Sub famili : Dolichoderinae
Genus : Dolichoderus
Spesies : Dolichoderus bituberculatus
Semut hitam
Dolichoderus thoracicus hidup dalam organisasi sosial yang terdiri dari
sejumlah individu dan membentuk suatu masyarakat yang disebut koloni. Koloni
semut terdiri dari kelompok-kelompok yang disebut kasta. Semut hitam terdiri
dari beberapa kasta, yaitu: ratu, pejantan, dan pekerja. Semut pekerja dibagi
dua, yaitu pekerja dan prajurit. Kasta-kasta semut mempunyai tugas yang
berbeda-beda, akan tetapi tetap saling berinteraksi dan bekerja sama demi
kelangsungan hidupnya.
a. Semut Ratu
Semut ratu memiliki
tubuh yang lebih besar daripada anggota koloni yang lain, panjangnya sekitar
4,9 milimeter, komponen-komponen mata berkembang dengan sempurna, dan memiliki
mekanisme terbang berupa sayap yang telah berkembang dengan baik sejak memasuki
fase imago. Dalam satu koloni biasanya terdapat lebih dari seekor ratu. Pada
setiap 100 - 200 semut pekerja biasanya terdapat seekor ratu (Kalshoven, 1981).
Semut ratu lebih banyak ditemukan pada musim penghujan daripada ketika kemarau.
Hal ini dikarenakan pada musim penghujan tersedia banyak sumber makanan dan
tanaman untuk membuat sarang sehingga mendukung untuk pertumbuhan koloninya.
b. Semut Jantan
Semut jantan ukuran
tubuhnya lebih kecil daripada ratu, berwarna kehitam-hitaman, memiliki antena
dan sayap seperti ratu, dan komponen- komponen mata telah berkembang sempurna.
Semut jantan jumlahnya lebih banyak daripada ratu, akan tetapi masa hidupnya
singkat. Semut jantan hanya diproduksi pada saat-saat tertentu dalam satu
tahun, yaitu pada musim kawin dan setelah melakukan perkawinan dengan ratu, semut
jantan biasanya akan mati.
c. Semut Pekerja
Semut pekerja mempunyai
ciri-ciri yang mudah dikenal, panjangnya 3,6 - 4,1 milimeter, kaki berwarna
cokelat, thoraks mereduksi, dan mekanisme terbangnya tidak pernah berkembang
(tidak memiliki sayap), abdomen bagian depan mengecil dengan satu atau dua
tonjolan ke arah dorsal, antena berwarna cokelat dan bertipe geniculate, yaitu
ruas pertama memanjang dan ruas berikutnya pendek-pendek membentuk sudut dengan
ruas yang pertama.
d. Semut Prajurit
Semut pekerja
berbeda-beda ukuran tubuhnya. Generasi pekerja dari telur ratu yang pertama
kali membangun sarang ukuran tubuhnya lebih kecil dibandingkan dengan pekerja
yang dilahirkan sesudah itu. Dalam hal ini muncul 2 kasta pekerja yang berbeda,
yang memiliki ukuran tubuh besar disebut prajurit dan yang ukurannya kecil
menjadi pekerja. Semut prajurit memiliki kepala yang besar, terdiri dari bahan
kitin yang kokoh dan rahang atas mandibula yang kuat. Tugas prajurit adalah
berkelahi dan melindungi sarang. Selain itu semut prajurit juga membantu pekerja
yang tubuhnya kecil-kecil mengangkut makanan ke dalam sarang.
IV.
KESIMPULAN
Setelah melakukan praktikum ini, maka
dapat disimpulkan:
1.
Spesies serangga sebagai hama dan
msusuh alami terdiri dari beberapa ordo dan family.
2.
Cir-ciri serangga tiap ordo berbeda
dan dapat diamati secara morfologi dan fisiologinya.
3.
Beberapa serangga dapat menjadi hama
dan menjadi musuh alami pada budidaya tanaman.
4.
Keberadaan serangga terhadap budidaya
pertanian dapat menguntungkan jika jumlahnya masih terkendali.
5.
Tanaman atau bagian tanaman yang
terkena serangan hama akan menunjukan gejala dan tanda.
DAFTAR
PUSTAKA
Borror, D.J.,
Triplehom, C.A. and N.F. Johnson. 1996. Pengenalan Pelajaran Serangga. Edisi
VI. UGM press. Yogyakarta.
Elzinga RJ. 2004. Fundamentals of Entomology 6th
Edition. New Jersey: PerasonEducation Inc.
Harahap dan Tjahyono, 1997. Hama dan Penyakit Utama Padi di Lahan Pasang Surut. Monograf.
Kalshoven,
L.G.E. 1981. Pest of Crop in Indonesia. PT. Ichtiar Baru.
Jakarta.
Matnawy, H.
1991. Perlindungan Tanaman. Kanisius. Yogyakarta.
Mourir, H., 1986. Notes on the life history of Labia
minor (L.) (Dermaptera), a potential predator of housefly eggs and larvae
(Diptera, Musca domestica L.). Entomol Medd 53:143.
Oka, I.N.
1995. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Gajah
Mada University Press. Yogyakarta.
Pracaya. 2008. Hama
dan Penyakit Tanaman. Jakarta: Penebar Swadaya.
Pracaya. 2010. Hama
dan Penyakit Tanaman Jilid 2. Jakarta: Penebar Swadaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar