Kamis, 01 Desember 2016

Pengenalan Ordo serangga sebagai hama dan musuh alami



PENGENALAN BEBERAPA ORDO SERANGGA
SEBAGAI HAMA DAN MUSUH ALAMI
 (Praktikum Bioekologi Hama Tumbuhan)







Oleh
Irvan Saputra
1414121114
Kelompok 10







JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015




I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pertanian merupakan sektor yang sangat vital dalam keberadaannya untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. Selain itu juga menjadi sumber penghasilan utama bagi golongan petani maupun pelaku industry di bidang pertanian. Oleh karena itu diperlukan suatu cara untuk menjaga hasil produksi pertanian tetap stabil bahkan bisa untuk ditingkatkan lagi. Salah satu faktor yang menghambat produksi pertanian yaitu karena serangan hama.

Hama merupakan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang dapat merugikan usahatani secara luas. OPT termasuk hama dan gulma, tetapi dalam arti sempit hama dikhususkan sebagai serangga yang dapat merusak tanaman yang menyebabkan turunnya produksi pertanian sehingga dapat merugikan petani atau pellaku industri pertanian. Hemiptera, odonata dan dermaptera merupakan ordo dari kelas insect. Dalam pertanian ordo-ordo tersebut berperan sebagai herbivora, omnivora, predator dan pemakan bangkai. Namun peran sebagai herbivora lebih dominan sehingga dapat merusak tanaman. Akan tetapi pada ordo odonata biasanya sebagai predator pada hama tanaman tertentu.

Dari uraian diatas maka pada praktikum ini dilakukan pengamatan serta pengenalan beberapa spesies serangga dari beberapa ordo yang dapat berperan sebagai hama pada budidaya tanaman pangan, perkebunan, dan hortikultura. Setelah melalkuakn praktikum ini diharapkan dapat mengetahui dan memahami masing-masing ordo serangga sebagai hama dan musuh alami. Sehingga dapat meningkatkan hasil dari budidaya tanaman tersebut.



1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.       Mengetahui beberapa spesies serangga sebagai hama dan musuh alami.
2.       Mengetahui ciri-ciri dari spesies serangga hama dan serangaa sebagai musuh alami.
3.       Mengetahui peranan beberapa spesies serangga sebagai musuh alami.







II. METODOLOGI PRAKTIKUM



2.1 Alat dan Bahan
Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.      Pena,
2.      Buku tulis,
3.      Kertas A4,
4.      Handphone,
5.      Mikroskop.
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah:
1. Awetan serangga dalam cawan petri.

2.2 Cara Kerja
Adapun cara kerja dari praktikum kali ini diantaranya sebagai berikut.
1.      Praktikan diharapkan menuju ke kelompok kerja masing-masing. Hendaknya dilakukan kerja sama dan selalu mendiskuksikan substansi praktikum dalam suasana cooperative learning.
2.      Praktikan mendengarkan dan mencatat para asisten memberikan penjelasan dan pemahaman mengenai serangga sebagai hama dan musuh alami.
3.      Praktikan memperhatikan dan mencatat segala penjelasan yang diberikan asisten praktikum. Asisten memberikan arahan pada masing-masing kelompok untuk mengamati dengan seksama dan menggambarnya dengan sebaik mungkin. Kemudian dibahas dan didiskuksikan dalam kelompok kerja atau kelompok praktikum.


III. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan pada percobaan ini adalah sebagai berikut:
No
Nama
Foto
Gambar
1.
Kumbang BadakOrdo : Coleoptera
Family : Scarabaidae
Spesises : Oryctes rhynoceros

2.
Hypothenemus hampei
Ordo : Coleoptera
Family : Curculionidae
Spesies : Hypothenemus hampei

3.
Lalat Buah
Ordo : Diptera
Family : Tephritidae
Spesies : Bactrocera donsalis

4.
Semut Rang-Rang-Oecophylla smaragdina
(Hymenoptera:Formicidae)
Ordo : Hymenoptera
Family : Formicidae
Spesies : Oecophylla smaragdina

 

5.
Semut Hitam
Ordo : Hymenoptera
Family : Formicidae
Spesies : Dolichoderus bituberculatus



 
3.2 Pembahasan

3.2.1 Kumbang Badak-Oryctes rhynoceros
         (Coleoptera:Scarabaidae)
Kumbang badak merupakan salah satu jenis kumbang terbesar di dunia dan adalah hewan nokturnal (aktif di malam hari). Saat siang, mereka bersembunyi di bawah batang pohon untuk menghindari predator. Secara proporsional, kumbang badak adalah hewan terkuat di bumi. Mereka bisa mengangkat hingga 850 kali berat badan mereka sendiri. Kumbang badak merupakan salah satu dari 300 spesies kumbang tanduk. Kumbang ini merupakan hama utama yang menyerang kelapa sawit dan sangat merugikan di Indonesia, khususnya di areal replanting yang saat ini sedang dilakukan secara besar-besaran di Indonesia. Hal ini disebabkan karena pada areal replanting, banyak tumpukan bahan organik yang sedang mengalami proses pembusukan sehingga menjadi tempat yang sangat baik bagi perkembang biakan hama ini.
Siklus Hidup
Siklus hidup kumbang badak bervariasi tergantung pada habitat dan kondisi lingkungannya. Musim kemarau yang panjang dengan jumlah makanan yang sedikit akan memperlambat perkembangan larva serta ukuran kumbang dewasa menjadi lebih kecil dari ukuran normal. Suhu perkembangan larva yang sesuai adalah 27oC-29oC dengan kelembapan relatif 85-95%. Satu siklus hidup kumbang badak, dari telur sampai dewasa sekitar 6-9 bulan (Borror, 1996)
Kumbang ini mempunyai telur yang berwarna putih kekuningan dengan diameter 3 mm. Bentuk telur biasanya oval, kemudian mulai membesar sekitar satu minggu setelah peletakan dan menetas pada umur 8-12 hari. Stadia larva terdiri atas 3 instar, dan berlangsung dalam waktu 82-207 hari.Larva berwarna putih kekuningan, berbentuk silinder, gemuk dan berkerut-kerut, melengkung membentuk setengah lingkaran dengan panjang sekitar 60-100 mm atau lebih.
Prepupa terlihat menyerupai larva, hanya saja lebih kecil dari larva instar terakhir dan menjadi berkerut serta aktif bergerak ketika diganggu. Lama stadia prepupa berlangsung 8-13 hari. Pupa berwarna cokelat kekuningan, berukuran sampai 50 mm dengan waktu 17-28 hari.
Kumbang badak berwarna cokelat gelap sampai hitam, mengkilap, panjang 35-115 mm dan lebar 20-23 mm dengan satu tanduk yang menonjol pada bagian kepala. Jantan memiliki tanduk yang lebih panjang dari betina sedangkan betina mempunyai banyak rambut pada ujung ruas terakhir abdomen dan jantan tidak. Umur betina (bisa mencapai 2 tahun) lebih panjang dari umur jantan (sekitar 8 bulan).
Kumbang ini akan meletakkan telurnya pada sisa-sisa bahan organik yang telah melapuk. Misalnya batang kelapa sawit yang masih berdiri dan telah melapuk, rumpukan batang kelapa sawit, batang kelapa sawit yang telah dicacah, serbuk gergaji, tunggul-tunggul karet serta tumpukan tandan kosong kelapa sawit. Adanya tanaman kacangan penutup tanah akan menghalangi pergerakan kumbang dalam menemukan tempat berkembang biak. Selain itu tanaman penutup tanah setinggi 0,6-0,8 m juga dapat mengurangi perkembangbiakan kumbang tanduk.
Batang kelapa sawit yang diracun dan masih berdiri sampai pembusukan pada sistem underplanting merupakan tempat berkembangbiak yang paling baik bagi kumbang badak. Selama lebih dari 2 tahun masa dekomposisi, batang kelapa sawit yang masih berdiri, dapat memberikan perkembangbiakan 39.000 larva perhektar dibandingkan dengan batang yang telah dicacah dan dibakar (500 larva perhektar.
Seperti telah disebutkan di atas, kumbang badak merupakan salah satu hama tanaman kelapa sawit yang utama. Kumbang O. rhinocerosmenyerang tanaman kelapa sawit yang baru ditanam di lapangan sampai berumur 2,5 tahun. Kumbang ini jarang sekali dijumpai menyerang kelapa sawit yang sudah menghasilkan (TM). Namun demikian, dengan dilakukannya pemberian mulsa tandan kosong kelapa sawit (TKS) yang lebih dari satu lapis, maka masalah hama ini sekarang juga dijumpai pada areal TM.
Pada areal replanting kelapa sawit, serangan kumbang dapat mengakibatkan tertundanya masa berproduksi sampai satu tahun, dan tanaman yang mati dapat mencapai 25%. Masalah kumbang tanduk saat ini semakin bertambah dengan adanya aplikasi tandan kosong kelapa sawit pada gawangan maupun pada sistem lubang tanam besar. Aplikasi mulsa tandan kosong sawit (TKS) yang kurang tepat, dapat mengakibatkan timbulnya masalah kumbang tanduk di areal kelapa sawit tua. Sebagai hewan nocturnal, kumbang badak terbang dari tempat persembunyiannya menjelang senja sampai malam. Dari pengalaman diketahui bahwa kumbang banyak menyerang kelapa pada malam sebelum turun hujan.
Makanan kumbang dewasa adalah tajuk tanaman, dengan menggerek melalui pangkal batang sampai pada titik tumbuh. Daun yang telah membuka akan memperlihatkan bentuk seperti huruf V terbalik atau karakteristik potongan serrate. Serangan yang berkali-kali pada tanaman dapat menyebabkan kematian dan menjadi rentan masuknya kumbang badak juga bakteri ataupun jamur, sehingga terjadi pembusukan yang berkelanjutan. Dalam keadaan seperti ini tanaman mungkin menjadi mati atau terus hidup tetapi pertumbuhan dan saat berproduksi akan terhambat.

3.2.2 Hypothenemus hampei
        (Coleoptera:Curculionidae)

Penggerek buah kopi (PBKo) sangat merugikan, karena mampu merusak biji kopi dan sering mencapai populasi yang tinggi. Umumnya, hanya serangga betina yang sudah kawin akan menggerek buah kopi; biasanya masuk ke dalam buah dengan membuat lubang kecil pada ujung buah. Kumbang betina menyerang buah kopi dari mulai buah sedang terbentuk (8minggu setelah berbunga) sampai waktu panen. Buah yang sudah tua paling disukai.

Kumbang dan larva PBKo menyerang buah kopi yang sudah cukup kerasdengan cara membuat liang gerekan dan hidup di dalamnya sehingga menimbulkan kerusakan yang cukup parah. Hama ini tidak hanya menyerang buah kopi di kebun, tetapi juga menyerang buah di penyimpanan. Selain hidup dalam buah kopi, hama ini juga menyerang tanaman Tephrosia, Crotalaria,Caesalpinia, dan Leucaena glauca yang sering digunakan sebagai tanaman penaung/penutup tanah. Penggerek buah kopi merupakan kumbang berukuran 0,7 – 1,7 mm, berbadan bulat dengan kepala berbentuk segi tiga yang ditutupi oleh rambutrambut halus. Kumbang ini biasanya akan bertelur dalam lubang gerekan. Telurnya menetas dalam waktu sekitar 4 hari, lalu berubah menjadi larva berwarna putih dan bermulut cokelat (Pracaya. 2010). 

Kumbang betina menggerek ke dalam biji kopi dan bertelur sekitar 31 – 50
butir. Siklus hidupnya dimulai dari telur, larva, pupa, dan dewasa. Setelah 4
hari telur menetas menjadi larva yang menggerek biji kopi. 15 hari kemudian
larva berubah menjadi kepompong (pupa) di dalam biji. Setelah 7 hari
kepompong berubah menjadi serangga dewasa. Kumbang jantan dan
kumbang betina kawin di dalam buah kopi, kumbang jantan dapat hidup
dalam waktu 20 – 87 hari dan kumbang betina dapat bertahan hidup dalam
waktu 157 hari. Kemudian kumbang betina terbang untuk menggerek buah
yang lainnya. Kumbang jantan tidak bisa terbang sehingga sepanjang hidupnya tetap berada di dalam buah.

Pada umumnya PBKo menyerang buah dengan endosperma yang telah
mengeras, namun buah yang belum mengeras dapat juga diserang. Buah kopi
yang bijinya masih lunak umumnya hanya digerek untuk mendapatkan makanan
dan selanjutnya ditinggalkan. Buah demikian tidak berkembang, warnanya
berubah menjadi kuning kemerahan dan akhirnya gugur. Serangan pada buah
yang bijinya telah mengeras akan berakibat penurunan mutu kopi karena biji
berlubang. Biji kopi yang cacat sangat berpengaruh negatif terhadap susunan
senyawa kimianya, terutama pada kafein dan gula pereduksi. Biji berlubang
merupakan salah satu penyebab utama kerusakan mutu kimia, sedangkan citarasa kopi dipengaruhi oleh kombinasi komponen-komponen senyawa kimia yang
terkandung dalam biji.

PBKo mengarahkan serangan pertamanya pada bagian kebun kopi yang
bernaungan, lebih lembab atau di perbatasan kebun. Jika tidak dikendalikan, serangan dapat menyebar ke seluruh kebun.  Betina berkembang biak pada buah kopi  hijau yang sudah matang sampai merah, biasanya membuat lubang dari ujung dan meletakkan telur pada buah. Kumbang betina terbang dari satu pohon ke pohon yang lain untuk meletakkan telur. Ketika telur menetas, larva akan memakan isi buah sehingga menyebabkan menurunnya mutu kopi. PBKo masuk ke dalam buah kopi dengan cara membuat lubang di sekitar diskus. Serangan pada buah muda menyebabkan gugur buah. Serangan pada buah yang cukup tua menyebabkan biji kopi cacat berlubang-lubang dan bermutu rendah. PBKo diketahui makan dan berkembang biak hanya di dalam buah kopi saja. Kumbang betina masuk ke dalam buah kopi dengan membuat lubang dari ujung buah dan berkembang biak dalam buah (Matnawy, 1991).

3.2.3 Lalat Buah-Bactrocera donsalis
         (Diptera:Tephritidae)

Lalat buah dan Artrophoda lainnya mempunyai kontruksi modular, suatu seri segmen yang teratur. segmen ini menyusun tiga bagian tubuh utama, ayitu; kepala, thoraks, dan abdomen. seperti hewan simetris bilateral lainnya, lalat  ini mempunyai poros anterior dan posterior (kepala-ekor) dan poros dorsoventral (punggung-perut). Pada Drosophila, determinan sitoplasmik yang sudah ada di dalam telur memberi informasi posisional untuk penempatan kedua poros ini bahkan sebelum fertilisasi. setelah fertilisasi, informasi dengan benar dan akhirnya akan memicu struktur yang khas dari setiap segmen. Perkembangan dimulai segera setelah terjadi fertilisasi, yang terdiri dari dua periode. Pertama, periode embrionik di dalam telur pada saat fertilisasi sampai pada saat larva muda menetas dari telur dan ini terjadi dalam waktu kurang lebih 24 jam. Dan pada saat seperti ini, larva tidak berhenti-berhenti untuk makan.

Periode kedua adalah periode setelah menetas dari telur dan disebut perkembangan postembrionik yang dibagi menjadi tiga tahap, yaitu larva, pupa, dan imago (fase seksual dengan perkembangan pada sayap). Formasi lainnya pada perkembangan secara seksual terjadi pada saat dewasa. Telur lalat berbentuk benda kecil bulat panjang dan biasanya diletakkan di permukaan makanan. Betina dewasa mulai bertelur pada hari kedua setelah menjadi lalat dewasa dan meningkat hingga seminggu sampai betina meletakkan 50-75 telur perhari dan mungkin maksimum 400-500 buah dalam 10 hari. Telurnya dilapisi oleh dua lapisan, yaitu satu selaput vitellin tipis yang mengelilingi sitoplasma dan suatu selaput tipis tapi kuat (Khorion) di bagian luar dan di anteriornya terdapat dua tangkai.tipis. Korion mempunyai kulit bagian luar yang keras dari telur tersebut.

Larva lalat berwarna putih, bersegmen, berbentuk seperti cacing, dan menggali dengan mulut berwarna hitam di dekat kepala. Untuk pernafasan pada trakea, terdapat sepasang spirakel yang keduanya berada pada ujung anterior dan posterior. Saat kutikula tidak lunak lagi, larva muda secara periodik berganti kulit untuk mencapai ukuran dewasa. Kutikula lama dibuang dan integumen baru diperluas dengan kecepatan makan yang tinggi. Selama periode pergantian kulit, larva disebut instar. Instar pertama adalah larva sesudah menetas sampai pergantian kulit pertama. Dan indikasi instar adalah ukuran larva dan jumlah gigi pada mulut hitamnya. Sesudah pergantian kulit yang kedua, larva (instar ketiga) makan hingga siap untuk membentuk pupa. Pada tahap terakhir, larva instar ketiga merayap ke atas permukaan medium makanan ke tempat yang kering dan berhenti bergerak. Dan jika dapat diringkas, pada Drosophila, destruksi sel-sel larva terjadi pada prose pergantian kulit (molting) yang berlangsung empat kali dengan
tiga stadia instar : dari larva instar 1 ke instar II, dari larva instar II ke instar III, dari instar III ke pupa, dan dari pupa ke imago.

Selama makan, larva membuat saluran-saluran di dalam medium, dan jika terdapat banyak saluran maka pertumbuhan biakan dapat dikatakan berlangsung baik. Larva yang dewasa biasanya merayap naik pada dinding botol atau pada kertas tissue dalam botol. Dan disini larva akan melekatkan diri pada tempat kering dengan cairan seperti lem yang dihasilkan oleh kelenjar ludah dan kemudian membentuk pupa. Saat larva lalat membentuk cangkang pupa, tubuhnya memendek, kutikula menjadi keras dan berpigmen, tanpa kepala dan sayap disebut larva instar 4. Formasi pupa ditandai dengan pembentukan kepala, bantalan sayap, dan kaki. Puparium (bentuk terluar pupa) menggunakan kutikula pada instar ketiga. Pada stadium pupa ini, larva dalam keadaan tidak aktif, dan dalam keadaan ini, larva berganti menjadi lalat dewasa (Elzinga, 2004). 

Struktur dewasa tampak jelas selama periode pupa pada bagian kecil jaringan dorman yang sama seperti pada tahap embrio. Pembatasan jaringan preadult (sebelum dewasa) disebut anlagen. Fungsi utama dari pupa adalah untuk perkembangan luar dari anlagen ke bentuk dewasa. Dewasa pada Bactrocera donsalis dalam satu siklus hidupnya berusia sekitar 9 hari. Setelah keluar dari pupa, lalat buah warnanya masih pucat dan sayapnya belum terbentang. Sementara itu, lalat betina akan kawin setelah berumur 8 jam dan akan menyimpan sperma dalam jumlah yang sangat banyak dari lalat buah jantan. Pada ujung anterior terdapat mikrophyle, tempat spermatozoa masuk ke dalam telur. Walaupun banyak sperma yang masuk ke dalam mikrophyle tapi hanya satu yang dapat berfertilisasi dengan pronuleus betina dan yang lainnya segera berabsorpsi dalam perkembangan jaringan embrio (Pracaya. 2008). 


3.2.4 Semut Rang-Rang-Oecophylla smaragdina
         (Hymenoptera:Formicidae)

Siklus Hidup Semut Rangrang dalam Membentuk Sebuah Koloni - Sebelum memulai budidaya semut rangrang, maka sebaiknya kita mengetahui dulu proses hidup dan kehidupan semut rangrang, agar kita memahami benar apa yang akan kita lakukan dalam melakukan penangkaran secara modern menggunakan sarang toples pada rak budidaya di rumah.
Semut rangrang memiliki daur hidup yang unik. Semut rangrang berkembang biak dengan cara bertelur tidak melahirkan. Dari telur tersebut semut rangrang tidak langsung menetas menjadi semut rangrang melainkan melalui siklus atau daur yang agak lama di dalam koloni atau sarangnya, oleh karena itu semut rangrang harus bisa menjaga koloninya selama proses siklus tersebut (Mourir, 1986). 
Semut rangrang merupakan hewan berjenis serangga yang sangat agresif karena harus melindungi sarangnya yang di dalamnya terdapat anggota koloninya yang bermacam-macam dari serangan musuhnya.
Kehidupan koloni semut rangrang dimulai dari seekor ratu semut yang telah dikawini dan kemudian bertelur sepanjang hidupnya untuk berkembang biak. Semut rangrang adalah hewan yang merupakan serangga yang memiliki sifat sosial yang tinggi yang hidup di pohon-pohon, baik di hutan, perkebunan, ataupun pemukiman di pedesaan (Oka, 1995)
Ratu semut rangrang setelah dikawini oleh pejantan, kemudian akan bertelur guna membentuk sebuah koloni baru dengan sarang baru pula. Telur semut rangrang atau kroto dari sang ratu akan dirawat supaya berkembang menjadi larva dan pupa yang kemudian menjadi semut rangrang sempurna.
Selain ratu, anggota koloni semut rangrang lainnya adalah semut betina yang mandul yang bertugas menjadi semut pekerja. Anggota koloni semut rangrang lainnya adalah semut prajurit yang jumlahanya mencapai ratusan bahkan hingga ribuan.
Dalam mempertahankan kehidupannya, semut rangrang hidup secara berkelompok dengan saling membantu. Demikian juga dalam membuat sarangnya, semut rangrang menggunakan semacam benang halus yang memiliki perekan layaknya lem yang digunakan untuk merajut dedaunan menjadi sarang berbentuk ruangan (Kalshoven, 1981)
Semut rangrang sering bersarang pada pohon yang tinggi dengan daun lebar dan lentur atau bersarang pada pohon yang berdaun kecil  tetapi jumlahnya banyak sehingga mudah dijalin menjadi sarang.
Sarang baru yang dihuni ratu akan memproduksi kroto besar-besaran untuk perkembangbiakan koloni tersebut. Dalam bertelur, ratu dilindungi oleh para semut prajurit, sementara semut pekerja bertugas mengumpulkan makanan untuk suplai sang ratu dalam memproduksi kroto.
Dalam mengumpulkan makanannya, semut rangrang memiliki kebiasaan unik, yaitu memelihara kutu atau kepik hijau yang dapat mengeluarkan cairan manis sebagai makanan semut rangrang. Cairan manis yang telah terkumpul akan dibawa ke dalam sarang sebagai suguhan sang ratu. 


3.2.5 Semut Hitam-Dolichoderus bituberculatus
         (Hymenoptera:Formicidae)

Semut melalui proses perkembangan bentuk tubuh yang berbeda-beda mulai dari telur sampai dewasa. Proses perubahan bentuk ini disebut metamorfosis. Semut hitam D. thoracicus termasuk serangga yang mengalami metamorfosis sempurna atau metamorfosis holometabola. Siklus hidup semut adalah: telur, larva, pupa, dan imago atau dewasa.
a. Telur
Telur semut berwarna putih, berbentuk lonjong, panjangnya 1-1,5 milimeter, dan lama fase telur adalah 14 hari. Telur diproduksi 10-20 hari setelah kopulasi antara ratu dan semut jantan. Produksi telur semut hitam rata-rata 1.300 - 1.700 butir per tahun. Telur-telur tersebut diletakkan di dalam sarangnya yang berada di lubang-lubang pohon atau di balik dedaunan.
Telur-telur semut di sarang dirawat oleh semut pekerja. Semut pekerja akan memindahkan telur dari sarang jika kondisi sarang berubah lembab atau memburuk, dan mengembalikannya ke dalam sarang jika keadaan sudah normal. Hal ini dilakukan untuk menghindari infeksi cendawan dan gangguan dari luar seperti predator, semut antagonis, dan lain-lain. Telur-telur dipindahkan ke ruangan-ruangan yang berbeda di dalam sarang berdasarkan suhu di masing- masing ruangan tersebut dengan tujuan untuk mempercepat waktu penetasan.
b. Larva
Telur-telur semut selanjutnya akan menetas menjadi larva. Larva semut tampak seperti belatung, berwarna putih, kepala terdiri atas 13 segmen, dan lama fase larva adalah 15 hari. Larva semut hitam mendapatkan pakan berupa cairan ludah dari kelenjar saliva ratu, dari cadangan lemak otot terbang ratu, atau jika koloni sudah memiliki pekerja maka diberi makan oleh pekerjanya.
Larva biasanya makan sepanjang waktu karena mereka harus menyimpan energi yang cukup untuk memasuki fase pupa. Para pekerja memberi makan larva dengan embun madu dan serangga-serangga kecil atau jika makanan sulit didapatkan, larva akan memakan telur yang tidak menetas.
Semut pekerja memisahkan larva ke dalam kelompok-kelompok menurut ukuran tubuh dan umurnya. Pekerja akan memberikan perhatian yang lebih apabila terdapat seekor individu yang ukurannya besar, karena biasanya individu tersebut akan menjadi ratu atau semut jantan. Pemisahan larva dalam kelompok- kelompok yang ukurannya sama menjamin bahwa setiap larva akan mendapat perhatian dan makanan yang cukup.
c. Pupa
Larva semut kemudian akan berubah menjadi pupa. Pupa semut hitam berwarna putih, tidak terbungkus kokon seperti kebanyakan serangga yang lain, dan lama fase pupa adalah 14 hari. Pada saat berbentuk pupa, semut hitam mengalami periode tidak makan atau non-feeding periode.
d. Imago
Fase terakhir dalam metamorfosis semut adalah imago. Imago berwarna hitam, organ-organ tubuh mulai berfungsi, dan mulai terpisah menurut kastanya masing-masing. Koloni akan lebih banyak menghasilkan pekerja daripada kasta- kasta yang lain pada awal-awal terbentuknya koloni. Hal ini dilakukan untuk meringankan tugas ratu karena sebagian besar aktivitas koloni akan dilaksanakan oleh pekerja. Lama siklus hidup semut hitam sekitar 40 hari dan semut dapat bertahan hidup selama 2-3 tahun (Harahap dan Tjahyono, 1997)
Semut hitam Dolichoderus thoracicus Smith merupakan spesies semut yang daerah penyebarannya tersebar luas di Asia Tenggara, terutama di daerah dengan ketinggian kurang dari 1.300 meter di atas permukaan laut. Semut hitam banyak dijumpai pada tanaman jeruk, kakao, kopi, dan mangga (Kalshoven, 1981). Sarang semut hitam biasanya berada di atas permukaan tanah (tumpukan seresah daun kering) dan juga pelepah daun kelapa (jika kakao ditanam bersama dengan kelapa) atau di tempat-tempat lain yang kering dan gelap serta tidak jauh dari sumber makanan.
Semut hitam D. thoracicus biasanya keluar dari sarangnya pada waktu pagi dan sore hari ketika suhu tidak terlalu panas. Semut akan menuju pucuk- pucuk tanaman untuk mendapatkan cahaya matahari sambil menjalankan aktivitasnya. Akan tetapi pada siang hari ketika suhu udara panas, semut akan bersembunyi pada tempat-tempat yang terlindung dari sengatan sinar matahari secara langsung, seperti di dalam sarang, di balik dedaunan, di tanah, dan lain-lain. Semut hitam D. thoracicus termasuk dalam Ordo Hymenoptera (serangga bersayap bening) dan masuk dalam Familia Formicidae. Menurut Kalshoven (1981), klasifikasi semut hitam D. thoracicus adalah sebagai berikut :
Filum : Arthropoda
Kelas : Hexapoda
Ordo : Hymenoptera
Famili : Formicidae
Sub famili : Dolichoderinae
Genus : Dolichoderus
Spesies : Dolichoderus bituberculatus
Semut hitam Dolichoderus thoracicus hidup dalam organisasi sosial yang terdiri dari sejumlah individu dan membentuk suatu masyarakat yang disebut koloni. Koloni semut terdiri dari kelompok-kelompok yang disebut kasta. Semut hitam terdiri dari beberapa kasta, yaitu: ratu, pejantan, dan pekerja. Semut pekerja dibagi dua, yaitu pekerja dan prajurit. Kasta-kasta semut mempunyai tugas yang berbeda-beda, akan tetapi tetap saling berinteraksi dan bekerja sama demi kelangsungan hidupnya.
a. Semut Ratu
Semut ratu memiliki tubuh yang lebih besar daripada anggota koloni yang lain, panjangnya sekitar 4,9 milimeter, komponen-komponen mata berkembang dengan sempurna, dan memiliki mekanisme terbang berupa sayap yang telah berkembang dengan baik sejak memasuki fase imago. Dalam satu koloni biasanya terdapat lebih dari seekor ratu. Pada setiap 100 - 200 semut pekerja biasanya terdapat seekor ratu (Kalshoven, 1981). Semut ratu lebih banyak ditemukan pada musim penghujan daripada ketika kemarau. Hal ini dikarenakan pada musim penghujan tersedia banyak sumber makanan dan tanaman untuk membuat sarang sehingga mendukung untuk pertumbuhan koloninya.
b. Semut Jantan
Semut jantan ukuran tubuhnya lebih kecil daripada ratu, berwarna kehitam-hitaman, memiliki antena dan sayap seperti ratu, dan komponen- komponen mata telah berkembang sempurna. Semut jantan jumlahnya lebih banyak daripada ratu, akan tetapi masa hidupnya singkat. Semut jantan hanya diproduksi pada saat-saat tertentu dalam satu tahun, yaitu pada musim kawin dan setelah melakukan perkawinan dengan ratu, semut jantan biasanya akan mati.
c. Semut Pekerja
Semut pekerja mempunyai ciri-ciri yang mudah dikenal, panjangnya 3,6 - 4,1 milimeter, kaki berwarna cokelat, thoraks mereduksi, dan mekanisme terbangnya tidak pernah berkembang (tidak memiliki sayap), abdomen bagian depan mengecil dengan satu atau dua tonjolan ke arah dorsal, antena berwarna cokelat dan bertipe geniculate, yaitu ruas pertama memanjang dan ruas berikutnya pendek-pendek membentuk sudut dengan ruas yang pertama.
d. Semut Prajurit
Semut pekerja berbeda-beda ukuran tubuhnya. Generasi pekerja dari telur ratu yang pertama kali membangun sarang ukuran tubuhnya lebih kecil dibandingkan dengan pekerja yang dilahirkan sesudah itu. Dalam hal ini muncul 2 kasta pekerja yang berbeda, yang memiliki ukuran tubuh besar disebut prajurit dan yang ukurannya kecil menjadi pekerja. Semut prajurit memiliki kepala yang besar, terdiri dari bahan kitin yang kokoh dan rahang atas mandibula yang kuat. Tugas prajurit adalah berkelahi dan melindungi sarang. Selain itu semut prajurit juga membantu pekerja yang tubuhnya kecil-kecil mengangkut makanan ke dalam sarang.


IV. KESIMPULAN
                                                  
Setelah melakukan praktikum ini, maka dapat disimpulkan:
1.      Spesies serangga sebagai hama dan msusuh alami terdiri dari beberapa ordo dan family.
2.      Cir-ciri serangga tiap ordo berbeda dan dapat diamati secara morfologi dan fisiologinya.
3.      Beberapa serangga dapat menjadi hama dan menjadi musuh alami pada budidaya tanaman.
4.      Keberadaan serangga terhadap budidaya pertanian dapat menguntungkan jika jumlahnya masih terkendali.
5.      Tanaman atau bagian tanaman yang terkena serangan hama akan menunjukan gejala dan tanda.



DAFTAR PUSTAKA

Borror, D.J., Triplehom, C.A. and N.F. Johnson. 1996. Pengenalan Pelajaran Serangga. Edisi VI. UGM press. Yogyakarta.
Elzinga RJ. 2004. Fundamentals of Entomology 6th Edition. New Jersey: PerasonEducation Inc.

Harahap dan Tjahyono, 1997. Hama dan Penyakit Utama Padi di Lahan Pasang Surut. Monograf.
Kalshoven, L.G.E. 1981. Pest of Crop in Indonesia. PT. Ichtiar Baru. Jakarta.
Matnawy, H. 1991. Perlindungan Tanaman. Kanisius. Yogyakarta.
Mourir, H., 1986. Notes on the life history of Labia minor (L.) (Dermaptera), a potential predator of housefly eggs and larvae (Diptera, Musca domestica L.). Entomol Medd 53:143.
Oka, I.N. 1995. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Pracaya. 2008. Hama dan Penyakit Tanaman. Jakarta: Penebar Swadaya.
Pracaya. 2010. Hama dan Penyakit Tanaman Jilid 2. Jakarta: Penebar Swadaya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar